
Happy Reading 🌹🌹
Waktu terus berlalu, belum ada pergerakan dari Dark maupun Jackson.
Saat ini Bintang dan baby twins sudah bisa berkumpul di mansion, Jackson menempatkan penjagaan ketat selama dua puluh empat jam di luar dan dalam mansion.
Bahkan Jackson menyewa dua baby sister untuk setiap anaknya, "Honey apa ini tidak berlebihan." Ucap Bintang yang tengah berbaring di sisi suaminya.
"Tidak Honey, kamu tahu sendirikan pekerjaan dunia hitamku. Aku tidak ingin keluarga kita dalam bahaya terutama kamu dan baby twins." Ucap Jackson dengan mengelus pipi Bintang.
"Apa kamu tetap akan bekerja di dunia hitam," Cicit Bintang dengan suara lirih.
"Tidak, aku dan Rex sudah memutuskan akan berhenti setelah menyingkirkan Dark." Jawab Jackson dengan yakin.
Bintang memeluk tubuh suaminya erat, wajahnya disembunyikan dalam dada bidang Jackson. Jackson hanya mengelus punggung istrinya pelan. Mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.
Di apartemen Rex dan Celine, terlihat Celine sudah sembuh bahkan bekas luka-lukanya sudah mulai memudar.
"Honey." Panggil Celine dengan suara menahan desa*hannya.
"Hemm.." Jawab Rex yang masih sibuk mengecap lembah milik Celine.
"Aku sudah tidak tahan," Jerit Celine yang ingin segera di masuki.
Celine terengah engah karena menahan hasratnya, Rex menegakkan tubuhnya dan mensejajarkan wajah mereka.
"Siapa Dokter Isam?" Tanya Rex dengan tatapan yang sulit.
"Hah?" Celine merasa tidak nyambung dengan ucapan suaminya.
"Siapa Dokter Isam, Celine." Tanya Rex kembali.
"Tema kuliahku dulu Honey, kenapa?" Tanya Celine yang menatap dalam mata suaminya.
"Ada hubungan apa kalian?" Tanya Rex lagi.
"Hubungan apa? Aku hanya berteman dengannya Rex, ada apa denganmu." Jawab Celine dengan wajah bingung.
"Apa kamu mencintaiku." Ucap Rex lagi.
"Kenapa kamu menanyakan pertanyaan yang sudah tahu jawabannya Rex!" Kesal Celine yang berusaha bangun dan membebaskan diri dari kungkungan suaminya.
Rex menci*um bibir istrinya dengan penuh has*rat, "Kamu hanya boleh mencintaiku Cekine, selalu lihat ke arahku jangan ke arah yang lain." Ucap Rex yang sudah melepaskan ciu*mannya.
Rex memasukkan senjatanya ke lubang yang sudah menantinya, ruangan hanya di penuhi hawa panas dan suara meresahkan tetangga sebelah.
Rex tidak henti-hentinya mengungkapkan rasa cinta kepada istrinya, dan senang harti Celine membalas ucapan Rex.
Rex dan Celine sama-sama mencapai puncak mereka, terlihat tubuh yang sudah penuh dengan peluh.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu pucat Honey, apa aku menyakitimh." Ucap Rex mengelus pipi istrinya.
"Tidak, akhir-akhir ini badanku lemas dan hanya ingin tidur saja Honey." Jawab Celine jujur.
Rex mencabut pusakanya dan berguling ke arah samping istrinya, Rex membawa Celine kedalam. pelukannya dan menutup tubuh telan*jang mereka dengan selimut tebal.
...**...
Waktu berlalu.
Terlihat Bintang dan Jackson tengah menimang kedua anak mereka, "Honey kapan kita memberitahu baby twins yang sudah lahir kepada Mama dan Papa?" Tanya Bintang yang menyusui sang putri.
"Aku akan menelfon mereka sekarang Honey." Ucap Jackson yang mengeluarkan HPnya.
Cukup lama sambungan telfon tidak di angkat, hingga akhirnya terdengar suara wanita yang sangat familiar di telinga Jackson dan Bintang.
Ya posisi panggilan saat ini tengah di loudspeaker oleh Jackson.
"Ada apa Jack?" Tanya Putri pada adik iparnya itu.
"Putri." Seru Bintang bahagia.
"Ya ampun Bintang, sebentar ayo kita VC." Jawab Putri kegirangan.
Bulan dan Doni tengah berada di belakang mansion, ketika Putri turun untuk kedapur mengambil minum mendengar suara HP berdering.
Terlihat nama Jackson di layar tersebut, segera. Putri mengangkatnya.
Terlihat wajah Putri yang semakin bulat karena kehamilannya, "Apa kalian sedang ah ih uh?" Tanya Putri ambigu.
Bintang tergelak dengan pertanyaan Putri, "Tidak, " Jawab Bintang.
"Kenapa dadamu di buka begitu, ck mesum." Jawab Putri kesal.
"Coba lihat," Bintang mengarahkan kamera ke arah bayi yang masih meminum asinya.
"Anak siapa?" Jawab Putri bodoh.
"Tentu saja anakku kakak ipar," Jawab Jackson tertawa.
"Apa!!!! Kamu sudah melahirkan Bintang, kapan? Dimana? Bagaimana keadaan ponakanku? Kenapa tidak memberikan kabar kepada kami." Ucap Putri dengan serentetan pertanyaannya.
Bulan dan Doni yang mendengar suara cempreng Putri berteriak, segera berlari masuk ke dalam. mansion.
"Mama, lihat... cucumu sudah lahir." Putri mengarahkan layar HP kepada Bulan ketika melihat Mamanya masuk.
Doni mengambil HP yang masih berada di tangan Putri, "Papa" Ucap Putri merengek.
"Kapan mereka lahir Nak?" Tanya Doni yang mengulas senyum.
__ADS_1
"Emm... baru dua hari lalu Pah." Jawab Bintang menutupi kejadian di bandara.
"Mama mau lihat Pah," Bulan merebut HP miliknya.
"Ya ampun, tampan sekali." Ucap Bulan yang melihat bayi merah itu.
"Dia perempuan Mah," Jawab Bintang terkekeh.
"Eh, iya dia sangat cantik dan tampan sampai Mama bingung." Ucap Bulan beralasan.
"Mah, Putri juga mau lihat." Rengek Putri pada Mamanya.
"Sebentar sayang, kamu sebentat lagi juga akan memiliki seperti Binatang." Tolak Bulan halus.
"Tapi masih lama." Jawab Putri dengan raut wajah sedih.
"Sudah-sudah, kita sambungkan di televisi saja agar semuanya dapat melihat baby twins." Doni menengahi keduanya.
Mereka menghubungan sambungan VC di televisi, terlihat baby twins yang masih menggeliat di atas kasur.
"Sayang, Mama dan Papa akan kesana ya." Ucap Bulan yang tidak sabar menggendong cucu-cucunya.
Bintang menoleh ke arah Jackson sebentar, "Tunggu baby twins dapat di ajak main dulu saja Mah, mereka masih belum mengerti nanti. Disini Bintang sudah di temani dua baby sister jadi Mama tidak perlu khawatir. Apalagi Putri juga akan melahirkan beberapa bulan lagi." Jawab Bintang beralasan.
Bulan berfikir sejenak, benar jika dia kesana sekarang tidak dapat bermain dengan cucunya karena belum mengerti. Bulan juga ingin menemani Putri untuk melahirkan.
"Baiklah sayang," Jawab Bulan.
Mereka cukup lama mengobrol melalui sambungan telfon, hingga Putri sudah tertidur di sofa.
"Bye" Akhirnya panggil an tersebut terputus.
Kini Celine sudah dapat masuk bekerja seperti biasanya, setelah percakapan dengan sang suami. Celine memberikan pengertian jika dia dan Dokter Isam hanya teman tidak lebih.
Untuk menjaga perasaan Rex, Celine sebisa mungkin menghindari Dokter Isam. Celine tidak ingin jika rumah tangganya terganggu.
"Hallo Celine." Sapa Dokter Isam yang berpapasan di lorong toilet.
"Eh, hay." Jawab Celine tersenyum kaku.
"Kenapa kamu menghindariku?" Tanya Dokter Isam to the point.
"Ti.. tidak, aku hanya sedang banyak pasien." Jawab Celine gugup.
"Jangan berbohong Celine." Ucap Dokter Isam dingin.
"Emm.. lebih baik kita jangan terlalu dekat Isam, aku tidak ingin membuat orang-orang salah paham." Jelas Celine lancar.
"Termasuk suamimu?" Tanya Dokter Isam.
__ADS_1