
Happy Reading 🌹🌹
Terdengar suara pintu ruangan Putri di buka, terlihat Ambar dan Agung berkunjung lagi.
Putri dan Sky tengah asik menggoda anaknya mengalihkan perhatiannya ke arah pintu tersebut.
Ambar langsung berjalan mendekati Putri "Apa kabar sayang, apakah kamu sudah boleh pulang?" Tanya Ambar to the point.
Putri melirik suaminya, dalam hati dia ingin sekali pulang karena tidak ada keadaan yang membahaykan.
"Satu minggu lagi Mah," Jawab Sky yang masih duduk di pinggir brangkat.
Putri melebarkan kedua kelopak matanya, bahkan Ambar sang Mama sudah memukul pundak Sky.
"Apa kamu pikir istrimu sakit-sakitan, hari ini kita pulang." Putus Ambar yang menatap Sky tajam.
"Tidak! Putri istri Sky, jadi Sky yang memutuskan. Satu minggu lagi kita pulang." Jawab Sky dengan wajah datarnya.
Putri menatap Ambar dan Sky secara bergantian, "Mas. Kita pulang saja, aku ingin melihat anak kamar kita." Ucap Putri pelan.
Sky menatap istrinya, kamar? oh... Sky kau belum mempersiapkan kamar anakmu.
Agung yang melihat wajah panik Sky hanya tersenyum tipis.
"Kenapa Sky? Kamu belum menyiapkan kamar anakmu? Sungguh tidak berperikebapaan. Hari ini kita pulang dan tidur di mansion Gandratama." Ucap Agung yang sejak tadi diam.
Putri melihat ke wajah suaminya dan mengelus pelan rahang tengas itu, "Ya, kita pulang saja Mas. Sekalian menyiapkan kamar Langit, kita bisa tidur bertiga dulu sementara." Kata Putri.
Sky semakin memasang wajah memelas, jika tidur bertiga berarti langit di tengah mereka. Sky tidak dapat memeluk istrinya.
Nelangsa sekali, sudah puasa tidak dapat menyentuh. Sky merutukinya, tetapi dia juga yang membuat Putri hamil.
__ADS_1
"Sudah, akan Ayah uruskan kepulanganmu Nak. Mama segera kemari pakaian Putri dan Sky." Ucap Agung yang melenggang pergi meninggalkan kamar menantunya.
...**...
Waktu terus berjalan.
Terlihat Bulan dan Doni beserta Bintang dan Jackson tidak lupa baby twins berkunjung ke mansion Gandratama.
"Ya, ampun. Cucu oma tampan sekali." Ucap Bulan dengan wajah yang bahagia.
"Benar jeng, mirip sekali denganku bukan?" Tanya Ambar dengan bangga.
Agung yang mendengarnya hanya tertawa, beruntung saat ini Sky masih mempersiapkan kamar Langit di mansion yang sudah di beli Sky sendiri.
"Ish, jeng. Ini mirip Sky." Jawab Bulan
"Ya ampun Jeng, Sky itu mirip siapa? Aku bukan, berarti Langit juga mirip Aku." Ambar bersikukuh dengan pemikirannya.
Ambar semakin tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Sedangkan kini Bintang dan Putri tengah duduk di dekat kolam renang.
"Bagaimana keadaanmu setelah melahirkan Put?" Tanya Bintang yang berhadapan dengan saudaranya.
"Baik, bagaimana kamu sendiri? Kenapa tidak langsung memberi kabar jika kamu sudah melahirkan kedua bayimu?" Tanya Putri menuntut.
"Emm.. panjang Put ceritanya." Jawab Bintang dengan meneguk minumannya.
"Apa yang kamu tutupi Bintang?" Tanya Putri dengan wajah curiga.
Bintang mengalihkan pandangannya, "Mikayla sakit." Ucap Bintang lirih.
__ADS_1
"Sakit? Sakit apa?" Tanya Putri yang cukup kaget.
"Kedua bayimu lahir tidak sesuai prediksi dokter, saat aku baru sampai di negara suamiku. Kami dihadang oleh musik Jackson di bandara, saat itu aku mengalami kontraksi karena keadaan yang membuatku tertekan." Bintang berhenti dan menjeda ucapannya.
Putri berdiri menghampiri Bintang dan langsung memeluknya, tangis Bintang pecah. Di sana Bintang menceritakan kejadian pertama kali dirinya datang bersama Jackson bahkan penculikan kedua anaknya.
Tidak ada yang tahu kejadian itu kecuali Bintang dan Jackson sendiri, Bulan dan Doni hanya tahu jika kedua bayi kermbarnya lahir secara prematur dan membuat Mikayla memiliki penyakit jantung.
Kedua tubuh gadis itu merasa di peluk orang lain, terlihat Bulan sudah berurau air mata.
"Jeng, aku mau ke toilet sebentar dan melihat kedua putriku." Bulan memberikan Langit ke gendongan Ambar.
"Baiklah, biarkan Langit bersama kembarannya." Seloroh Ambar.
Bulan berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi, langkahnya terhenti ketika mendengar suara isakan tangis seseorang.
Bulan mengurungkan niatanhya ke kamar mandi, karena kamar mandi tersebut melewati area kolam renang.
Mata yang berkabut dan air mata yang sudah luruh tanpa permisi, Bulan mendengarkan dengan seksama cerita Bintang dari balik tembok.
Bulan sudah tidak kuat, dia keluar dari persembunyiannya dan memeluk kedua anaknya dengan erat.
"Mama" Kata Putri dan Bintang bersamaan.
"Maafkan Mama... Maafkan Mama." Ucap Bulan yang sudah luruh ke lantai dengan menangis.
Bintang dan Putri segera bersimpuh di lantai dan memeluk Bulan, mereka bertiga menangis dengan perasaan mereka masing-masing.
"Mama tolong jangan katakan kepada Papa, Bintang tidak mau jika harus di pisahkan dengan Jackson. Saat ini Jackson sudah tidak berkecimpung di dunia gelap lagi, dia hanya bekerja di perusahaan dan kembali ke rumah dengan tepat waktu." Ucap Bintang panjang lebar menjelaskan kepada Bulan.
Bulan mengangguk, dia akan menyimpan rahasia ini hingga mati. Karena melihat Bintang sangat bahagia hidup dengan pria yang mencintainya.
__ADS_1