Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Menguping


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Cahaya mentari masuk merambat melalui celah-celah gorden yang masih tertutup.


Terlihat tubuh kekar tengah meringkuk di lantai dengan matanya yang sembab dan beberapa goresan akibat kaca yang mengenai dirinya.


Jackson, sejak semalam mengurung diri di dalam kamarnya. Sedangkan Rex telah kembali ke apartemen karena keluar membeli bubur untuk Jackson.


Rex mendekati kamar yang masih tertutup rapat itu, "Masih di kunci," Gumam Rex lirih. Akhirnya Rex sarapan terlebih dahulu untuk menghadapi pria yang tengah patah hati.


Terdengar bunyi telfon berdering, segera Rex mengangkat telfon tersebut dengan raut wajah yang serius dan khawatir.


Segera Rex bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian formal kerjanya dan mengetuk pintu Jackson.


"Jack... Jackson, jangan menyiksa diri sendiri. Kamu tahu sekarang Bintang tengah sakit, jika kamu tidak kuat menghadapi penolakan Bintang maka kita akan kembali dan lupakan gadis itu." Ucap Rex dengan suara keras.


Jackson yang mendengar kalimat melupakan Bintang segera bangun dan berjalan melewati benda-benda yang berhamburan di lantai.


Suara pintu terbuka, terlihat sosok pria dengan badan yang atletis tetapi penampilannya kacau.


"Akan aku robek mulutmu Rex," Desis Jackson dengan suara seraknya.


"Sekarang pilihan ada di tanganmu Jackson, kamu ingin bertahan atau melupakan." Jawab Rex tegas.


Jackson tepaku dengan pertanyaan Rex, dengan sisa sisa keyakinannya "Aku memilih bertahan." Jawab Jackson lugas.


Rez tersenyum dan menepuk pundak Jackson, "Segeralah bersiap-siap, kita akan datang di kediaman Witatama." Ucap Rex.


"Ada apa, kenapa cepat sekali. Ak... aku belum ada persiapan." Ucap Jackson tergagap.


"Ayah dan Mamanya Bintang ingin bertemu denganmu Jack. Jangan sia-siakan kesempatan ini." Kata Rex dengan wajah dinginnya.


Jackson berfikir, ini adalah permintaan dari calon mertuanya. Mungkin dengan dia memenuhi panggilan tersebut dapat dengan mudah mendapatkan restu dari kedua orangtua Bintang.


Segera Jackson berlalu dari hadapan Rex, dia akan bersiap-siap semaksimal mungkin untuk bertemu dengan kedua orangtua Bintang. Bahkan Jackson sudah menyiapkan fisiknya jika dihajar oleh Doni.


...**...


Ketika Doni turun menuju ruang kerjanya, dia hanya duduk termenung dengan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.

__ADS_1


Semenjak permintaan istrinya tempo hari membuat Doni banyak merenung, dia akan menjadi orang terkejam di dunia jika memisahkan dua insan yang saling mencinta.


Cukup lama Doni merenung, hingga pintu di ruang kerjanya terbuka. Ternyata Bulan, setelah memastikan Bintang tidur. Bulannaegera menyusul suaminya di ruang kerja.


"Bagaimana Pah? Apa Papa masih bersikeras memisahkan mereka." Tanya Bulan yang sudah duduk di depan Doni.


"Dia baru bertemu dengan Bintang sudah membuatnya menangis Mah," Jawab Doni lirih.


"Itu adalah proses Pah, tidak mungkin mereka bertemu tiba-tiba saling berpelukan dan bersuka cita. Pasti mereka saling menyalahkan dan menyesali semua kejadian yang menimpa mereka." Jawab Bulan panjang lebar.


"Baiklah, Papa akan mengalah. Panggil pria itu besok di mansion, jika tidak datang jangan harap melihat Bintang dan kedua cucuku." Ucap Doni mengalah menekan segala prasangka buruknya.


Bulan tersenyum dan bangkit dari duduknya untuk menghampiri Doni. Satu kecupan mendarat di pipi Doni dan Bulan mengucapkan Terima kasih kepada suaminya.


Doni tersenyum mengangguk dan mengajak Bulan untuk segera beristirahat karena hari sudah larut tengah malam.


...**...


Dengan jantung yang berdegup kencang, Jackson keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke mansion keluarga Wiratama.


Disana Jackson dan Rex sudah di sambut oleh kepala pelayan untuk mengarahkan mereka ke ruang tengah tepat sejurus di depan pintu kamar Bintang.


Doni sangat geram dan mengancam akan menghajar Jackson hingga mati jika sampai Bintang dan baby twins sakit dengan waktu yang lama.


"Saya permisi Tuan," Ucap kepala pelayan setelah mengantarkan kedua tamu tersebut.


Doni dengan gaya angkuhnya menatap tajam kearah Jackson dan Rex, sedangkan Bulan hanya berwajah datar saja.


Tanpa di duga, Jackson langsung bersujud menghadap kedua orangtua Bintang sembari menundukkan kepala.


"Apa yang kamu lakukan Jack!" Seru Bulan yang kaget.


Sedangkan Doni masih berwajah datar dengan posisi duduk yang sama.


"Maafkan aku... aku benar-benar meminta maaf kepada kalian." Ucap Jackson dengan penuh sesal.


"Apa kata maafmu bisa mengembalikan putriku?" Tanya Doni dengan nada dingin.


Jackson hanya diam yang kemudian dia menggeleng lemah, "Tapi, berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku selama ini." Pinta Jackson dengan nada memohon.

__ADS_1


"Kesempatan?? Kamu hilang begitu saja dan kemana saja dirimu selama ini, sedangkan anakku menanggung semua hinaan itu sendiri. Sekarang dengan mudahnya kamu meminta kesempatan." Ucap Doni dengan penuh penekanan.


"Maafkan aku." Satu kata yang hanya dapat diucapkan oleh Jackson.


Sedangkan Rex berkomunikasi lewat tatapan dari Nyonya Wiratama, Rex paham dengan keinginan kedua orangtua Bintang. Sehingga Rex hanya diam saja tanpa membantu bosnya.


"Hanya itu? Jika hanya kata maaf yang mampu kamu ucapkan, kami sudah memaafkanmu. Sekarang kamu bisa pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan kami." Ucap Doni yang mulai tersukut emosi.


Jackson mengangkat wajahnya, terlihat matanya yang sudah berkaca-kaca. Kepalanya menggeleng kuat.


"Jangan, aku mohon. Berikan aku kesempatan untuk membahagiakan Bintang dan juga anak-anak kami. Aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi." Ucap Jackson yang sudah menakutkan kedua tangannya di depan dada.


"Jangan terlalu mengumbar banyak janji," Sinis Doni pada Jackson.


"Duduklah, jangan seperti itu." Ucap Bulan kepada Jacson dan Rex.


Rex mengangguk dia melangkah mendekati Jackson dan membantunya bangkit untuk duduk di sofa.


Bulan meletakkan beberapa lembar foto yang di dapat dari Rudi, Jackson menatap secara berganti antara foto dan juga Bulan.


"Jelaskan kepada kami, apa statusmu sebenarnya." Ucap Bulan tenang.


Tangan Jackson terulur mengambil foto-foto tersebut, matanya melebar terlihat jelas dirinya dengan Celine temannya.


"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, kami hanya berteman." Jelas Jackson cepat.


"Berteman? Apa kamu yakin." Ucap Doni dengan nada mengejek.


"Yakin, dia adalah teman satu kampusku dulu juga bersama Rex." Jawab Jackson tegas.


"Apa kamu tahu jika gadis itu mencintaimu?" Tanya Bulan dengan wajah datarnya.


Jackson terdiram, dia teringat kejadian tempo hari dimana Celine bertelanjang dada di depannya bahkan gadis itu dengan senang hati melemparkan diri di kasur Jackson.


"Berarti kamu sudah tau Jack." Lanjut Bulan lagi.


"Lihat Mah, sudah Papa bilang pria itu tidak pantas untuk Bintang. Bintang disini berusaha melupakan seluruh sakit hatinya tetapi pria di depan kita ini. Justru terlihat bersenang-ssnang dengan wanita lainnya."


"Ishh... Papa dan Mama berbicara apa sih dengan Jackson. Tidak mungkin jika Papa menghajarnya bukan atau menggantungnya di pohon cabai?" Gumam Bintang yang menempelkan telinganya di pintu kamarnya.

__ADS_1


...**...


__ADS_2