Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Konsultasi


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Sky merangkak perlahan ke atas kasurnya, terlihat istrinya tidur nyenyak.


Sky mengelus pipi Putri lembut dan menciumnya, "Jagoan Ayah, jangan ngambek ya. Sebentar saja." Sky mencoba menegoisasi dengan jabang bayi di dalam kandungan Putri.


Sky membuka perlahan gaun hamil Putri yang berkancing, terlihat buah yang sudah lama dia rindukan.


Segera saja Sky menjalankan misinya, Putri yang mendapatkan serangan fajar dari suaminya. Tanpa sadar men*desah dan membuat Sky semakin semangat empat lima.


Putri mengerjab-ngerjabkan matanya, tidurnya terganggu dengan ulah Sky.


"Mas, apa yang kamu lakukan." Ucap Putri dengan suara serak khas tidur.


"Sebentar saja sayang, aku sudah tidak kuat." Ucap Sky langsung mencium bibir istrinya.


Kedua tangan Putri mendorong dada Sky agar menjauh karena hampir kehabisan nafas.


"Mas."


Keduanya saling berpandangan, "Bolehkan sayang, hanya sebentar saja aku janji." Ucap Sky memelas.


"Tapi pelan ya," Jawab Putri dengan mengelus rahang Sky.


Tanpa menjawab Sky kembali menciun istrinya dan tangannya semakin tidak terkendali menari-nari di atas tubuh buncit itu.


Keduanya sudah naked, "Aku mulai." Ucap Sky memberikan informasi kepada istrinya.


Putri mengangguk saja, dia dengan senang hati melayani suaminya. Mereka melakukan penyatuan di siang bolong yang sangat terik hari ini.


Hingga akhirnya Sky melenguh panjang, mengeluarkan seluruh bibit unggulnya kedalam rahim sang istri.


Sky menggulingkan dirinya di samping Putri, terlihat dada mereka naik turun karena kegiatan mereka siang ini.


"Terima kasih." Sky mencium pipi Putri dengan lembut dan segera beranjak dari atas tempat tidur.


"Ayo mandi," Sky menggendong istrinya secara horizontal.


Sky benar-benar mandi dan tidak mengajak aktivitas yang lainnya. Karena mengingat dia sudah membuat janji dengan dokter kandungan.


"Kita jadi periksa Mas?" Tanya Putri yang berjalan mengikuti suaminya.


Sky mengangguk, dan membukakan pintu untuk istrinya.


...**...


Sedangkan di salah satu restoran VVIP, terlihat hawa panas dan dingin menjadi satu.


Ya, Sky meninggalkan Gabriel dan Dave di satu ruangan yang sama.


Dave dengan hawa panasnya sedangkan Gabriel dengan hawa dinginnya.


"Mari kita profesional Tuan." Ucap Gabriel dengan wajah datarnya.


"Cih, tanpa kamu beritahu aku juga akan bersifat profesional." Jawab Dave dengan menatap tajam pria di depannya tersebut.


"Bagus" Ucap Gabriel acuh.

__ADS_1


Selama dua jam lamanya mereka membahas tentang proyek bernilai milyaran tersebut, Gabriel tetap pada wajah datarnya. Gabriel tidak memperdulikan tatapan tajam dari Dave meskipun melubangi jidatnya sekalipun.


"Bagaimana Tuan, apakah ada yang masih perlu saya jelaskan?" Tanya Gabriel dengan menutup mapnya.


"Tidak," Jawab Dave singkat.


Ponsel Gabriel bergetar, terlihat nama Rose di layar benda pipih tersebut.


Dave yang akan beranjak pergi mengurungkan niatnya, "Apakah Tuan masih ingin menemani saya disini." Ucap Gabriel dengan wajah malasnya.


"Cih, aku hanya masih ingin duduk saja. Jangan hiraukan aku." Jawab Dave melipat tangannya di depan dada.


Gabriel hanya memutar bolanya malas dan menerima panggilan masuk dari Rose.


"Kamu dimana Kak?" Tanya Rose to the point.


"Rose jangan kebiasaan," Jawab Gabriel penuh penekanan.


Rose hanya tertawa di sebrang telfon, "Baiklah maaf, Kakak dimana?" Tanya Rose lagi.


"Baru selesai rapat, ada apa Rose?" Jawab Gabriel jujur.


"Aku akan kesana, berikan alamatnya. Aku ingin mengajak Kakak makan siang." Ucap Rose dengan riang gembira.


Gabriel hanya tersenyum tanpa Rose melihatnya.


"Cih, menjijikkan sekali senyumnya. Apa dia sebahagia itu di telfon oleh gadis cerewet itu." Umpat Dave dalam hati dengan wajah kesal.


"Baiklah Rose, akan aku tunggu." Ucap Gabriel yang kemudian mengakhiri panggilannya.


"Mau kemana kamu." Ucap Dave yang melihat Gabriel berdiri dari duduknya.


"Kencan" Jawab Gabriel singkat jelas dan padat.


Dave melebarkan matanya, kencan? Apa mereka berdua sudah jadian.


Gabriel meninggalkan Dave seorang diri dengan pemikirannya sendiri.


Rose segera melambaikan tangan begitu masuk ke dalam restoran, terlihat Gabriel sudah menunggunya di sudut meja ruangan itu.


"Apa kakak menunggu lama?" Tanya Rose yang menyampaikan tasnya di kursi dan duduk di hadapan Gabriel.


"Tidak, aku juga masih mengerjakan pekerjaanku." Jawab Gabriel memperlihatkan tablet di tangannya.


Rose mengangguk-anggukan kepalanya dan segera memanggil pelayan untuk meminta daftar menu.


"Kakak mau makan apa, aku yang teraktir hari ini." Ucap Rose tersenyum.


Gabriel menaikkan sebelah alisnya, "Ada acara apa?" Tanya Gabriel.


"Tidak ada sih, aku hanya ingin meneraktir saja." Jawab Rose terkekeh.


Gabriel hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Terserah kamu saja Roae, yang penting kita cepat makan. Karena aku harus kembali ke kantor."


"Ck, kekasih darimana. Lihatlah mereka sangat tidak romantis." Gerutu Dave yang menjadi mata-mata dadakan.


Dave mengikuti langkah Gabriel dengan mengendap-endap dan meminta koran kepada pelayan.

__ADS_1


Dapat terlihat dengan jelas interaksi Rose dan Gabriel, karena Dave melubangi koran tersebut yang orang lain pikir dia tengah membaca koran.


Setelah Rose memesan, dia mengambil tablet dari tangan Gabriel.


"Kakak, berhentilah sejenak. Jika di kantor nanti bisa diteruskan." Ucap Rose dengan tersenyum.


Gabriel mengacak rambut Rose pelan dengan tersenyum, "Baiklah."


"Tidak jadi, ucapanku aku tarik. Mereka seperti sepasang kekasih." Ucap Dave lirih dengan wajah yang masam.


Dave senantiasa memantau Rose dan Gabriel, terlihat mereka bercakap dengan akrab dan tertawa bersama.


"Dulu tawa itu untukku, senyum itu juga untukku. Kenapa sekarang hanya mendapatkannya saja sangat susah." Ucap Dave sendu.


...**...


Di Rumah Sakit


Putri tengah bebaring di atas ranjang periksa, dokter memberikan gel untuk melihat janin yang akan lahir.


"Semuanya sangat sehat Nyonya." Ucap dokter tersebut.


"Ya dok, apakah HPLnya akan tepat dok?" Tanya Putri yang duduk dengan di bantu Sky.


"Bisa maju dan mundur Nyonya," Jelas dokter tersebut.


Kini Sky dan Putri sudah duduk di depan dokter yang tengah meresepkan vitamin lagi.


"Apakah ada yang ingin di tanyakan lagi?" Tanya dokter dengan menyerahkan surat obat itu.


"Apakah kami sudah boleh melakukan hubungan badan dok, terakhir istriku opname hingga sekarang aku tidak berani menyentuhnya." Ucap Sky panjang lebar.


Membuat Putri melotot dan memukul lengan suaminya, sedangkan suster di sana tersedak ludahnya sendiri.


Dokter? hanya tertawa mendengar ucapan Sky yang tanpa di filter itu.


"Sudah Tuan, bukankah lebih bagus dengan sering melakukan hubungan. Karena akan memperlancar jalan bayi Anda." Jawab dokter pelan.


Mata Sky berbinar bagaiman mendapatkan durian runtuh satu tronton.


"Dengarkan sayangku, setelah ini kita akan membuat jalan bayi." Ucap Sky dengan tersenyum lebar ke arah Putri.


Putri menutup wajahnya karena sangat malu dengan dokter dan suster di ruangan itu.


"Tapi ingat Tuan, lakukan dengan perlahan." Lanjut dokter kandungan lagi.


"Baik dok, senang bekerjasama dengan dokter. Jika begitu kami pamit undur diri." Ucap Sky seakan dirinya tengah memenangkan tender perusahaan.


...**...


Jangan lupa like, komen, dan hadiahnya.


Ikut juga give adanya, silahkan baca di "tombol berhadiah"


semoga beruntung...


__ADS_1


__ADS_2