
Happy Reading 🌹🌹
Dave sudah menunggu di depan kampus Rose, terlihat pria itu masih duduk di dalam mobil dan sabar menunggu gadis itu keluar.
Rose yang berjalan kaki hingga ke gerbang depan, menolehkan kepalanya ke penjuru arah. Terlihat mobil yang sangat Rose kenal.
Dengan senyum yang mengembang sempurna, Rose melangkahkan kakinya menuju mobil sedang hitam tersebut.
Terdengar suara ketukan di kaca, Dave menoleh dan membuka kunci otomatis dari dalam mobil.
"Apa sudah lama Kak?" Tanya Rose yang sudah masuk duduk di kursi depan.
"Lumayan." Jawab Dave singkat.
"Kita akan pergi makan di mana kak?" Tanya Rose lagi.
"Ayo kita ke apartemenku." Dave mulai menegakkan duduknya dan mengenakan seatbelt.
"Ap... apartemen..nn" Beo Rose gugup.
Dave melihat kegugupan dari Rose, terlihat gadis itu meremas tali seatbelt yang menghalangi badannya.
Dave segera menjalankan mobilnya menuju apartemennya, hanya ada keheningan di dalam mobil sedang itu.
"Emm.. Kakak semalam dimana?" Rose akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Dirumah," Jawab Dave jujur apa adanya.
"O.. oh," Rose hanya ber oh ria saja, dia sampai kehabisan kata-kata untuk. menjawab karena terlalu kaget.
"Apa kamu menungguku selamam? Maaf aku lupa, karena di telfon Mama untuk segera pulang." Jelas Dave yang masih fokus dengan setirnya.
"Eh, tidak.. tidak Kak. Aku selesai makan langsung pulang.. iya langsung pulang." Bohong Rose dengan tertawa kaku.
"Baguslah Rose, aku tidak ingin terlalu merasa bersalah." Jawab Dave bikin readers ingin menenggelamkan dia di lumpur lapindo.
"Hehe, iya kak."
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Dave dan Rose telah sampai di basement apartemen mewah dimana Dave membeli salah satu unit di sana.
"Ayo turun." Ajak Dave dengan membuka seatbelt miliknya.
Rose mengikuti langkah Dave, tidak ada acara pegangan tangan maupun menunggu seperti layaknya pasangan pada umumnya.
Mereka memasuki lift, Dave menekan tombol dimana lantai unit miliknya. Lagi lagi, hanya keheningan yang menemani mereka hingga akhirnya bunyi lift berbunyi pertanda jika mereka telah sampai.
Dave melangkahkan kakinya keluar dari lift tersebut, dan Rose mengikuti langkah pria itu.
Dave menekan tombol pasword apartemen miliknya dan membuka lebar pintu itu agar Rose dapat masuk.
__ADS_1
"Duduklah." Dave menunjuk salah satu sofa miliknya.
Rose menggangguk dan mendaratkan pantatnua di sofa empuk itu.
Kedua bola mata Rose berkeliaran melihat sekeliling apartemen Dave, baru pertama kali dirinya berkunjung ke apartemen milik seorang pria lajang.
Mata Rose melebar, melihat Dave membuka kancing lengannya dan di gulung hingga sampai siku, dasi yang sudah entah kemana, kedua kancing atas kemeja Dave sudah terbuka sehingga membuatnya sangat sexy.
"Rose, kamu ingin makan apa?" Tanya Dave membuyarkan imajinasi Rose.
"Eh, ter.. terserah Kakak.".Jawab Rose tergagap karena ke-gap oleh Dave.
" Baiklah, aku akan memasak yang ada di dalam kulkas saja." Ucap Dave sembari berjalan menuju dapur meninggalkan Rose seorang diri.
Rose menggelengkan kepalanya cepat, dan memukul pelan kepalanya. "Buang bayangan mesummu Rose, ingat kamu wanita memiliki harga diri tidak ternilai." Ucap Rose untuk dirinya sendiri di dalam hati.
Sedangkan Dave sudah menyiapkan bahan masakannya, terlihat pria itu tengah mencuci udang.
Rose yang bosan, mulai berjalan menyusuri apartemen Dave dengan perlahan, terlihat pernak pernik yang sangat menggambarkan jika apartemen itu milik seorang pria.
"Apa kakak, sering di apartemen?" Tanya Rose dengan bersandar di meja makan.
"Tidak, hanya sesekali saja." Jawab Dave jujur.
"Emm...ada yang bisa aku bantu kak?" Tanya Rose kembali karena dia mulai bosan.
"Tidak perlu, duduklah di kursi itu." Tunjuk Dave di kursi makan.
"Kak Dave sepertinya sangat pintar memasak?" Tanya Rose.
"Ya, aku tinggal di luar negeri. Meskipun bersama kedua orang tuaku, tetapi aku lebih suka memasak makananku sendiri." Jawab Dave yang sibuk dengan panci.
"Wah, kakak baru kali ini menjawab pertanyaanku dengan panjang. Apa kakak mulai menyukaiku?" Tanya Rose dengan wajah bahagia.
Dave berhenti sejenak, dia baru menyadari jika dia mulai menjawab pertanyaan Rose panjang.
"Mungkin aku tergular karena kamu cerewet." Jawab Dave mengelak.
Rose megerucutkan bibirnya karena ternyata Dave belum menyukainya, "Ck, menyebalkan." Jawab Rose dengan mencebikkan bibirnya.
...**...
"Wah, masakan Kakak sangat enak." Ucap Rose dengan memberikan kedua jempol tangannya di hadapan Dave dengan senyum bahagia.
Dave memasakkan Rose sepiring pasta udang dengan saus putih sebagai kuahnya.
Dave yang melihatnya hanya tersenyum tipis, "Apa kamu ingin tambah?" Tawar Dave kepada Rose.
"Ah, tidak Kak. Ini sudah banyak sepertinya aku akan segera gemuk jika setiap hari kakak memasakkanku." Jawab Rose dengan melahap pasta milihnya.
__ADS_1
Dave juga mulai memakan pasta, hari ini sepertinya mood Dave sangat baik. Terlihat pria itu lebih banyak tersenyum meskipun hanya tipis.
Tetapi mata elang Rose tetap menangkap senyum samar itu, membuat Rose bahagia ternyata Dave mulai nyaman dengan hubungan ini.
"Ah, kenyang sekali." Seru Rose yang meletakkan sendok dan garpunya.
"Tubuhmu kecil, tetapi makanmu sangat banyak." Olok Dave pada Rose.
Rose hanya mencebikkan bibirnya saja, "Apa kakak tahu, aku memerlukan banyak tenaga sekarang." Jawab Rose dengan mendengus kesal.
"Kenapa? Apa kamu olahraga setiap hari?" Tanya Dave penasaran.
"Ya, olahraga mengejar cinta kakak." Jawab Rose serius.
Dave dan Rose saling menatap dalam kedua mata mereka masing-masing, terlihat di kedua mata gadis itu banyak letupan-letupan cinta untuk Dave.
Sedangkan Dave, hanya pandangan dinginnya yang terlihat. Tidak ada kehangatan di dalam tatapan itu.
"Apa Kakak benar-benar belum mencintaiku?" Tanya Rose serius.
Dave berdiri dari duduknya dan membungkuk, kedua tangan Dave menangkup kedua pipi Rose.
Dave mendekatkan wajahnya ke wajah Rose, Rose dapat merasakan hembusan nafas menerpa wajahnya.
"Bau udang." Ucap Rose kemudian.
Pftt...
Membuat Dave tidak tahan menahan tawanya, hingga dia tergelak.
"Kenapa Kakak tertawa?" Tanya Rose polos.
Rose melihat heran kearah Dave yang sudah melepaskan tangkupan tangannya.
"Tunggu dulu..." Dave masih meneruskan tawanya karena dia terlalu kaget dengan ucapan Rose yang lucu.
"Kakak semakin tampan jika tertawa." Ucap arose dengan senyum cantiknya.
"Ekhm, aku akan menyingkirkan piring dulu." Dave berdehem untuk menetralkan detak jantungnya.
"Biar Rose yang cuci piring."
"Tidak, duduklah saja." Tolak Dave cepat.
Dave tidak ingin terlalu dekat dengan Rose lebih lama, entah kenapa jantung Dave berdetak lebih cepat.
"Apakah aku terkena penyakit jantung? Apa ini tanda-tanda stroke?" Gumam Dave dengan meraba bagian dadanya setelah dia menaruh piring kotor di wastafel.
...**...
__ADS_1