Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Video Anu


__ADS_3

...Hallo jangan lupa like dan sesajennya....


Happy Reading 🌹🌹


Putri yang kaget, mengetahui jika Bintang hamil. Segera menoleh kearah Sky yang duduk disofa belakang.


Terlihat Bu Siti juga sudah disana, karena Putri terlalu larut dengan suasana tadi. Membuat dirinya tidak fokus siapa saja yang berada diruangan tersebut.


"Ibu." Panggil Putri yang tengah berjalan menuju Bu Siti.


Bu Siti segera berdiri dan menerima pelukan dari Putri.


"Ibu kesini dengan siapa?" Tanya Putri setelah melepas pelukannya.


"Hallo Putri, apa kamu lupa dengan Tante?" Lila menyapa Putri terlebih dahulu.


Putri menaikkan sebelah alisnya, dia berusaha mengingat siapa wanita yang sudah berusia tetapi masih tetap terlihat cantik tersebut.


"Put, ini Tante Lila. Dulu sering berkunjung ke panti dengan anak kecil laki-laki. Apa kamu lupa." Jawab Bu Siti mengingatkan karena melihat Putri yang bingung.


"Maafkan Putri Tante," Jawab Putri sopan karena dirinya benar-benar lupa, tetapi masih ingat pria kecil itu.


"Tidak apa-apa Nak, kamu sudah tumbuh besar ya." Jawab Lila kini memeluk Putri.


Putri menerimanya dengan senang hati.


"Pria disamping Tante ini adalah suami Tante, namanya Om Rudi." Jelas Lila pada Putri.


Putri mengangguk dan hanya tersenyum kepada Rudi.


Putri masih mencari seseorang diantara ketiga orang tersebut, Lila menatap heran kearah Putri.


"Kamu mencari apa Put?" Tanya Lila dengan nada lembut.


"Em, anak Tante lila dimana?" Tanya Putri polos.


Ekhm, Rudi berdehem untuk kode agar istrinya tidak lebih jauh lagi melanjutkan ucapannya.


"Anak Om dan Tante masih diluar negeri." Jawab Rudi datar.


Putri hanya mangut-mangut sedangkan Sky sudah tau jika Dave adalah teman kecil istrinya.


Sky mengalihkan pandangannya kearah Rudi dan Lila.


Jadi mereka orang tua Dave, tapi kenapa Ayahnya Dave seakan tidak suka dengan pertanyaan Putri.


Selama berteman dengan Dave, di apartemen temannya itu tidak menemukan foto keluarganya. Hanya foto Dave sendiri ketika masih kecil hingga dewasa.


Sedangkan yang ditatap hanya acuh, dia merasa sudah gatal bibirnya ingin segera melontarkan pertanyaan yang sudah bersarang diotaknya.


Namun, suara panggilan masuk di HPnya membuat dirinya mengurungkan niatan itu.


Terlihat wajah yang serius dan tatapan tajam terlihat ketika menerima panggilan tersebut.


Rudi segera berdiri, "Ayo semuanya kita pulang saja, biarkan Putri yang menunggu Bintang disini." Ucapnya yang sudah melangkah mendekati Doni.


Doni ingin memprotes, tetapi segera mengangguk setelah mendengarkan perkataan Rudi yang dibisikkannya.


"Ayo Mah," Ajak Doni pada Bulan.


"Tapi Pah, Mama baru bertemu dengan Putri." Jawab Bulan dengan wajah murung.


"Mah, biar Putri saja yang menjaga Bintang. Mama pulang dulu saja nanti malam datang kesini lagi." Ucap Bintang yang paham dengan wajah serius Papanya.


"Iya Mah, Putri yang akan menjaga Bintang. Biarkan kami dapat saling mengenal." Timpal Putri dengan tersenyum kearah Mamanya.


"Baiklah, Mama akan pulang bersama Papa dan yang lainnya. Jika ada apa-apa segera hubungi kami ya." Jawab Bulan yang kini mengecup dahi kedua putrinya.


Mereka semua keluar dan akan pergi kerumah keluarga Wiratama. Termasuk Sky dan Gabriel, karena mereka akan membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


...**...


Sedangkan suasana dikampus menjadi gempar karena beredar video Bintang dengan seorang pria yang tengah melakukan hubungan badan dengan berbagai gaya.


Banyak yang meninggalkan komentar hujatan yang ditujukan kepada Bintang.


Seorang gadis yang tengah melihat video Bintang mendapatkan angin segar, dia segera me-upload video dimana Bintang berteriak jika dia adalah anak kandung Wiratama.


Kamu akan hancur Bintang!


Gadis itu tidak pernah berfikir bagaimana akibat yang akan dia tanggung kedepannya, yang terpenting saat ini dia akan semakin memperkeruh suasana.


Gadis itu adalah Dila, teman satu genk Bintang. Dila berfikir akan mengalihkan kesalahannya kepada seseorang yang me-upload video mesum Bintang.


Sedangkan kini di Rumah Sakit


Putri tengah duduk dikursi samping brngkar Bintang, hanya keheningan yang menemani mereka.


"Kamu hamil dengan siapa?" Tanya Putri dengan bibir sedikit bergetar.


Bintang menatap Putri, air matanya lolos begitu saja. Hanya penyesalan yang tengah menggerogoti hatinya.


Putri mengambil tangan Bintang yang tidak tertancap selang infus, dia menggenggam lembut tangan itu.


"Jangan menangis, tidak perlu ada yang ditangisi. Sudahi penyesalanmu Bintang." Ucap Putri yang sebelah tangannya menghapus air mata Bintang.


Bintang semakin menangis, dia sangat malu dengan dirinya sendiri.


"A... aku seharu... usnya mendegarkan Ma...ma dan Papa." Jawab Bintang tersendat-sendat seakan ketongkongannya tercekat.


"Biarkan semua menjadi pelajaran untukmu dan juga aku. Sudah jangan menangis, kasihan anakmu dia pasti sedih melihat ibunya sedih. Lupakan pria br/sk itu, aku akan menjadi Tante yang baik untuk anakmu." Jawab Putri dengan tersenyum.


"Ap... apa kamu tidak malu memiliki saudara seperti aku Put?" Tanya Bintang yang tengah menatap Putri.


"Awalnya iya, karena kamu sangat jahat. Tetapi aku mencoba berdamai dengan kenyataan Bin, aku menerimamu apa adanya sebagai saudaraku." Jawab Putri dengan suara tenang namun tegas.


"Te... terima kasih Put, aku juga akan berusaha menjadi saudara yang baik untukmu." Jawab Bintang dengan menggenggam erat tangan Putri.


Meskipun mereka tidak satu datah, tetapi mereka memiliki orangtua yang sama.


Putri kembali duduk, "Bolehkan aku mengelus perutmu?" Tanya Putri dengan menunjukkan deretan giginya.


"Boleh, tetapi perutku masih rata." Jawab Bintang dengan tersenyum.


"Tidak apa-apa." Segera Putri mengelus perut Bintang.


Ada debaran aneh didalam hati Putri, entah kenapa membuat hatinya tidak nyaman.


"Apakah kamu sudah hamil Put?" Pertanyaan yang Bintang lontarkan seperti bom bagi Putri.


"O... oh, ak... aku dan Sky menunda kehamilan... iya menunda." Jawab Putri gugup.


Bintang menatap gelagat aneh tetapi dia tepis, mungkin karena Putri juga masih kuliah sehingga membuat keduanya menunda memiliki momongan. Begitulah pikir Bintang.


"Oh... jadi kalian berencana memiliki momongan setelah kamu selesai kuliah?" Tanya Bintang lagi.


Putri hanya mengangukkan kepalanya saja, dia takut jika membuka mulutnya akan kelepasan saat bersama Gabriel dulu.


Getaran Hp milik Putri, membuyarkan lamunannya.


Segera Putri mengambil Hpnya dan mengecek siapa gerangan yang menghubunginya.


Terlihat dilayar hpnya adalah Rose, "Bintang aku ijin mengangkat telfun temanku sebentar ya." Ucap Putri.


"Iya." Jawab Bintang singkat.


Putri segera keluar dari ruangan Bintang, karena takut akan mengganggu saudarinya beristirahat.


Sedangkan Bintang kini berbaring kembali, karena merasa tubuhnya yang lelah.

__ADS_1


"Hallo Rose, ada apa?" Tanya Putri disebrang telfun.


"Haloo, Putri. Cepat kamu cek media sosial kampus kita!." Seru Rose yang tidak sabaran.


"Ada apa Rose, tidak perlu kamu berteriak." Jawab Putri yang sedikit menjauhkan Hpnya.


"Ini... ini sangat amazing, bombastis, dan uwouww." Jawab Rose seperti mendapatkan jacpot.


"Apakah ada hal yang membuatmu senang di postingan komunitas itu?" Tanya Putri yang terkekeh mendengar jawaban Rose dengan suara alay.


"Tentu... tentu, bahkan kamu juga akan senang. Kamu tahu gadis yang melabrakmu tempo lalu." Tanya Rose


Putri ingat, yang dimakhsud adalah Bintang and the gank.


"Iya aku ingat." Ucap Putri.


"Ada yang menyebarkan video anu di media sosial kampus kita, dan ada juga yang memposting jika ternyata Bintang bukan anak kandung dari keluarga Wiratama." Jelas Rose diseberang telfun.


Tubuh Putri membeku, seakan ada badai salju yang menghantam tubuhnya.


Tanpa pamit segera Putri menutup sambungan telfun Rose, dia segera login untuk dapat masuk kedalam media sosial kampusnya.


Matanya membola, dan menutup mulutnya dengan satu tangan yang tidak memegang Hp.


Segera dia menekan tombol untuk membaca komentar dari rekan-rekan kampusnya.


Dikomentar hanya ada cacian, makian, hinaan, bahkan sumpah serapah yang mereka tulis.


Putri berjalan menuju tepi koridor Rumah Sakit, seakan pijakannya gamang. Dia meluruhkan tubuhnya kelantai.


Jari-jarinya masih bergerak liar diatas layar Hp dan matanya dengan cepat dan jeli membaca satu per satu komentarnya.


...**...


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE

__ADS_1


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE


__ADS_2