
Happy Reading 🌹🌹
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, terlihat Rose tengah keluar dari dalam kamar mandi.
Tubuh kecil nanti rampung itu terbalut dengan handuk berwarna pink yang hanya menutupi dada dan pahanya saja, sedangkan rambutnya di biarkan tergerai dengan kondisi basah.
Pria manapun akan meneguk ludahnya melihat pemandangan itu.
Rose melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian, dia membuka di bagian gaun yang biasa dia kenakan jika menemani Ayahnya pergi ke pesta.
Ya, Rose hanya hidup berdua dengan sang Ayah. Ibunya meninggal sejak dia duduk di SMA karena sakit keras.
Hingga dirinya duduk di bangku kuliah, sang Ayah enggan untuk menikah lagi. Mereka cukup bahagia hidup berdua setelah kematian sang Ibu.
"Emm, aku pakai gaun apa." Rose terlihat berfikir dengan mencari gaun yang cocok dia kenakan malam ini.
"Aku pakai ini saja, sepertinya baru satu kali aku pakai." Ucap Rose dengan nada riang.
Rose menjatuhkan pilihan pada gaun berwarna hitam berlengan panjang namun menunjukkan kemulusan pundaknya.
Cukup lama Rose merias dirinya di depan cermin, hingga akhirnya semuanya selesai.
"Apakah aku harus menyiksa kakiku lagi," Ucap Rose lirih dengan melihat sepatu hak tinggi yang berada di depan kakinya.
Rose melangkah mengambil kotak obat, dia memakaikan obat merah dan menempelkan hansaplas pada bagian belakang kakinya.
Dengan menghela nafas panjang, Rose mengenakan sepatu hak tingginya itu.
"Aku harus segera berangkat, pasti Kak Dave menungguku." Gumam Rose ketika melihat waktu di jam tangannya.
Sang Ayah yang melihat Rose turun dari lantai dua menatap heran, tidak biasanya Rose berpenampilan seperti itu jika tidak menghadiri pesta dengannya.
"Mau kemana Rose?" Tanya sang Ayah.
"Eh, mau pergi makan malam Yah." Jawab Rose jujur.
"Mau Ayah antar?" Tawar sang Ayah.
"Tidak perlu Ayah, Rose berangkat sendiri saja." Tolak Rose halus.
"Apa kamu akan pergi berkencan?" Tanya sang Ayah dengan wajah menggoda.
Semburat merah muncul di pipinya, "Hehe.. sudah Rose pergi dulu Yah." Rose kemudian mengecup kedua pipi pria yang sudah tidak muda lagi itu.
Sang Ayah hanya menatap punggung Rose, tetapi pandangannya teralih di kaki anaknya.
__ADS_1
"Ikuti Rose." Satu perintah sang Tuan yang mutlak.
Segera asisten kepercayaannya mengikuti putri dari majikannya itu.
Ayah Rose menatap tidak senang dengan apa yang dia lihat, sang Ayah tentu bahagia jika anaknya bahagia. Tetapi jika harus menyakiti dirinya sendiri tentu Ayah tidak akan terima.
Rose menghentikan mobilnya di parkiran restoran yang sudah mereka sepakati. Rose berjalan masuk setelah memarkirkan mobil miliknya.
"Silahkan Nona." Ucap sang pelayan kepada Rose.
"Pesanan meja atas nama Dave Danuarta." Ucap Rose kepada pelayan.
"Oh, mari ikut saya." Sang pelayan membawa Rose ke sebuah meja yang sudah di reservasi oleh Dave.
Rose mengucapkan terimakasih sebelum pelayan itu pergi. Terlihat Rose beberapa kali menarik nafasnya dalam, dia sangat gugup dengan penampilannya hari ini.
Sedangkan asisten Ayah Rose, sudah duduk di meja yang tidak jauh dari meja Rose. Sang asisten segera mengambil gambar anak bosnya dan mengirimkan kepada Ayah Rose.
"Tunggu sampai Rose pulang." Balas Ayah Rose kepada asistennya.
Sang Ayah terlihat mengguyar rambutnya kebelakang, dia tentu tahu Dave Danuarta karena sama-sama pengusaha di bidang yang sama.
Meskipun tidak bekerjasama, tetapi nama Dave tentu terkenal se antero pengusaha. Siapa yang tidak tahu Rudi Ayah dari Dave.
"Apa yang kau rencanakan Dave." Ayah Rose frustasi.
Bagaimana bisa sang putri menjalin hubungan dengan Dave, pria yang terkenal dengan perbuatan celup mencelup itu.
Sedangkan Dave yang akan menuju mobilnya, dia harus segera pulang ke mansion karena sang Mama sudah menelfon dirinya.
"Kemana kamu Dave, kenapa belum pulang!" Seru Lila di sebrang telfon.
Dave menghela nafasnya panjang, "Dave masih mengerjakan pekerjaan kantor Mah." Jawab Dave jujur.
"Cepat pulang! Bawa pekerjaanmu dirumah." Lila langsung mematikan sambungan telfonnya begitu saja tanpa menunggu jawaban Dave.
Mau tidak mau, jika ibu ratu sudah mengultimatum makan Dave tidak bisa berbuat banyak.
Terlihat Pria itu merapikan berkasnya kembali dan mengambil jas yang terlampir di punggung kursi kebesarannya.
Sekali lagi, Dave seakan lupa dengan janji yang dia buat sendiri kepada Rose.
Di restoran, Rose lebih sering menatap jam di tangannya.
"Maaf Nona, apa Nona sudah ingin pesan makanan?" Tanya seorang pelayan.
"Belum,tunggu sepuluh menit lagi." Jawab Rose kepada pelayan itu.
__ADS_1
Bahkan beberapa pelayan menatap iba dan kasihan ke arah Rose. Ya siapa yang tidak tahu Dave Danuarta dari nama keluarganya saja mereka tahu, keluarga Danuarta pemilik perusahaan hiburan itu.
"Hah,kasihan sekali wanita itu. Lihatlah dia sangat cantik." Ucap pelayan A.
"Benar, jika aku menjadi dia pasti aku sudah menangis dan kecewa." Jawab pelayan B.
Pelayan A mengangguk seakan setuju dengan jawaban rekannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam tetapi tidak ada batang hidung Dave yang terlihat.
Bahkan asisten Ayahnya merasa kasihan dengan anak bosnya, karena terlihat beberapa kali gadis itu menyeka air matanya tetapi tidak beranjak dari duduknya.
Hingga akhirnya seorang pelayan akan mendekatinya, tetapi di hadang oleh sang asisten.
"Dia anak bosku, biarkan aku yang menyampaikannya silahkan di teruskan untuk menutup restoran ini." Ucap sang asisten seakan tahu tujuan dari pelayan tersebut.
Pelayan itu mengangguk dan mengucapkan terimakasih, yang kemudian dia berlalu dari asisten Ayah Rose.
"Maaf Nona, restoran akan tutup. Mari saya antar pulang." Ucap asisten Ayah Rose.
Rose tersentak kaget karena melihat asisten Ayahnya, "Ah, paman. Kenapa disini?" Bukannya menjawab Rose malah bertanya.
"Tadi saya sedang makan malam bersama teman saya Nona." Bohong sang asisten.
Rose mengangguk percaya begitu saja dengan jawaban asisten Ayahnya, karena dia tidak menaruu curiga sama sekali.
"Mari Nona saya antar pulang." Ulang sang asisten.
"Aku membawa mobil sendiri paman, paman pulang saja. Aku juga akan pulang." Tolak Rose kepada asisten Ayahnya.
"Baiklah, paman akan mengikuti Nona dari belakang saja." Tawar sang asisten kepada Rose.
Rose mengangguk cepat, dia kemudian menaruh uang di atas meja untuk minuman yang dia pesan.
Terlihat gadis rapuh itu melangkah keluar dari restoran menuju parkiran mobil, Rose menoleh kebelakang terlihat lampu-lanpu restoran sudah mulai di padamkan.
Rose membuang pandangannya keseluruh area parkiran tidak ada mobil lain selain miliknya dan juga asisten ayahnya.
"Mari Nona." Asisten membuyarkan lamunan Rose.
Segera Rose masuk kedalam mobilnya, terlihat Rose melepas sepatu hak tingginya dan melemparkannya kebelakang.
Rose mulai menjalankan mobil miliknya untuk pulang, selama di perjalanan hanya ada tangis pilu yang terdengar di dalam mobil itu.
...**...
WAH KACAU INI LAGI LAGI DAVE INGKAT JANJI.
__ADS_1
ENAKNYA MAU DI APAIN INI SI DAVE?
VISUAL ROSE ITU SANA TWICE YANG PENASARAN AJA 😂😂