
Happy Reading🌹🌹
...Kasih vote dong, udah hari Selasa loh ini....
...Ayo ayo... autor jadi pemalak nih 😁...
Hari telah berganti, Putri dan Sky sudah bersiap untuk pergi menuju tempat acara. Selama dalam perjalanan hanya ada keheningan yang tercipta.
Setelah sampai di hotel, Sky keluar terlebih dahulu karena menerima telfon. Putri menatap punggung suaminya dengan perasaan sedih. Padahal baru kemarin mereka memadu kasih tetapi setelah kepulangan mereka di kota menjadi dingin.
"Mari Nyonya saya antar," Ucap Pak Ujang sopir pribadi keluarga Wiratama.
Putri mengangguk, jujur Putri juga tidak tahu dimana letak ruangan pernikahan Bintang dan Sky karena semalam dirinya makan di dalam kamar.
Putri keluar dari mobil dan berjalan mengikuti langkah Pak Ujang, mereka menaiki lift untuk menuju ruang rias pengantin.
Pak Ujang mengetuk salah satu pintu kamar, "Nyonya silahkan masuk." Ucap Pak Ujang sopan kepada Putri.
"Terima kasih Pak Ujang," Jawab Putri tidak kalah sopan.
"Baik, saya tinggal Nyonya. Sebentar lagi Nyonya Bulan dan Nyonya Ambar akan datang." Jelas Pak Ujang sebelum pergi.
Putri mengangguk dan melangkah masuk di ruangan tersebut, terlihat kamar yang sangat luas. Putri berjalan menuju pinggir jendela dapat terlihat bagaimana hiruk pikuknya jalan raya di kota ini.
Putri menghembuskan nafasnya kasar, jika teringat sikap dingin Sky sungguh membuatnya menjadi malas untuk melakukan aktivitas.
"Sayangggg!" Seru Ambar kepada menantunya.
Putri menoleh dan berusaha tersenyum, Ambar yang tadinya tersenyum lebar menjadi wajah garang.
"Kamu kenapa Put, siapa yang menyakitimu?" Tuntut Ambar sang mertuan.
Putri menggeleng lemah tetapi tidak bisa menahan air matanya untuk keluar, yang awalnya hanya diam menjadi tangisan yang kencang.
Ambar bingung dengan situasi di luar ekspektasi nya, sedangkan Bulan yang tengah membawa gaun Putri segera berlari cepat karena mendengar suara tangisan anaknya.
Ya, ketika Ambar masuk. Pintu kamar Putri tidak tertutup rapat. Sehingga suara dari dalam bisa menerobos keluar dengan terbawa angin.
"Ada apa ini." Ucap Bulan yang masuk dan meletakkan gaun Putri begitu saja di atas kasur.
Bulan memeluk Putri yang sudah di peluk Ambar terlebih dahulu, terlihat penampilan ibu muda itu sangat kacau.
"Kenapa sayang, ada apa?" Tanya Bulan kepada anaknya.
"S... Sky Mah, dia... dia... huaaaaa." Tangis Putri semakin kencang seperti anak kecil yang meminta permen.
Ambar yang mendengar nama Sky di sebut langsung membuat Putri berhadapan lurus dengan pandangannya, pasti anaknya itu membuat ulah.
__ADS_1
Jika sampai Sky bermain gila dengan wanita lain, maka Sky harus mengucapkan selamat tinggal dengan burung perkututnya.
"Ada apa dengan anak bandel itu sayang, cerita kepada kami." Tuntut Ambar kepada menantunya.
Dengan suara terbata-bata Putri menceritakan kejadian dimana Sky mendiamkan dan mengacuhkannya.
Membuat Putri teringat dulu Sky juga bersikap seperti itu, "Apa salah Putri Mah?" Tanya Putri yang masih menangis.
"Tenang sayang, kita akan membuat pria tua ini menangis di pojokan." Ucap Ambar penuh ambisi.
Bulan yang melihat datangnya drama lagi hanya menggeleng lemah, Bulan hanya dapat menguatkan Putri. Jika nanti dia ingin memberi nasihat tidak perlu di depan orang lain meskipun itu adalah Ambar.
Karena menurut autor, jika kita ingin menasehati anak atau saudara janganlah di depan keluarga sendiri. Karena pasti akan merasa di permalukan.
"Mama panggil MUA nya dulu ya, pasti Bintang sudah selesai." Ucap Bulan yang mencium kening Putri dan mengusap sisa air matanya.
Putri mengangguk dan masih belum tahu jika dirinya juga calon mempelai hari ini.
...**...
Dua jam lalu di ruangan Bintang
Terlihat Bintang, Mama Bulan dan Ambar sudah berada di ruangan make up pengantin. Disana Bintang mendapatkan make up sesuai tema pernikahan dan juga gaunnya.
"Sudah selesai, bisa di lepas bajunya dan menggunakan gaun pengantin." Ucap perias yang menunjukkan gaun yang masih tertutup tempat hitam.
"Eh, iya... Apa Jeng Tuti salah kirim gaun ya. Akan Mama telfon sebentar." Ucap Bulan dengan mencari kontak pemilik butik.
"Tidak perlu menelfon jeng, aku datang membawa mahkota pesanan pelangganku." Ucap Tuti yang sudah masuk di ruangan Bintang.
"Ya ampun jeng, apa kamu salah kirim gaun. Ini bukan pilihan Bintang kemarin, bisakah pegawaimu datang kemari mengantarkan gaun yang benar." Ucap Bulan khawatir.
"Sudah di antar jeng, diantar ke mansionmu." Jelas Tuti kepada Bulan.
"What! Itu akan memakan waktu lama jika perjalanan untuk kesini." Lirih Bulan.
"Jeng, ini gaun pilihan Bintang yang sebenarnya. Iyakan Nak? Coba dilihat baik-baik." Ucap Tuti kepada Bintang.
Bintang meneliti gaun dari pantulan cermin, ini tidak asing. Oh My jangan bilang Jackson yang membelikan untuknya.
Bintang menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menatap Tante Tuti yang tengah tersenyum kearahnya.
"Iya Nak, ini adalah gaun yang kamu inginkan. Kemudian calon suamimu meminta Tante untuk merubah size dalam waktu satu malam. Akan Tante minta dengan bayaran mahal karena membuat Tante dan Karyawan tidak tidur satu malam." Seloroh Tuti kepada Bintang.
Bintang nampak terharu mendengar jawaban dari Tuti, dia tidak menyangka jika Jackson sangat peka dengan keinginannya.
"Sudah jangan nangis, sekarang lanjutkan." Ucap Tuti kepada semuanya.
__ADS_1
Bintang mengangguk dan para perias segera menata gaun yang dikenakan Bintang agar terlihat sempurna hari ini.
Karena kandungan Bintang yang besar membuat para perias berhati-hati agar tidak terlalu letat dan terlalu longgar untuk gaunnya.
"Apakah terlalu ketat Nyonya?"
"Apakah terlalu longgar?"
"Apakah sudah nyaman?"
"Bagaimana rasanya, apakah sudah pas."
Begitulah kiranya pertanyaan yang meluncur di bibir para perias yang membantu menggunakan gaun pernikahan Bintang.
Bintang sudah selesai dengannriasanya, terlihat di pantulan cermin dirinya sangat berbeda. Aura kebahagiaannya lebih terpancar sehingga membuat wajahnya bakal bolam lampu kristal.
"Apa Bintang sudah cantik Mah?" Tanya Bintang kepada Bulan.
"Kamu sangat cantik sayang, pasti Jackson akan semakin jatuh cinta kepadamu." Ucap Bulan dengan menyentuh pundak anaknya.
Bintang tersipu malu dengan ucapan Mamanya, Bulan yang melihat blush on Bintang semakin merah tahu jika anaknya pasti malu.
"Yasudah, Mama akan menyusul Tante Ambar ke kamar Putri dulu ya sayang. Jika kamu ingin apa-apa bisa minta tolong dengan pelayan di sini." Ucap Bulan kepada Bintang.
Bintang menganggukkan kepalanya sebagai pertanda mengerti, "Ya Mah, aku nanti bisakan menyusul Putri di ruangannya?" Tanya Bintang yang menatap Bulan lewat cermin.
"Tentu sayang... anak-anak Mama yang cantik akan berkumpul menjadi satu." Ucap Bulan riang.
Segera Bulan mengambil gaun milik Putri dan membawanya ke ruangan Putri. Para perias masih membereskan perlengkapan mereka untuk berpindah tempat.
...**...
Jangan lupa tekan like
Beri bunga mawar
Beri kopi
Beri vote
Tekan tombol love sebagai favorit
Komentar yang membuat autor semangat
Mampir juga, autor tunggu kalian.
__ADS_1