Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Hamil


__ADS_3

...Jangan lupa likenya ❤...


Happy Reading 🌹🌹


Saat ini Putri tengah menyajikan masakannya, dia memasak steik salmon sesuai reques dari Sky.


Sky dan Dave duduk berhadapan, kedua pria itu saling menatap tajam.


Setelah acara ngabeknya dengan Putri, Sky kembali turun dengan badan yang sudah wangi dan bersih karena dia telah mandi.


Sky melihat Dave dan Putri mengobrol, sesekali Putri tertawa. Lagi-lagi mood Sky rusak.


"Silahkan, Pak Dave." Ucap Putri yang sudah selesai menata hidangan diatas meja.


"Sayang, silahkan dimakan." Ucap Putri pada Sky.


Gerakan Dave terhenti, sedangkan Sky tersenyum sinis kearah Dave.


"Terima kasih Put, pasti masakanmu sangat enak." Ucap Dave dengan tersenyum tulus kearah Putri.


"Tentu saja, siapa dulu. Istriku" Bukan Putri yang menjawab tetapi Sky.


Apa-apaan pria ini, apa dia pamer karena memiliki istri. Istri diatas kertas makhsudmu, sungguh malang sekali nasibku. Monog Putri didalam hati.


Mereka melalui makan malam dengan diam tetapi pergerakan dan tatapan mereka seakan menjadi komunikasi untuk kedua pria tersebut.


...**...


Dikediaman Wiratama.


Terlihat hening dimeja makan, hanya ada Doni dan Bulan. Sedangkan Bintang masih mengurung dirinya didalam kamar.


"Bik tolong siapkan makan malam untuk Bintang ya." Suruh Bulan pada salah satu ART.


"Baik Nyonya," Jawab ART tersebut.


Selang beberapa menit, makan malam. untuk Bintang sudah siap. Disana juga ada susu hangat kesukaannya.


"Pah, Mama pergi keatas dulu ya." Pamit Bulan pada Doni.


"Hem, nanti Papa akan menyusul." Jawab Doni dengan menganggukkan kepala.

__ADS_1


Segera Bulan melangkahkan kakinya ntuk menuju kelantai dua. Dia mengetuk pintu kamar anaknya.


Tidak ada balasan dari dalam, Bulan mencoba membuka pintu sendiri ternyata tidak di kunci.


"Bintang, sayang ayo makan dulu." Seru Bulan dikamar anaknya.


Tetapi Bintang tidak ada, terdengar suara seseorang yang tengah muntah-muntah didalam kamar mandi.


Segera Bulan menaruh makanan diatas nakas, dan menghampiri suara tersebut.


"Astaga, Bintang!! Papa... Papa....!!" Teriak Bulan dari dalam Bintang.


Terlihat Bintang yang sudah pucat, bahkan keringat sudah membanjiri pelipisnya.


"Kamu kenapa Nak, ayo kita periksa." Ajak Bulan.


Bintang hanya menggeleng lemah, "Bintang masuk angin Mah." Jawabnya dengan suara lirih.


Doni segera berlari begitu mendengar teriakan istrinya, dia melihat kondisi anaknya yang sudah pucat.


"Mah, segera suruh sopir untuk meyiapkan mobil." Perintah Doni kepada istrinya.


Doni menggedong Bintang dengan membopongnya, terlihat lemas dan tidak berdaya.


Apa yang ditakutkan Doni pasti akan menjadi kenyataan, "Bertahanlah sayang, Papa dan Mama sangat menyayangimu." Gumam Doni yang masih dapat didengar oleh Bintang.


Tanpa terasa air mata bintang jatuh, dia merasa sangat bersalah kepada kedua orangtuanya. Jika waktu dapat diputar dia ingin memiliki teman-teman yang baik.


Dengan kecepatan sedang, keluarga Wiratama bergera kearah Rumah Sakit. Bintang dan Bulan duduk dibelakang.


Sedangkan Doni duduk didepan dengan sopir.


"Tahan sebentar Nak, kita akan segera sampai." Ucap Bulan dengan mengelap keringat yang membanjiri wajah Bintang.


Selang beberapa menit, mereka telah sampai dipelataran Rumah Sakit.


Doni segera turun dan membuka pintu penumpang, dia segera membopong Bintang dan berjalan masuk kedalam Rumah Sakit dengan diikuti oleh Bulan.


"Papa, kenapa kita kedokter kandungan." Tanya Bulan heran.


"Mama akan tahu nanti." Jawab Doni datar.

__ADS_1


Tubuh Bintang gemetar, dia takut jika Papanya akan marah. Selama ini dia tidak mengindahkan larangan kedua orangtuanya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan Doni." Ucap seoeang dokter kandunga.


"Tolong periksa anak saya." Jawab Doni dengan tenang dengan membaringkan Bintang dibrankar dengan perlahan.


Dokter segera memeriksa keadaan Bintang, terlihat beberapa kali dokter memastikannya.


Dokter menatap Doni dan Bulan dengan tatapan yang entah harus bagaimana memberi kabar ini.


"Bagaimana dokter, anak saya tidak hamil bukan?" Tanya Bulan dengan nada yang khawatir.


Bintang semakin menunduk, dokter menganggukkan kepalanya.


"Usia kandungan sudah empat minggu." Jelas dokter.


"Apa!" Seru Bintang dan Bulan bersamaan.


"It... itu tidak mungkin dokter, aku dan kekasihku baru satu bulan ini melakukan hubungan badan tanpa pengaman. Jadi tidak mungkin usia kandungaku empat minggu." Jelas Bintang dengan meremas selimut yang menutupi bagian dadanya.


Bulan tak kuasa menahan perasaan kecewa dan sedihnya, hingga tidak sadarkan diri. Segera Doni menggedong istrinya keruang rawat inap.


Sudut mata Bintang meneteskan air mata, dia menyesal tidak menuruti perkataan Ibunya.


"Dek, apa kamu yakin pacarmu menggunakan pengaman selama ini. Meskipun memakai pengaman tetapi jika bocor juga bisa membuahi." Jelas sang dokter. (autor gak tau ya, halu pokoknya).


Bintang menggeleng, dia mengingat-ingat kapan terakhir Jack menggunakan pengaman.


Sedangkan Doni segera menelfun Zidan untuk memblokade bandara untuk menangkap Jack.


Sesuai informasi dari anak buah Zidan, Jack sudah tidak ada diapartemennya. Sudah dipastika jika pria berengsskkkk itu melarikan diri.


"Segera kirimkan bodyguard untuk Bintang." Ucao Doni sejurus kemudian mematikan sambungan telfunnya.


...**...


...Jangan lupa likenya....


PROMO NOVEL


__ADS_1


__ADS_2