Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Edisi Dave dan Rose : Bekal Makan Siang


__ADS_3

...Putri dan Sky nanti hanya selingan saja ya teman, sampai melahirkan....


Happy Reading 🌹🌹


Terlihat Rose menopang dagu dengan sebelah tangannya, seakan hari-harinya terasa membosankan.


Putri sahabat baiknya berpindah jurusan, pria incarannya sudah tidak pernah mengajar di kampus.


Rose menghela nafasnya panjang, hingga akhirnya dia tersadar akibat sebuah pulpen mendarat tepat di dahinya.


"Aihh, siapa yang melempar hah!" Seru Rose kesal.


"Apa." Jawab dosen yang sudah menatap tajam Rose dari bawah.


"Eh, tidak apa-apa bu. Maksud saya akan mengembalikan jika tahu yang melempar." Ucap Rose dengan cengir kudanya.


"Keluar dari kelas saya." Ucap dosen itu tegas.


"Tap.. tapi bu." Rose kelabakan karena dosen ini terkenal killer dan pelit nilai.


"Rose." Ucap dosen kembali.


"Baik," Rose segera merapikan bukunya dan berjalan turun dan menuju pintu.


"Berhenti." Ucap dosen yang seketika membuat Rose berhenti.


Rose tersenyum lebar dan berbalik badan, "Baik bu saya akan kembali ketempat duduk saya." Jawab Rose dengan rasa percaya diri tinggi.


Dosen perempuan itu menaikkan sebelah alisnya, "Siapa yang menyuruhmu duduk, kembalikan pulpen saya." Ucap dosen yang membuat satu kelas tertawa.


Rose mencebik kesal, wajahnya langsung cemberut dengan berjalan menghampiri dosennya, "Ini bu, besok akan saya belikan satu kardus agar ibu tidak kekurangan bolpoin." Ucap Rose yang kemudian berjalan keluar.


Setelah sampai di luar kelasnya, dia menghentakkan kaki, menendang angin dan beradegan seakan mencekik orang.

__ADS_1


"Apa kau gila." Suara bariton yang sangat Rose kenal.


Rose berbalik badan, terlihat pria yang selalu dia pikirkan berada di depan matanya.


"Eh, tidak. Pak Dave ada apa datang kesini. Apakah ingin menemuiku? Sudah kotak bekalnya untuk Pak Dave saja." Rose bertanya dan menjawabnya sendiri.


Dave tidak menjawab hanya menoyor kepala Rose yang kemudian berjalan, Rose mengelus dahinya pelan dengan bibir mengerucut.


"Seharusnya dia mengucapkan terima kasih," Gerutu Rose yang menyusul langkah Dave.


Dave mengundurkan diri sebagai dosen dari kelas drama, karena dia tidak ingin melihat Putri.


"Pak Dave." Panggil Rose yang terlihat lelah menyamai langkah kaki Dave.


Dave membalikkan badan, "Apa?" Tanya Dave.


"Eh, tidak apa-apa. Hanya ingin mengambil vitamin mata saja." Jawab Rose ambigu.


Dave menggeleng pelan dan masuk kedalam monilnya, Dave meninggalkan Rose begitu saja yang masih berdiri di sana.


Sedangkan Dave mengendarai mobilnya menuju perusahaan, tidak berkomentar atau memikirkan Rose sedikitpun.


Matahari semakin tinggi tepat berada di atas kepala manusia, menandakan jika waktu sudah menunjukkan makan siang.


"Hem, kotak bekalku masih di tempat Pak Dave. Aku akan pesan online saja untuknya." Rose terlihat tersenyum dengan memainkan ponselnya.


Rose sudah berencana setiap hari mengirimkan makan siang ke kantor Dave, agar Dave tidak melupakannya dan jadi terbayang Rose.


Rose yang membayangkan sudah terkirim geli dan memukul kepalanya sendiri, "Jangan jadi gila Rose." Gumamnya lirih.


Di kantor Danuarta.


Dave terlihat larut dalam pekerjaan kantornya, semenjak sibuk mengejar Putri cukup banyak pekerjaan yang menumpuk.

__ADS_1


Terdengar pintu ruangannya di ketuk, Dave nerteriak dari dalam untuk masuk.


"Tuan, makan siang dulu." Ucap sekertarisnya dengan suara manja.


"Hem. Taruh saja di sana." Ucap Dave menunjuk ke meja tamu di ruangannya.


"Baik tuan," Segera sekertaris itu meletakkan kotak makanan di atas meja dengan menungging dalam untuk memancing Dave melakukan kegiatan panas.


Naas, Dave tidak memperhatikan. Pria itu kembali sibuk dengan berkas-berkas di atas mejanya.


"Apa kamu beli makanan di luar?" Tanya Dave tanpa melihat ke arah sekertarisnya.


Sekertaris itu kaget karena mendapatkan jawaban yang tiba-tiba, "Eh... iya Tuan, semoga Tuan suka." Jawabnya berbohong dan keluar dari ruangan Dave.


Dave menyenderkan punggungnya di kursi, terlihat kepalanya menengadah seakan dirinya lelah dengan pekerjaannya.


Dave melirik kotak makan di atas meja, dia berdiri dan berjalan ke arah sofa. Dave duduk dan menggulung lengan kemejanya.


Kotak makan itu di buka, terlihat nasi bento khas Jepang dengan karakter anak-anak. Dave menyerengitkan alisnya dan tersenyum seakan dirinya tengah di beri bekal oleh Mamanya.


Segera saja Dave memakannya dengan lahap, sesekali menarik nafas karena kehidupannya yang sepi dan relung hatinya kosong.


Dave memakannya hingga tandas dan berjalan kembali ke mejanya, terlihat HP Dave bergetar telihat nomor Rose di sana.


📩 Semangat kerja masa depanku, habiskan makan siangmu. Maaf aku tidak memasak hari ini, jadi aku pesankan makanan lewat BangJol (Abang Ojol) 😂😂😘


Dave hanya tersenyum tipis, pria itu mengabaikan pesan dari Rose dan kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dave tidak memusingkan kebohongan sekertarisnya tersebut.


"Ck, selalu hanya di read. Kenapa tidak mengatakan terimakasih atau sekedar membalas Y. Oh, kasihan sekali nasibmu Rose." Gerutu Rose pada dirinya.


Terlihat gadis itu berguling-guling di dalam kamarnya, karena menunggu balasan dari Dave. Tetapi sepertinya hanya sia-sia saja, pria itu tidak memberikan pesan.


...**...

__ADS_1


...Jangan lupa mampir ke novel baru autor...



__ADS_2