Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Edisi Dave dan Rose : Berjuang Sampai Akhir?


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


...Maaf readers, author tidak tahu kenapa ke up double. Dulu pernah seperti itu sekarang gitu lagi....


...Untuk Bab Rose sama Dave ini memang panjang ya, sebenarnya mau autor buat sendiri novelnya. Tetapi karena udah terlanjur di sini yaudah di bablasin aja 😂😂...


...**...


"Rose, apa acaranya hari ini?" Tanya Sang Ayah.


"Hanya kuliah saja Ayah, apa Ayah ingin di temani ke suatu tempat?" Tanya Rose pelan.


"Ayo kita ke makan Mama." Ajak Sang Ayah.


Rose mengangguk, "Jika begitu Ayah jemput Rose ke kampus ya." Jawab Rose lagi.


"Ya, nanti siang Ayah akan menjemputmu." Kata Sang Ayah.


Rose dan sang Ayah akhirnya keluar dari rumah bersama, karena mereka akan ke makam sang istri. Ayah Rose mengantarkan anaknya terlebih dahulu.


"Bye, hati-hati ayah." Ucap Rose dengan mengecup kedua pipi ayahnya.


Sang ayah melambaikan tangan dari dalam mobil sebelum kembali berjalan.


Kini Rose tengah menunggu jemputan Sang Ayah, terlihat gadis itu duduk di bangku depan dengan memainkan kaki yang mengenakan sepatu kets.


Suara klakson membuyarkan lamunannya, dengan senyum yang mengembang Rose berlari kecil ke arah mobil keluarga.


"Kita berhenti di toko bunga dulu Yah," Ucap Rose yang sudah duduk di samping ayahnya.


"Ya, seperti biasa." Jawab sang Ayah.


Asisten segera melakukan mobil menuju area pemakaman umum, dimana Nyonyanya di kuburkan.


Mobil itu berhenti tepat di depan toko bunga, segera Rose keluar untuk membeli satu buket bunga mawar.


Ya, mawar adalah bunga kesukaan mendiang ibunya. Untuk itu dia menamai anaknya Rose yang berarti mawar.


Setelah sampai di pemakaman Rose dan Ayahnya berjalan untuk menuju makam sang Ibu.


Terlihat makan yang sangat terawat, hanya beberapa rumput liar yang tumbuh disana.


Rose dan Ayah berjongkong membersihkan rumput-rumput liar itu, dan menaruh satu buket bunga mawar di depan nisan.


"Ayah pimpin do'a" Ucap Rose


Segera sang Ayah memimpin do'a di depan makan istrinya, seperti biasa mereka hanya menangis dalam diam.

__ADS_1


Cukup lama Rose dan Ayahnya duduk di depan makam sang Istri.


"Rose." Panggil ayahnya pelan.


"Ya, Ayah." Jawab Rose dengan suara serak.


"Apa kamu memiliki kekasih?" Tanya sang Ayah.


"Ya, tapi masih masa percobaan." Jawab Rose jujur.


Sang Ayah menoleh ke arah putrinya, masa percobaan? Apa ada pacaran dengan masa percobaan.


"Kenapa? Apa kamu tidak yakin dengan perasaanmu?" Tanya Sang Ayah


Rose menggelengkan kepalanya, "Tidak Ayah, Rose sangat yakin. Tetapi... dia belum mencintai Rose." Jawab Rose sendu.


"Dave?" Ucap Ayahnya.


Rose hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Rose tidak akan bertanya darimana sang Ayah tahu. Karena gadis itu sudah tahu jawabannya.


"Rose, apa kamu tahu. Perasaan bukan untuk mainan. Hubungan di jalin oleh dua insan manusia, jika hanya satu yang berusaha ibarat perahu tidak akan pernah maju hanya berputar di tempat." Ucap Ayah Rose.


Rose hanya diam dengan bermain daun kering yang dia ambil dari tanah.


"Rose, lepaskan jika itu menyakitkan. Semakin kita genggam semakin membuat kita terluka itu bukan cinta. Cukup kamu berjuang, hargailah hatimu Rose." Lanjut sang Ayah.


"Apa kamu tahu Rose, Ayah begitu mencintai Ibumu. Ibumu sama persis sepertimu yang selalu ceria dan apa adanya, awalnya ibumu selalu menolak Ayah karena menganggap Ayah kulkas dua pintu yang tidak asik di ajak mengobrol tapi siapa sangka jika karena kami terbiasa bersama membuat kami saling melengkapi." Ucap sang Ayah kembali.


Tubuh Rose bergetar dia menangis sesenggukan meskipun tanpa suara, entah kenapa mengingat hubungannya membuat dirinya sedih.


Ayah Rose merangkul pundak anaknya, dan membawa Rose dalam pelukannya.


"Lihatlah sayang, anak kita sudah besar dan sudah tahu cinta. Apa kamu melihat kami di sini, bagaimana jika kamu saja yang memilihkan suami untuk Rose." Ucap sang Ayah dengan memandang langit.


Rose memukul pelan Ayahnya, tetapi Rose memeluk tubuh pria tua itu.


...**...


Malam telah datang.


📩 Jangan lupa datang ke hotel XX.


Rose memandang nanar layar tipis itu, dia melihat dirinya di cermin. Tidak ada gaun indah yang membalut tubuhnya, hanya kaos oversize dan juga jeans tidak lupa sepatu kets kesayangannya.


📩 Aku akan segera berangkat.


Dave membaca pesan Rose tanpa membalas, terlihat dia duduk di sofa hotel suits dengan segelas alkoholnya.

__ADS_1


Mata tajam itu memandang langit malam ini, seperti biasa kota yang sangat padat bahkan tidak pernah tidur.


Rose telah sampai di hotel, dia masuk dan duduk di area loby hotel mewah tersebut.


📩 Aku sudah sampai, kakak di mana?


📩 Naiklah ke lantai 20 nomor kamar 198.


Segera Rose berjalan menuju lift untuk menuju lantai dan kamar yang di maksud Dave, Rose mengepalkan tangannya entah perasaannya berkecamuk hari ini.


"Bukankah itu teman Putri, mau kemana gadis cerewet itu." Briel tidak sengaja melihat Rose masuk ke dalam lift.


Segera Briel mendekat ke arah lift dan melihat di lantai berapa Rose berhenti, secara impulsif Briel menekan lift sebelah untuk menyusul Rose.


Rose menghirup udara sebanyak banyaknya, dengan perasaan gugup, sedih, kecewa, marah menjadi satu.


Terlihat kaki kecil itu sudah berhenti di depan kamar yang di maksud Dave, Rose mengetuk pintu kamar itu.


Tidak lama, pintu itu terbuka. Terlihat Dave dengan gaya bad boynya.


"Ayo masuk." Ucap Dave.


Rose melangkah masuk ke dalam kamar itu mengikuti langkah Dave, Dave menunjuk sebuah sofa untuk Rose duduk.


"Ada apa Kak Dave mengajak bertemu di sini?" Tanya Rose menyembunyikan rasa takutnya.


Dave menyunggungkan senyum sinis, "Tentu saja untuk sesuatu hal yang tertunda." Jawab Dave ambigu.


"Makhsudnya?" Tanya Rose yang tidak paham.


Dave berjalan mendekat dan duduk di samping Rose, tangannya kembali terulur menelusuri wajah dan bibir yang kemarin dia cium.


"Apa yang kamu pikirkan, ketika wanita dan pria berada di dalam kamar?" Tanya Dave dengan senyum smirknya.


Rose menelan ludahnya kasar, "Maaf kak, aku tidak akan pernah melakukannya selama Kakak belum mencintaiku." Ucap Rose dengan keyakinan yang tipis.


"Rose.. Rose.. apa kamu tahu, hubungan orang dewasa sampai tahap ini tidak perlu memikirkan masalah cinta dan tidak. Apa kamu yakin masih ingin memperjuangkan hubungan ini hingga akhir?" Tanya Dave dengan menatap kedua netra Rose.


"Tentu Rose akan berjuang hingga akhir Kak, Rose tidak akan pernah menyesali semuanya meskipun kita berakhir tetapi Rose sudah berusaha." Jawab Rose panjang lebar.


"Jadi... apa kau mau melayaniku?"


...**...


Udan mulai bosen ya 😄 sama autor juga, masih proses penulisan novel yang baru.


Jangan lupa yaa, autor udah up beberapa bab kedepan.

__ADS_1



__ADS_2