
Happy Reading 🌹🌹
Dengan tangan gemetar Doni melanjutkan kertas terakhir dari Ayahnya.
Doni, jagalah keluargamu. Sayangi kedua cucu Kakek meskipun kamu mengetahui kebenaran yang menyakitkan.
Tidak ada yang ingin berada dalam situasi seperti ini, untuk anak dari Mawar.
Bernama Intan, dia bukanlah saudara kandungmu. Sudah Ayah siapkan hasil tes DNA secara sah dari pihak Rumah Sakit tanpa adanya ancaman dari Ayah.
Seluruh hasil tes 100% asli dari pihak Rumah Sakit. Untuk warisan, Ayah sudah katakan untuk cucuku kelak.
Ayah membagikan secara adil seluruhnya kepada kedua Bintang kita. Tidak ada yang Ayah beda-bedakan, bimbing mereka untuk menjadi penerus Wiratama meskipun mereka perempuan tidak masalah.
Ayah percaya kepadamu, kamu adalah anak kebanggaan Ayah. Sejak masih didalam kandungan Ibumu hingga akhir nafas Ayah.
Salam cinta dan sayang.
Gunawan
Doni memegang dadanya yang serasa sesak, hanya karena ke egoisan satu orang hingga merugikan keluarganya hingga detik ini.
Tanpa perintah, Rudi dan yang lainnya sudah membongkar seluruh isi-isi amplop dalam brangkas besi yang sudah di ambil oleh Putri.
...**...
Hari telah berganti.
Terlihat perusahaan Wiratama ramai di kerumuni oleh para pemburu berita. Baik dari media TV sampai cetak.
__ADS_1
Terlihat pak botak licin dan Intan duduk di atas panggung beserta Doni dan dewan direksi penting lainnya termasuk Sky dan Rudi.
Sedangkan wanita ular itu kemana? Tentu saja dia duduk canti di barisan penonton. Dengan angkuhnya dia mengibaskan rambut panjangnya.
Grace menatap lekat ke arah Sky, pria yang sebentar lagi akan dia dapatkan. Sedangkan pria yang di damba justru menatap lekat ke arah istrinya.
Matanya meneliti setiap lekuk wajah istri cantiknya. Sky melemparkan kedipan mata kepada Putri.
Putri yang melihatnya melototkan matanya, tetapi dalam hatinya dia bersorak riang. Hatinya semakin terpatri untuk mencintai suaminya itu.
Grace yang melihat pemandangan itu sangat geram, semakin bertumbuh kadar kebencian pada Putri.
Saat ini aku membiarkanmu tersenyum tapi tidak setelah acara ini, kamu akan menangis darah. Gumam Grace dengan seringai liciknya.
"Untuk seluruh tamu harap tenang, acara akan di mulai." Ucap seorang MC yang membuka acara.
MC tersebut memberikan mikrofon kepada Doni, "Selamat pagi semuanya, terima kasih sudah memenuhi undangan dari perusahaan Wiratama meskipun bukan dari saya. Seperti yang kalian tahu saya adalah CEO di perusahaan Wiratama." Ucap Doni dengan nada menyindir.
Kini mikrofon sudah ada di tangan Intan, segera wanita itu berdiri. "Perkenalkan saya Intan, saya adalah anak kedua dari Gunawan Wiratama yang di sembunyikan dari publik selama ini." Ucap Intan dengan sedikit memberikan drama menyedihkan untuk dirinya.
Seluruh jajaran sudah memperkenalkan diri dan jabatan mereka, kini MC kembali mengambil alih.
"Baik, kita langsung saja pada inti acara. Kami mengundang tamu dan jajaran petinggi lainnya untuk membahas penurunan jabatan Tuan Doni sekalu CEO saat ini yang akan di gantikan oleh Nyonya Intan selaku anak kedua dari Tuan Gunawan." Ucap MC tersebut.
"Sebelum menggantikan posisi saya sebagai CEO, apakah selama kepemimpinan saya perusahaan merugi. Jika di oimpin oleh saudara tiri saya apakah akan memajukan perusahaan, terlebih keberadaannya baru saya ketahui beberapa bulan lalu." Ucap Doni dengan tenang dan tegas.
"Ijin bertanya," Salah satu wartawan.
"Silahkan." jawab MC.
__ADS_1
"Tuan Doni, makhsud dari perkataan Anda yang menyebut Nyonya Intan adalah saudara tiri bisa di klarifikasi kepada kami. Terima kasih." Tanya wartawan A.
"Ya benar, Ayah saya menikah secara siri dengan ibu dari Nyonya Intan beberapa puluh tahun lalu. Tentu saja dia adalah saudara tiriku karena tidak terikat darah yang sama di dalam tubuhnya dengan keluarga Wiratama." Jawab Doni tegas dengan memasang wajah datar.
Terjadilah bisik-bisik tetangga di deretan para tamu, Intan menatap tajam ke arah Doni.
"Meskipun aku saudara tirimu, tetapi kita masih satu Ayah. Jangan melupakan fakta tersebut, bahkan aku memiliki foto pernikahan Ayah dan Ibu." Jawab Intan dengan sengit.
"Baiklah, kita memang satu Ayah. Tapi apa kamu bisa membuktikannya selain dengan foto pernikahan tersebut?" Tanya Doni dengan tersenyum miring.
Intan mengepalkan tangannya, sunggub sial dia tidak memiliki bukti yang kuat. Pak botak licin terus berfikir.
"Maaf Tuan Doni, kita sedang membahas pergantian jabatan Anda. Untuk urusan keluarga bisa dibahas ketika di rumah." Jawab pak botak licin.
"Tentu akan saya bahas di publik, karena menyangkut perusahaan dan karyawan yang menggantungkan hidup mereka di perusahaan Ayah saya. Karena saya tidak akan membiarkan orang lain masuk kedalam keluarga Wiratama." Jawab Doni dengan wajah yang mengejek.
"Doni, aku tahu kamu pasti sedih dan sakit hati karena Ayah tidak pernah menceritakan keberadaanku sebelumnya denganmu. Aku mohon jangan seperti ini, kasihan Ayah." Ucap Intan yang sudah akting menangis untuk menarik simpati para tamu.
Dari seluruh wartawan yang diundang oleh Intan dan botak licin, ada satu wartawan yang menyiarkan siaran secara live dan sudah di tonton oleh jutaan orang.
"Cih, kau membawa nama Ayahku yang sudah meninggal. Tak patut nama Ayahku keluar dari mulut wanita pembohong sepertimu." Jawab Doni tegas.
"Cukup! Doni aku selama ini hidup serba kekurangan, apa kamu tidak kasihan keoada saudaramu ini. Kamu bisa hidup mewah tidaj memikirkan esok hari akan makan atau tidak sedangkan aku, aku harus rela banting tulang untuk sesuap nasi." Ucap Intan yang sudah menangis tersedu-sedu.
Seperti itulah diterjen, jika ketika buruk di hina dan ketika naik di puja. Seperti saat ini Doni tengah di gunjing oleh para tamu dan juga yang menonton acara secara live.
...**...
Promosi novel, silahkan mampir.
__ADS_1