
...Hallo....
...Sebelumnya autor ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada readers yang sudah senantiasa membaca dan mendukung karya autor remahan koyan ini....
...Alhamdulillah, tanggal satu kemarin. Autor mendapatkan pemberitahuan naik lencana....
...Semua karena kalian, yang selalu meminta update bab banyak-banyak jadi autor kejar tayang bahkan pernah tidak tidur....
...Tapi autor kapok, kapok kalo bulan depan juga naik lencana lagi 😂😂...
...Terima kasih readers ❤❤❤...
Happy Reading 🌹🌹
Tengah terjadi keributan di ruang tengah kediaman Wiratama.
Terlihat seorang wanita yang sesusia dengan Bulan tengah duduk menyilangkan kaki dan bersedekap dada.
"Apa yang kamu inginkan!" Geram Doni pada wanita yang dia ketahui adalah saudara tirinya.
"Seluruh kekayaan yang Ayah tinggalkan tentunya," Jawab Intan dengan nada angkuh.
"Jangan bermimpi! Tidak ada sepeserpun uang yang Ayah tinggalkan untukmu!" Jawab Doni dengan menyunggingkan senyum sinis.
Intan segera berdiri "Jangan tamak Doni, aku juga anak Gunawan Wiratama!!" Seru Intan dengan nada keras.
"Anak dari istri sirih." Jawab Bulan sarkas.
Netra Intan melebar dan menatap sinis ke arah Bulan, karena wanita ini semua rencanaku hancur.
"Diam kamu! Kamu hanya menantu di sini, tidak usah ikut campur!" Sentak Intan.
"Kamu yang diam! Kamu hanya anak dari istri siri yang tidak terdaftar dengan nama Wiratama." Sentak Bulan tidak ingin kalah garang dengan wanita jahat di depannya.
Karena dia, aku terpisah dari anak kandungku.
Intan begitu geram, memang benar. Di dalam akta kelahirannya juga tidak ada nama Wiratama.
"Seharusnya kamu tidak perlu muncul lagi, apa kurang harta yang di berikan oleh Ayahku." Ucap Doni dengan geram.
Intan tertawa sinis, "Harta? Pria tua itu hanya memberiku sepertiga harta miliknya. Sedangkan sisa harta yang lainnya di kuasai olehmu, tidak lebih tepatnya adalah anakmu." Jawab Intan dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
Bulan maju dan menampar Intan dengan keras, sehingga membuat wajahnya berpaling kesamping kanan.
"Dasar iblis, kamu mencoba membunuh anakku karena harta!!" Seru Bulan yang sudah ingin memukul Intan.
Intan menoleh dengan memegang pipinya yang terasa panas hingga kepalanya sedikit berdenyut.
"Kau menamparku! Benar, aku yang melenyapkan anakmu. Bahkan jika saat ini dia di temukan aku akan membunuhnya lagi." Jawab Intan dengan penuh penekanan.
"Dasar wanita laknat! Kamu di lahirkan dari seorang Ibu, tetapi kamu tega membunuh bayi yang baru lahir. Terbuat dari apa hatimu itu!" Seru Bulan dengan nada gemetar karena hatunya begitu sesak mengingat semuanya.
"Sudah Mah, percuma kamu berbicara dengan wanita sepertinya." Doni memeluk Bulan dari samping.
Bintang yang mendengar keributan di lantai satu, segera turun dengan hati-hati. Karena tadi dia tengah di kamar mandi sehingga kurang mendengar keributan di lantai satu.
"Pah, Mah." Panggil Bintang yang tengah menatap keadaan dan suasana ruangan tersebut.
Semuanya menoleh ke arah Bintang, Intan melihat gadis itu memegang perutnya yang sudah mulai membesar tersenyum sinis.
"Cih, dasar memalukan. Kelakuanmu seperti gadis murahann yang hamil dengan seorang pria tanpa di nikahi." Ucap Intan tajam.
Bintang yang masih di tengah-tengah tangga, hanya mencengkram tangannya erat di pegangan besi tangga tersebut.
"Jaga ucapanmu!" Seru Doni yang tidak terima.
Bintang menoleh ke arah ayahnya, seakan bertanya apakah karena video dirinya membuat perusahaan dalam masalah.
Separah itukah dampak dari perbuatannya, membuat keluarganya bangkrut.
"Sampai matipun tidak akan pernah aku serahkan peninggalan Ayahku! Pergi dari sini... pergi!!" Seru Doni dengan wajah yang memerah karena memendam amarah.
"Satpam, tunggu apalagi seret dia!!" Lanjut Doni.
Segera kedua satpam mendekat Intan, "STOP! Aku akan keluar sendiri, menjauh dariku orabg miskin. Ingat Doni, aku akan mengambil alih perusahaan Wiratama. Akan kita bertemu di rapat dewan direksi. Kamu gadis kecil, lebih baik gugurkan kandunganmu karena pria itu sudah menikah." Ucapnya sebelum melenggang pergi meninggalkan kediaman Wiratama.
Bintang terduduk, merasa perut bagian bawahnya nyeri. Tetapi rasa sakit yang datang tidak sebanding dengan rasa sakit setelah mendapati kenyataan jika pria yang dia cintai sudah berkeluarga.
Bulan dan Doni segera berlari menghampirinya, Doni dengan cepat membopong Bintang menuju kamarnya.
Doni keluar dari kamar Bintang, setelah dokter datang untuk memeriksanya.
Segera dia menelfun Rudi dan Zidan, jika dia sudah tidak bisa berlama-lama lagi bermain dengan wanita tersebut.
"Rudi, kapan kita akan bergerak. Dia sudah datang ke rumah." Ucap Doni dengan tidak sabar setelah Rudi mengangkat telfunnya.
__ADS_1
"Secepatnya, tenanglah kita akan buka kedoknya ketika rapat pemegang saham berlangsung." Ucap Rudi menenangkan rekannya.
"Baik, secepatnya kita adakan rapat pemegang saham. Saat ini siapa pemegang saham terbesar?" Tanya Doni pada Rudi.
"Sky." Jawab Rudi singkat.
"Bagus, aku akan menghubunginya secepatnya." Jawab Doni sebelum mengakhiri panggilannya.
...**...
Sedangkan kini, Sky sudah menghempaskan tubuh Putri di atas ranjang king sizenya.
Putri meringsut mundur, Sky menanggalkan Pakaian bahkan kini tengah membuka ikat pinggangnya.
"Ma... mau apa ka... sayang?" Tanya Putri tergagap.
Sky hanya menampilkan seringai di bibirnya, "Menurutmu." Jawabnya ambigu.
Tetapi gerakan Sky terhenti, mendengar dering Hpnya. Tertera di depan layar adalah nama mertuanya.
Mereka berbincang-bincang mengenai kejadian di kediaman Wiratama. Setelah menutup sambungan telfunnya, Sky segera masuk kembali ke dalam kamarnya.
Dahi Sky menyerengit, dia tidak mendapati keberadaan Putri. Langkah kakinya dia ayunkan untuk menjelajah ke seluruh sudut kamarnya.
Ternyata Putri tengah bersembunyi di kamar mandi, gedoran keras terdengar.
Putri semakin memundurkan langkahnya, "Buka!! akan aku dobrak." Ucap Sky dengan kesal.
Setelah lima menit menggedor, ternyata pintu kamar mandi tidak di kunci.
Kenapa aku bodoh sekali, tidak mencoba memutar knopnya. Gerutu Sky pada dirinya.
Terlihat Putri kaget, karena Sky berhasil masuk ke kamar mandi. Dia lupa jika belum menguncinya.
Bodoh! karena terlalu gugup sampai aku tidak mengunci pintunya. Gerutu Putri
...**...
PROMO NOVEL
SILAHKAN TEMAN-TEMAN TENGOK NOVEL TEMAN AUTOR INI.
__ADS_1