
...Jangan lupa likenya readers....
...Tenang saja, like tidak mempengaruhi pendapatan autor....
...Like hanya sebagai bentuk dukungan untuk autor agar selalu semangat update setiap hari....
...Semakin banyak like, berarti cerita autor itu menarik....
...Tidak perlu takut readers...
Happy Reading 🌹🌹
Sky melangkahkan kakinya kearah kamar Putri, setelah selesai berbincang dengan Bu Siti.
Dibukanya pintu secara perlahan agar tidak menganggu istri kecilnya yang masih tertidur lelap.
Sky berjalan mendekat dan melepaskan sepatunya, dia menaikkan tubuhnya kekasur kapuk yang keras itu.
Mengabaikan rasa tidak nyaman, Sky memeluk istrinya dari belakang. Dia melingkarkan tangan kokohnya diperut Putri.
Sky mencium pucuk kepala istrinya dan menenggelamkan wajahnya tengkuk Putri.
Tubuh Putri meremang, jantungnya berdebar cepat bahkan untuk bernafas seakan oksigen didalam kamar itu sudah direnggut habis oleh Sky.
Hembusan nafas Sky membuat bulu romanya berdiri, tetapi Putri mencoba menetralkan perasaannya.
Apakah dia harus bahagia karena Sky mulai mendekat kearahnya, ataukah sedih karena mengetahui kenyataan yang baru saja dia dengar.
"Maafkan aku, aku berjanji akan menjagamu sayang." Ucap Sky lirih karena dia merasa jika Putri tidak tidur.
Mata, Putri memanas. Bahkan dia sampai mengigit bibir bawahnya agar meredam suara tangisnya. Sudut matanya sudah menetes karena posisi tidurnya miring.
Sky dapat merasakan jika tubuh istrinya bergetar, dia semakin mengeratkan pelukannya.
Dalam hatinya berjanji, dia akan mengembalikan Putri diposisi keluarga Wiratama. Menguak siapa pelaku kejahatan tersebut.
...**...
Keesokan harinya.
Putri menggeliat karena badannya serasa tertimpa pohon besar, dia mulai mengerjapkan matanya sehingga membuat bulumata lentiknya bergerak indah.
Dia melihat Sky dengan baju yang masih sama melekat ditubuhnya. Putri sejenak memandangi wajah tampan suaminya, dia tidak memungkiri jika memang pria matang tersebut memang tampan.
"Aku tau jika aku tampan, jadi berhentilah memandangiku." Ucap Sky dengan mata yang masih terpejam.
Kaget, karena ternyata pria tersebut sudah bangun. Segera dia mengangkat tangan Sky agar dapat bangun.
Tetapi Sky semakin menariknya kedalam pelukannya, jantung Putri semakin berdetak hebat.
"Sepertinya aku punya penyakit jantung," Gumam Putri dalam hatinya.
__ADS_1
"Temani aku, lima menit lagi. Aku masih mengantuk." Ucap Sky yang sedikit tidak jelas.
Putri hanya bisa pasrah, dia juga merasa nyaman dengan posisi tersebut. Tanpa sadar dia tersenyum.
Hingga suara ketukan pintu membuyarkan semua, segera Putri beranjak dari peraduannya dan membuka pintu.
"Kakak, dipanggil Ibu untuk sarapan. Ajak kakak tampan yang kemarin." Ucap Nana pada Putri.
Putri tersenyum dan mengacak rambutnya gemas "Iya, Kakak akan segera kesana. Kakak akan mandi sebentar." Jawab Putri.
Segera gadis itu mengangguk, dan meninggalkan Putri untuk menuju kemeja makan.
Putri berjalan kearah lemari tua yang berada disudut kamarnya, untung dia tidak membawa semua pakaiannya sehingga masih ada baju ganti yang akan dia kenakan.
Segera dirinya mengambil baju dan celana, tidak lupa handuk bersih. Putri keluar kamar untuk mandi.
Putri sudah selesai mandi dan menggunakan baju bersih, dia nampak menggulung rambut basahnya dengan handuk kecil.
Baru membuka pintu sudah ditodong pertanyaan oleh pria menyebalkan, "Kamu sari mana." Tanya Sky yang sudah duduk diatas tempat tidur.
"Mandi, Tuan." Jawab Putri datar.
"Bisakah tidak memanggilku dengan sebutan Tuan, kamu bahkan memanggil Gabriel Kakak." Jawab Sky sewot.
"Lalu, aku harus memanggil Tuan apa?" Tanya Putri menatap bingung kearah Sky.
Sky tersenyum licik, "Panggil aku sayang, iya sayang atau suami juga lebih bagus." Ucap Sky memberikan dua pilihan.
"Bukankah, Anda memiliki seorang kekasih. Bagaimana bisa menyuruhku memanggil Anda dengan sebutan seperti itu Tuan, sungguh menggelikan." Jawab Putri yang tengah mengeringkn rambutnya dengan handuk.
Sky kesal dengan ucapan Putri, segera dia berdiri dan berjalan mendekat kearah gadis itu.
"Tu... Tuan mau apa."
"Jangan macam-macam!" Seru Putri dengan suara terbata-bata.
Tubuh Putri merapat ditembok dan dikungkung oleh kedua lengan besar Sky.
"Apa begitu sulit, kamu memanggiku sayang atau suami, hemm." Tanya Sky dengan suara datar dan terkesan dingin.
Putri mengangguk dan kemudian menggeleng karena terlalu takut dengan Sky.
Sedangkan pria tersebut menikmati wajah panik istrinya, "Jadi, mulai sekarang panggil aku sayang. Apa kamu mengerti sayang." Ucap Sky dengan menekan kata sayang didepan wajah Putri.
Sekali lagi Putri hanya dapat mengangguk, agar dapat segera lepas dari pria tersebut.
"Sayang, apa kamu menggodaku." Tanya Sky yang kini menyelipkan rambut Putri ditelinga.
Putri menaikkan sebelah alisnya, menggoda darimana. Bahkan dirinya memakai kaos meskipun kebesaran.
"Tidak, Tuan." Jawab Putri cepat.
__ADS_1
Sky segere mendaratkan kecupan di bibirnya, dan kini kecupan itu menjadi ciuman paginya yang menggairahkan.
"Itu hukumanmu, jika kamu memanggilku Tuan. Maka akan aku ciummu bahkan lebih." Jawab Sky tersenyum licik, kini di otak Sky bagaimana cara memonopoli bibir bahkan tubuh istrinya.
"Ba... "
Sebelum Putri meneruskan ucapannya sudah dihentikan oleh Sky, "Aku tidak menerima penolakan sayang. Baiklah aku akan mandi, dimana kamar mandinya." Ucap Sky dengan segera mengalihkan perhatiannya.
Sky bisa gila jika terus berdekatan dengan istrinya, bahkan pria itu menahan mati-matian sesuatu yang mengeras dibawah sana.
"Diluar sss... sa... sayang." Jawab Putri gagap.
"Baiklah, ayo antarkan aku. Aku belum tahu letaknya, tolong telfunkan Gabriel untuk membawakan pakaianku. Kita akan langsung berangkat dari sini saja." Ucap Sky dengan melengang pergi meninggalkan Putri.
"Ishh, dia bilang tidak tahu tempatnya. Tetapi malah meninggalkanku begitu saja." Gerutu Putri yang kesal karena Sky.
Segera, Putri mengambil Hpnya untuk menghubungi asisten suaminya tersebut. Sesuai perintah, Putri menyampaikan pesan Sky.
Setelah menelfun Gabriel, segera Putri keluar kamarnya untuk menuju kedapur.
"Astaga! Kenapa kamu masih disini." Tanya Putri yang kaget karena Sky berdiri didepan pintu kamarnya.
"Aku sudah bilang, jika tidak tahu letak kamar mandinya. Kenapa kamu lama menelfun Gabriel, apa yang kalian bicarakan." Tuntut Sky dengan bertanya kepada Putri.
"Sayang. Kak Gabriel juga baru bangun tidur, dia pasti kelelahan karena kemarin kita langsung kepanti tanpa persiapan." Ucap Putri yang menahan kesal kepada pria didepannya.
"Ck, kenapa kamu memanggil Gabriel kakak? Panggil saja namanya." Gerutu Sky yang tidak suka dengan panggilan yang disematkan oleh istrinya kepada asistennya.
"Aku dan kak Gabriel sudah menjadi kakak adik, meskipun tidak sedarah. Tapi aku menganggapnya kakakku." Jelas Putri pada Sky.
"Terserah... terserah... cepat tunjukkan jalannya." Jawab Sky dengan arogan.
...**...
Dikediaman Wiratama
"Bik, apa Bintang belum pulang?" Tanya Bulan yang sudah duduk dikursi ruang makan.
"Sudah Nyonya, tadi subuh Nona Bintang baru pulang." Jawab pembantu tersebut.
"Cih, baru satu hari dia sudah mulai tidak pulang kerumah. Bangunkan dia." Ucap Doni memerintahkan salah satu ARTnya.
Segera ART tersebut naik kelantai dua untuk membangunkan Nona Mudanya.
Beberapa kali mengetuk pintu akhirnya dibukakan juga oleh pemilik kamar, "Jangan mengentuk pintu!!" Seru Bintang.
"Maaf Nona, Tuan ingin Nona segera turun untuk sarapan." Jawab ART dengan perasaan takut sekaligus heran.
"Ck, bilang padanya. Aku tidak akan sarapan jika dia belum mengembalikan ATMku. Sudah sana, pergi!!" Bintang menutup pintu dengan keras, bahkan Doni dan Bulan dapat mendengarnya.
...**...
__ADS_1