Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Ingin Tidur Bersama Bintang


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Dokter tersenyum tipis mendengar pertanyaan Bulan, dokter keluarga Wiratama itu tahu bagaimana keadaan Bintang selama ini.


"Keadaannya baik-baik saja Nona, tidak ada tulang yang patah. Tetapi memar dalam tubuhnya cukup parah sehingga harus di bantu duapuluh empat jam untuk melakukan aktivitas sehari-hari." Jelas sang dokter.


Bintang mengangguk dan menatap tajam ke arah Papanya, Doni yang merasa di tatap oleh Bintang hanya menaikkan kedua bahunya.


"Akan saya resepkan obat, vitamin, dan beberapa salep untuk pasien." Ucap dokter lagi.


Setelah menerima resep dari dokter dan kepergian tenaga medis yang lainnya. Segera Rex keluar ke apotik untuk membeli obat-obat Jackson.


Kini di kamar tinggal keluarga inti Wiratama kurang Putri, karena wanita hamil itu tengah menyiksa suaminya di kediaman Gandratama.


"Papa akan menyuruh asistennya untuk memindahkan pria itu di Rumah Sakit Y." Ucap Doni membuka pembicaraan.


"Tidak, biarkan Bintang merawatnya." Tolak Bintang dengan ide Papanya.


"Kalian tidak ada ikatan apapun Bintang," Jawab Doni dengan menatap kedua netra anaknya.


Bintang menunduk tanpa sadar meremas tangan Jackson yang tengah dia genggam. Bahkan matanya sudah memanas karena apa yang di ucapkan oleh Papanya benar, tetapi Bintang juga tidak ingin jauh dari Jackson.


Bulan menyenggol lengan suaminya dan menatap tajam pria yang dia cintai itu, Doni hanya mendesah pasrah.


"Baiklah, Papa ijinkan kamu merawatnya hingga pulih. Setelah itu, dia harus pergi dari mansion ini." Ucap Doni yang kemudian melenggang pergi dari kamar Bintang.


Sedangkan Bulan tersenyum, kemudian Bulan menghampiri Bintang.


"Lihat, kamu masih menginginkan dia bukan Bintang. Sekarang selesaikan masalah kalian dengan baik-baik, bahkan Jackson tidak menghindar maupun membalas pukulan Papamu." Ucap Bulan kepada Bintang yang kemudian berlalu dari kamar Bintang untuk menemui suaminya.


Tok... tok... tok...


Ceklek


Terlihat Rex masuk ke dalam kamar Bintang dengan membawa obat-obat yang sudah dia beli di apotik terdekat.


"Nona, ini obat Tuan Jackson." Ucap Rex yang meletakkan sekantong obat di atas nakas.


"Terima kasih Tuan," Jawab Bintang tanpa melihat ke arah Rex.

__ADS_1


"Panggil saja saya Rex Nona, saya adalah asisten sekaligus sahabat Tuan Jackson." Jelas Rex kepada Bintang.


Bintang menengadahkan kepalanya dan tersenyum ke arah Rex, "Salam kenal Tuan, saya Bintang." Jawab Bintang dengan ramah.


"Saya sudah tahu Nona, saya sudah sering mendengar nama Anda dari Tuan Jackson." Ucap Rex dengan memasang wajah datar.


"Nona, jika kelak ada wanita datang bernama Celine jangan salah paham. Kami berteman sejak di bangku kuliah. Celine adalah wanita yang paling dekat dengan Jackson, tetapi tidak apa hubungan yang istimewa selain berteman Nona." Lanjut Rex yang menjelaskan hubungan Celine dan Jackson.


Bintang mengangguk meskipun entah bagaimana respon Bintang jika melihat dengan kepala dan matanya sendiri.


"Saya undur diri dulu Nona, saya menitipkan sahabat saya kepada Anda. Jika dia bangun sampaikan saya kembalinterlenih dahulu karena ada sesuatu yang harus saya selesaikan." Pamit Rex pada Bintang.


Segera Rex berlalu dari hadapan Bintang dan juga kamarnya.


Terlihat tangan Bintang terulur mengelus surai hitam milik Jackson, tangannya meraba setiap memar yang ada di wajah pria tersebut.


"Pasti sakit," Ucap Bintang lirih.


...**...


Di kamar tidur utama terlihat Bulang yang berdecak pinggang di hadapan suaminya.


"Pah, bagaimana Papa bisa memukul Jackson hingga parah seperti itu! Tidak ada skenario yang sudah kita sepakati." Ucap Bulan bersungut-sungut.


Bulan melebarkan netranya dan memukul lengan Doni kencang, "Papa mau lihat Bintang menjadi perawan tua hah!"


"Cih, pria asing saja Mama bela seperti itu, Jangan-jangan Mama..." Doni menyincingkan matanya kepada Bulan.


"Apa!!" Sentak Bulan kesal.


Belum Doni menjawab terdengar dering telfon, ternyata Sky yang menelfonnya.


"Hallo Sky," Ucap Doni.


"Pah, Putri ada di mansion tidak?" Tanya Sky khawatir.


Doni menaikkan sebelah alisnya dan menatap Bulan, "Tidak, Putri tidak datang kesini Sky. Ada apa?" Tanya Doni dengan nada khawatir.


"Putri marah Pah, tadi dia bilang ingin tidur dengan Bintang tetapi Sky tidak mengijinkan karena sedang ada Jackson dirumah." Jelas Sky kepada mertuanya.

__ADS_1


Doni memijat pelipisnya pelan, "Baiklah Papa akan menyebar anak buah untuk mencari Putri Sky, kamu juga harus mencarinya meskipun di lubang semut sekalipun." Perintah Doni kepada menantunya.


"Ya Pah, Terima kasih. Kabari Sky jika Putri sudah ketemu." Kemudian panggilan tersebut di putus oleh Sky.


Bulan yang melihat raut wajah suaminya berubah-ubah penasaran.


"Kenapa Sky menelfon Pah, ada apa dengan Putri anak kita?" Ucap Bulan mengecar pertanyaan kepada suaminya.


"Putri pergi dari kediaman Gandratama Mah, Sky bilang anak kita ngidam ingin tidur dengan Bintang tetapi tidak di kabulkan oleh Sky." Jelas Doni pada istrinya.


"Ya ampun!! Apa lagi ini, kenapa putri-putri kita senang membuat ulah Pah." Keluh Bulan yang sudah menjatuhkan bobotnya di kasur.


"Sabar Mah, ini juga karena ngidam Putri. Selama ini anak kita selalu bersikap baik, Papa sudah menelfon Zidan untuk mencari Putri." Ucap Doni menenangkan istrinya.


...**...


Pagi hari setelah mengantar Agung dan Ambar ke bandara, untuk pergi keluar negeri. Karena Putri sedang hamil terpaksa Agung yang menggantikan Sky untuk urusan pekerjaan.


Kini Putri dan Sky tengah menuju ke mansion Gandratama, "Sayang kamu ingin apa, mumpung kita berada di luar mansion." Tanya Sky kepada istrinya.


"Tidak ada Mas," Jawab Putri jujur.


"Coba pikirkan lagi sayang, mumpung hari masih terang jadi kamu ingin makan apapun sudah banyak yang menjualnya." Kekeh Sky yang menawarkan kepada Putri.


"Tidak Mas, jika nanti Putri ingin makan sesuatu akan bilang." Jawab Putri enteng.


Sky mendesah pasrah, semenjak kepindahan mereka di mansion Gandratama. Putri sering ngidam makanan yang aneh-aneh.


Entah itu seblak, rujak, ice cream, oseng daun pepaya. Jika Putri memintanya ketika hari terang mungkin Sky tidak akan pusing dan berakhir tidur di sofa. Tetapi permintaan Putri di atas pukul duabelas malam.


Mobil Sky sudah sampai di pekarangan mansion, baru saja Sky ingin membuka seat belt tiba-tiba istrinya berucap "Mas, aku ingin tidur dengan Bintang dan mengelus perutnya." Ucap Putri dengan mata bulat seperti kucing.


"Nanti saja sayang, di sana sedang ada pertemuan penting." Jawab Sky


"Apa sedang ada arisan Mas? atau rapat?" Tanya Putri mencecar suaminya.


"Bukan... bukan itu sayang, pokoknya penting. Kapan-kapan kita akan kesana. Untuk tidur dengan Bintang tidak boleh sayang aku tidak mau tidur sendirian lagi seperti tadi malam." Keluh Sky kepada istrinya.


Mata Putri sudah berkaca-kaca, karena Sky tidak mengijinkan dirinya tidur bersama saudaranya. Putri kemudian keliar dari dalam mobil dengan berurai air mata.

__ADS_1


"Hah, ya ampun. Mulai lagi... sabar Sky sabar... Putri seperti itu juga karena perbuatanmu." Ucap Sky pelan, segera Sky menyusul istrinya masuk kedalam rumah.


...**...


__ADS_2