
Happy Reading 🌹🌹
Setelah aktivitas yang menguras tenaga tetapi membahagiakan jiwa dan raga.
Sky dan Putri segera berangkat ke mansion Wiratama.
"Sudah, jangan cemberut terus sayang. Apa bibirmu ingin aku cium lagi." Seloroh Sky yang masih fokus menyetir.
Putri memukul lengan Sky, dia sangat kesal karena ulah suaminya. Sungguh saat ini Putri ingin menenggelamkan dirinya di atas kasur karena badan yang terasa remuk redam.
Sky tergelak karena melihat wajah Putri yang semakin di tekuk kedalam, tidak apa-apa jika istrinya cemberut. Terpenting Sky junior harus segera hadir pikirnya.
"Sudahlah, lelah berbicara denganmu. Apa yang aku ucapkan pasti akan selalu bertolak belakang denganmu." Ucap Putri dengan bersedekah dada dan pandangannya fokus kedepan.
"Maka dari itu, menurut saja apa ucapanku." Jawab Sky dengan kekehan kecil.
"Nanti jika melewati toko bunga, mampir sebentar. Bintang memesan untuk membawakannya bunga." Ucap Putri yang masih fokus menatap lurus kedepan.
Sky menoleh sebentar ke arah istrinya dan kembali fokus menyetir, "Apa dia ngidam bunga?" Tanya Sky kembali.
"Mungkin, aku juga tidak tahu. Dia hanya bilang menitip bunga." Jawab Putri datar.
Sky mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
...**...
Di negara lain, terlihat Jackson terkulai lemas, pria dengan badan kekar dan berwajah sangar tersebut kini berbaring tidak berdaya di atas kadung king sizenya.
Terlihat jelas, punggung tangannya tertancap jarum infus yang menyuplai cairan dan juga vitamin pada tubuhnya.
"Tuan," Ucap sang asisten.
"Mana?" Tanya Jack yang tidak sabar.
Asisten Jackson bernama Rex segera menyerahkan amplop coklat kepada Jack.
Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, Jack membuka amplop tersebut dengan rasa tidak sabar.
Terlihat foto-foto Bintang yang di ambil secara diam-diam oleh orang suruhan Jack, telihat Bintang yang tertawa tetapi tatapan matanya menggambarkan kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
Ibu jari Jackson mengelus foto Bintang dengan penuh kasih sayang, kemudian beralih pada perut buncit Bintang.
"Kenapa perutnya besar sekali Rex?" Ucap Jackson pada asistennya.
"Saya tidak mendapatkan informasi apa-apa Tuan, sepertinya sudah cukup lama Nona Bintang tidak pergi ke dokter kandungan." Jawab Rex apa adanya.
"Nyonya Rex, bukan Nona. Karena sebentar lagi dia akan menjadi istriku." Tegur Jackson pada asistennya.
"Apa kamu yakin Jack? Sepertinya tidak mungkin gadis itu mau kembali bersamamu." Ucap Rex dengan nada mengejek.
"Jika dia tidak mau, maka aku yang akan memaksanya Rex. Hanya aku yang boleh memilikinya." Jawab Jackson arogan.
"Ck, dasar orang tua. Jika aku menjadi gadis itu akan aku tendang burung perkututmu." Kata Rex dengan mengambil foto yang ada di tangan Jackson.
"Si*lan kau! Kembalikan!" Seru Jack pada asistennya sekaligus sahabatnya tersebut.
Rex mengembalikan foto yang dia ambil, "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa hanya akan terkapar di sini." Ucap Rex datar.
"Si*al, aku juga ingin menemuinya Rex. Kau tau aku tersiksa dengan semua ini." Keluh Jack karena semenjak bertambahnya usia kandungan Bintang, Jack mengalami gejala ibu hamil.
"Ya... ya... memang kamu pantas mendapatkan siksaan ini dari calon anakmu Jackson, aku tidak bisa membayangkan bagaimana anakmu akan menyiksamu kelak." Kelakar Rex dengan di akhiri tertawa kencang karena membayangkan Jackson kalah telak oleh anaknya.
"Tidak akan Rex," Jawab Jack penuh keyakinan.
"Kirimi bunga setiap hari kepada calon istriku Rex, setiap hari aku akan kirimkan pesan apa yang aku berikan kepasanya setiap hari." Perintah Jackson kepada Rex.
Rex ber-akting seakan dirinya muntah mendengar ucapan Jackson, tetapi tangannya tetap bekerja untuk memberikan perintah kepada seseorang yang tengah memata-matai kegiatan Bintang.
Jackson yang melihat ulah Rex mendengus kesal, dia berdoa semoga anaknya tidak menyebalkan seperti asistennya.
...**...
Kini Sky dan Putri telah sampai dikediaman Wiratama, Putri masuk kedalam rumah. Terlihat Bintang tengah tersenyum bahagia menata bunga di dalam vas kaca.
Putri segera mengmapiri Bintang, "Cie, dapat bunga dari siapa sih." Goda Putri pada saudaranya.
Bintang menoleh, dia menatap kearah Putri terlihat ditangan Putri membawa buket bunga pesanannya.
"Bukankah ini bunga yang kamu kirimkan?" Tanya Bintang dengan menunjukkan bunga mawar putih kepada Putri.
__ADS_1
"Tidak, aku membeli dan mengantarkannya langsung. Lihat ini." Putri menunjukkan buket bunga mawar putih yang sama di dapatkan oleh Bintang.
Keduanya saling menatap bunga yang sudah tertata cantik di dalam vas kaca tersebut, "Lalu siapa yang mengirimkan aku bunga ini Put?" Tanya Bintang sedikit takut.
"Mungkin penggemar rahasiamu." Jawab Putri enteng dengan meletakkan bunga yang dia bawa di atas meja.
"Jangan bercanda. Apa jangan-jangan ada yang memperhatikan aku," Ucap Bintang dengan memepet tubuh Putri dan menggenggam erat lengannya.
"Tenanglah, tidak mungkin ada yang berani menguntitmu. Orang itu pasti akan habis oleh bodyguard yang di tugaskan oleh Papa untuk menjagamu." Jawab Putri dengan menepuk pelan punggung tangan saudaranya.
Sky terlihat duduk di ruang tamu dengan segelas es kopi yang di sajikan oleh maid di mansion Wiratama, Hpnya berdering menandakan jika ada panggilan masuk.
Tertera nama asistennya berada di layar HPnya, Sky segera mengangkat panggilan tersebut karena sejak berbagi peluh dengan Putri. Sky selalu mematikan HPnya agar tidak di ganggu.
"Halo." Ucap Sky kepada Gabriel.
"Aku kira kamu sudah mati," Jawab Gabriel ketus.
"Jangan marah-marah Briel, jangan membuat para wanita takut mendekatimu." Jawab Sky tanpa dosa.
Gabriel yang di sebrang telfon mendengus kesal, sungguh bos tidak ada akhlaq.
"Tuan Rudi Danuarta ingin mengajak bertemu denganmu juga Putri." Ucap Briel di sebrang telfon.
"Ada apa? Ck, tidak anaknya... tidak bapaknya kenapa selalu ingin bertemu denganku juga Putri." Cebik Sky di sebrang telfon.
Gabriel memutar bolanya malas, sepertinya bosnya sudah mulai narsis, "Jangan mimpi, mereka ingin bertemu dengan Putri bukan denganmu. Kamu hanyalah butiran debu di mata mereka." Seloroh Gabriel dengan suara yang datar.
"Apa kau ingin mati Briel." Jawab Sky menggeram kesal.
"Realita," Jawab Gabriel menantang Sky.
"Tidak ada bonus bulan ini Briel." Ucap Sky yang susah menekuk wajahnya kesal.
"Baiklah, aku akan pulang. Tidak akan ada yang mengurus pekerjaanmu lagi jika kau tidak berangkat ke kantor. Aku pastikan Tuan akan sering berpuasa karena kelelahan bekerja" Jawab Gabriel semakin menantang Sky, meskipun di dalam hati komat kamit membaca mantra.
Sky mendengus kesal, dia mematikan telfunnya secara sepihak dan melemparkannya ke samping sofa. Baru kali ini ada asisten berani menantang ucapan atasannya, ingin sekali Sky mengigit telinga Briel.
Eh tunggu... cih amit-amit mengigit telinganya. Lebih baik mengigit istrinya yang akan mengeluarkan simfoni indah.
__ADS_1
...**...
...Jangan lupa like, komen, dan votenya...