
...Hallo readers...
...Jangan lupa like dan sesajennya....
Happy Reading 🌹🌹
Waktu menunjukkan subuh, Bintang masih tidak dapat memejamkan matanya.
Dia sangat ingat jelas apa yang tengah dibicarakan Papanya oleh asistenbya melalui sambungan telfon.
"Bagaimana Zidan, kamu sudah menangkap Jack?" Tanya Doni dengan nada kesal.
"Tuan, sepertinya dia tidak lewat jalur udara. Kami sudah memblokade bahkan mengecek nama penumpang tidak ada nama Jackson dalam daftar penerbangan hari ini." Jelas Zidan kepada bosnya.
"Si/l kita kecolongan Zi, pasti dia menggunakan jalur air. Bagaimana bisa aku sampai melupakannya." Geram Doni dengan mengepalkan tangannya.
"Maafkan saya Tuan, tapi akan saya sebar anak buah kita. Saya masih berharap jika pria itu dinegara ini, mungkin dia tengah melakukan penyamaran." Jawab Zidan, dia sendiri tidak terfikirkan kabur menggunakan kapal.
"Cari sampai ketemu Zi, aku tidak mau jika kelak pria itu muncul dihadapan Bintang lagi." Ucap Doni dengan segera menutup sambungan telfunnya.
Doni melakukan panggilan diruangan Bintang dirawat, karena jam sudah menunjukkan waktu dini hari. Doni juga melihat istri dan anaknya sudah terlelap dalam tidur setelah kejadian Bintang pingsan tadi.
Tapi, tanpa Doni sadari. Bintang sebenarnya belum dapat tertidur.
Dia memikirkan Jackson, bagaimana pria itu meninggalkan dirinya dan benih yang sudah dia tabur didalam rahimnya.
Air matanya lolos begitu saja, dia tidak menyangka. Pria yang dia cintai ternyata hanya ingin mempermainkan dirinya.
Aku bersumpah, akan membunuhmu jika sampai bertemu Jack. Geram Bintang dengan kilatan amarah dimatanya.
Mentari semakin meninggi, seorang suster sudah masuk keruangan Bintang untuk mengantarkan sarapan dan juga mengganti cairan infus.
"Selamat pagi Ma," Sapa Bintang yang sudah duduk bersender.
"Pagi sayang, kamu sudah bangun." Jawab Bulan dengan menguap dan meregangkan otot-ototnya.
"Iya," Jawab Bintang singkat.
Bulan mengedarkan padangannya, tidak menemukan suaminya. Segera dirinya beranjak untuk cuci muka dikamar mandi.
Bintang menatap nanar punggung wanita yang sudah membesarkannya.
Bintang janji mah, Bintang akan menerima kehadiran anak kandung Mama dan Papa jika sudah ditemukan. Monolog Bintang pada dirinya sendiri.
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Bulan sudah selesai dengan aktivitasnya dikamar mandi.
"Papa kemana Bin?" Tanya Bulan yang berjalan mendekat brangkar anaknya.
"Papa tadi bilang akan pulang sebentar mengambil pakaian untuk Mama." Jawab Bintang.
__ADS_1
Bulan hanya mangut-mangut, "Bagaimana perasaanmu hari ini Bintang, apa masih terasa sakit atau tidak enak badan?" Tanya Bulan yang mengelus surai hitam anaknya.
"Bintang baik Mah, terima kasih." Jawab Bintang dengan nada bergetar.
"Kamu kenapa sayang, jangan sedih. Ada Mama dan Papa disini." Jawab Bulan dengan menghapus air mata yang sudah membasahi pipi Bintang.
"Mah, jika anak kandung Mama dan Papa sudah ditemukan. Bintang janji akan menerimanya." Ucap Bintang dengan menggenggam tangan Mamanya.
Air mata Bulan menetas, dengan bibir bergetar dia menjawab "Apakah benar, meskipun gadis itu adalah orang yang sudah kamu kenal."
Bintang menautkan kedua alisnya, "Apa anak kandung Mama berada disekitarku? Siapa dia Ma?" Tanya Bintang menuntut.
"Apa kamu yakin, dapat menerimanya Nak." Bukannya menjawab tetapi Bulan kembali bertanya.
"Yakin Mah, Bintang meminta maaf kepada Mama. Seharusnya Bintang menuruti ucapan Mama dan Papa. Terima kasih, sudah membesarkan Bintang dan menyayangi Bintang selama ini. Bintang janji akan menerima siapaun anak kandung Mama dan Papa." Ucap Bintang panjang lebar.
Bulan memeluk tubuh Bintang dengan erat, "Terima kasih Nak. Kamu memang anak yang baik." Ucap Bulan dengan melepaskan pelukannya.
"Kalau begitu siapa Mah, apakah dia perempuan atau laki-laki?" Tanya Bintang antusias.
"Dia perempuan sepertimu, gadis seusiamu." Jawab Bulan dengan tersenyum.
"Benarkah? Jadi aku akan memiliki saudara perempuan, siapa dia Mah?" Tanya Bintang dengan mata berbinar.
"Putri... Putri Danuarta istri Sky." Jawab Bulan dengan nada yang halus.
Binar dimata Bintang redup, tubuhnya membatu. Seolah otaknya berjalan seperti kaset rusak, bagaimana dirinya selalu berkata dan memperlakukan istri Sky.
"Ah, iya Mah. Berarti Putri adalah anak kandung Mama dan Papa, tapi apa Putri mengetahuinya Mah?" Tanya Bintang yang mencoba tetap tenang meskipun dalam hatinya entahlah.
Bulan menggeleng lemah, "Kemarin Mama dan Papa datang kekantor Sky, kami meminta untuk dapat dipertemukan dengan Putri." Jelas Bulan dengan menatap lembut kearah Bintang.
"Kami berharap, kalian dapat akur dan saling menyayangi Nak. Kalian adalah putri kami yang berharga." Lanjut Bulan lagi.
Bintang menundukkan kepalanya, dia tidak menyangka jika kasih sayang kedua orangtuanya sangat besar.
Bintang menatap Mamanya, dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Iya Mah, Bintang akan menerima Putri. Bintang juga akan meminta maaf dengannya, karena perbuatan Bintang yang jahat dengannya." Jawan Buntang.
Untuk sesaat kedua orang perempuan berbeda generasi itu saling memeluk.
"Yasudah, Mama akan membeli makanan. Tunggu sebentar ya." Ucap Bulan yang berpamitan kepada anaknya.
Bintang mengangguk dan tersenyum, tangannya meraba perutnya yang masih datar.
Sedangkan diluar kamar tersebut, sudah berdiri tiga orang yang masih senantiasa berdiri tanpa saling mengeluarkan sepatah katapun.
Tangan gadis itu semakin kuat meremas tangan suaminya, seakan dia mengatakan jika dia gugup.
Pintu berwarna putih itu terbuka, terlihat sosok wanita parubaya yang membukanya.
__ADS_1
Pandangan kedua wanita tersebut bertemu, sedetik kemudian air mata mereka menetes.
"Pu... Putri." Panggil Bulan dengan nada gemetar.
Putri masih mematung menatap lekan wajah wanita yang sudah melahirkannya kedunia, tetapi air matanya tidak bisa berbohong.
Dia rindu, sangat rindu sosok yang selama ini hanya dapat dia bayangkan didalam imajinasi dan mimpinya.
Bulan berjalan mendekat ingin memeluk Putri, tetapi Putri memundurkan langkahnya. Tangannya masih senantiasa menggenggam tangan Sky.
"Putri." Ucap lirih Bulan yang semakin menangis menahan sesak karena anak kandung yang selama ini dia rindukan menghindar.
"Ini Mama nak." Lanjut Bulan lagi.
Putri melepaskan genggaman tangannya dan berlari melewati koridor Rumah Sakit tersebut.
"PUTRII!!!" Jerit Bulan yang kini sudah luruh kelantai.
"Tunggu disini Briel." Ucap Sky.
Segera Sky mengejar Putri, dengan langkah lebar akhirnya dia dapat menghalangi pintu lift yang akan tertutup.
Terlihat istrinya sudah menangis dengan sesenggukan, segera Sky masuk dan meneluk istrinya.
Tanpa bertanya apapun, Sky hanya memeluknya saja. Dia membiarkan gadis itu menumpahkan seluruh rasa yang sudah dia pendam selama ini.
Didalam ruanga, Bintang tersentak kaget karena jeritan Ibunya. Dengan perlahan dia turun dari brangkar dan membawa infusnya.
Meskipun terasa nyeri diperutnya, Bintang ingin keluar dari ruangannya.
Pintu semakin terbuka lebar, terlihat Ibunya menangis dengan bermpuh dilantai.
"Mama." Panggil Bintang lirih.
Bulan mendongakkan kepalanya, "Bintang."
Bintang mencoba duduk dilantai dengan Ibunya, sedangkan asisten Sky hanya berdiri tanpa ingin mendekat.
(Tak punya perasaan Gabriel ini 😈)
"Ada apa Mah, mana Putri? Tadi Bintang mendengar Mama meneriakkan namanya." Ucap Bintang yang menghapus airmata Mamanya.
"Pu... Putri lari Bin, dia tidak ingin bertemu Mama." Jawab Bulan yang kini menangis dipelukan Bintang.
Bintang hanya dapat diam membisu, tangannya bergera mengeluh punggung Mamanya. Dia juga tidak tahu harus mengambil sikap bagaimana.
Bintang dapat memahami, perasaan Putri pasti tidak akan mudah menerima kenyataan. Terlebih selama ini dirinya menggantikan posisi Putri dalam keluarga Wiratama.
...**...
__ADS_1
...Udah besok lagi....
...Autor mau setrika baju 😑...