
...Kalian gak ada niatan gitu kasih autor bunga apa ngasih kopi....
...Sampai mata autor udah muncul kantung mata panda, demi dapat update untuk kalian ðŸ˜ðŸ˜...
Happy Reading 🌹🌹
Bu Siti menghirup nafasnya dalam, dia akan membongkar rahasia yang selama ini dia pendam.
Bahkan sempat bu Siti berfikir, jika rahasia itu akan dia bawa sampai mati.
"Duduklah, tapi ibu mohon. Jangan sampai ada yang tahu kecuali kalian berdua." Ucap bu Siti yang seakan memberikan peringatan.
Sky dan Gabriel segera mengangguk dan Sky kini duduk disamping bu Siti.
"Jadi...."
Flashback
19 tahun yang lalu.
Bu Siti datang ke kota besar untuk menggantikan ibunya yang sudah tua, menjadi pembantu dirumah orang kaya.
Ketika kedatangan Siti, rumah tampak kacau karenan sang Nyonya rumah akan melahirkan.
Sehingga membuat seluruh pekerja dan suaminya menjadi kalang kabut, karena keturunan pertama sehingga masih kurang matang persiapannya.
"Nak, segeralah kerumah sakit. Kamu harus ada duapuluh empat jam untuk menyediakan kebutuhan Nyonya dan Tuan." Ucang sang Ibu.
"Baik bu, Siti tinggal tasnya disini dulu. Rumah Sakitnya dimana bu alamatnya." Tanya Siti muda pada sang Ibu.
"Kamu nanti sama pak sopir saja, cepat-cepat. Bawa uang ini kalau nanti kamu lapar. Jangan merepotkan Tuan ya." Ucap sang Ibu yang penuh perintah sengan meletakkan uang di saku kemeja Siti.
"Baik bu, Siti pergi dulu." Pamitnya kepada sng Ibu.
Siti muda tidak pernah berfikir, jika ternyata kedatangannya dikota besar adalah yang pertama dan terakhir.
Hari terakhir pula dia dapat melihat ibunya, karena tidak ingin membuatnya celaka.
Ketika dirumah sakit, Siti muda hanya duduk menunggu perintah.
Siti yang baru pertama kali bekerja menjadi ART belum tau jika di rumah sakit dia harus berbuat apa.
Siti muda hanya duduk disepan ruang kamar bayi, karena Nyonyanya sudah melahirkan putri yang cantik.
"Aku sangat lapar. Aku akan pergi sebentar ke kantin, cantik kakak tinggal sebentar ya nanti akan segera kembali." Gumam Siti pada bayi yang terpisah dinding kaca.
Segera dirinya pergi kekantin untuk membeli makanan, setelah sekian menit akhirnya Siti kembali lagi untuk menjaga bayi cantik tersebut.
__ADS_1
Sebelum dirinya berbelok, dirinya mensengar seseorang bercakap-cakap.
"Mana bayi dari perempuan itu." Tanya seorang wanita pada seseorang.
"Bayi atas nama Bintang, dengan gedong berwarna pink tersebut." Jawab seorang pria dengan suara bassnya
"Bunuh anak itu, buat keluarga itu hancur." Perintah terkejam yang pernah Siti dengar.
Siti mencoba memberanikan diri, dia mengintip sedikit siapa sosok kejam itu.
Perempuan yang cantik dan anggun, tetapi pria tersebut tidak terlihat wajahnya karena posisi memunggungi Siti.
Siti menutup mulutnya dan segera berlari keluar, dia menyetop taxi untuk mengantarkannya kerumah majikannya.
Hari sudah nampak sore tetapi Siti harus menyampaikan kepada sang Ibu.
Dengan membayar taxi, dia buru-buru keluar dn masuk kerumah majikannya untuk mencari keberadaan sang Ibu.
"Ibu!!" Seru Siti saat melihat Ibunya lewat.
Dengan nafas ngos-ngosan, jantungnya berdetak cepat bahkan tangannya gemetar hebat.
Siti menyeret Ibunya ke tempat yang sepi untuk menyampaikan apa yang dia dengar.
"Ada apa sih Siti, Nyonya mau pulang?" Tanya sang Ibu yang bingung anaknya sudah kembali.
"Bukan bu, Nyo... nyonya dalam bahaya." Ucap Siti dengan tergagap.
"Benar bu, Siti tadi kekantin untuk makan. Setelah selesai Siti segera kembali untuk menjaga bayi majikan kita, tapi... disana ada orang jahat bu." Jawab Siti matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Makhsud kamu, Nyonya dan Tuan akan dicelakai begitu?" Tanya Ibunya yang sudah mulai paham arah pembicaraan anaknya.
"Lebih tepatnya, putri majikan kita bu. Dia menyuruh seseorang untuk membunuh anak yang baru saja dilahirkan Nyonya dan merusak keluarga ini." Jelas Siti muda yang semakin menangis deras.
"Apa kita katakan kepada majikan saja bu." Lanjut Siti.
"Jangan!" Suara bariton yang baru saja masuk, dia adalah Ayah dari Doni.
"Tuan." Segera Ibu dan Siti menundukkan kepala.
"Nak, bisa kamu bawa pergi jauh cucuku pergi sejauh-jauhnya. Aku tahu, ini pasti akan terjadi cepat maupun lambat." Ucap pria tua yang masih terlihat cukup gagah tersebut.
"Tapi, Tuan." Ucap Siti takut-takut.
"Nak, aku mohon. Nyawanya akan terus terancam jika masih dikeluarga Wiratama. Bawa pergi dan rahasiakan identitasnya, jika dia sudah besar aku sendiri yang akan menjemputnya. Menantuku tidak akan dapat memberikan keluarga Wiratama keturunan lagi. Pergilah kepinggiran kota ini, aku membangun panti asuhan disana. Bawa pergi cucuku tengah malam nanti, dan ini. Simpanlah baik-baik." Kaket Putri memberikan sebuah kalung berliontin bintang ketangan Siti.
"Berikan kepada cucuku jika dia sudah besar, ini adalah satu-satunya kalung turun temurun dari keluargaku. Jangan serahkan cucuku kepada siapapun kecuali aku sendiri yang menjemputnya. Kamu akan dikawal oleh orang-orangku." Lanjut Kakek dengan wajah yang menggambarkan kekhawatiran.
__ADS_1
Tibalah pukul sepuluh malam, segera Siti diantarkan oleh orang-orang kepercayaan Kakek menuju rumah sakit.
Dirumah Sakit, suster yang menjaga dibius agar tidak menimbulkan kegaduhan. CCTV diretas agar tidak ada yang melacaknya.
Siti sudah menggendong bayi merah tersebut, bayi yang tertidur nyenyak. Siti meneteskan air matanya, dia melihat dalam box bayi diganti dengan bayi yang sudah meninggal oleh orang suruhan Kakek.
"Ayo, cepat sebelum ada suster yang lain untuk berjaga." Ucap salah satu bodyguard Kakek.
Siti segera berjalan dan menutupi bayi merah itu dengan jaket tebal, seakan dia membawa kotoran baju.
Dalam perjalanan menuju panti, jalanan terasa sepi dan mencekam. Sampailah mereka melewati hutan yang memisahkan antara kota dan desa.
Tersengar suara tembakan, Siti kaget. Terjadilah baku tembak yang sengit.
Siti semakin gemetar dan menangis, sesekali dia melihat bayi dalam gendongannya.
"Tuan, bagaimana ini?" Tanya Siti yang semakin takut.
"Tenanglah, kita akan mengecoh mereka." Ucap bodyguard yang tengah menyopir.
Entah apa yang mereka bicarakan melalui airphone yang tersambung di telinga masing-masing.
Laju mobil semakin cepat, beberapa mobil muncul mengawal mobil Siti.
Ternyata didepan sudah diblokade oleh orang-orang yang menginginkan kematian bayi itu.
Siti semakin gemetar dan takut, bahkan bayi itu menangis kencang. Pastilah dia merasa lapar, Siti hanya dapat meminumkan madu yang sebelumnya dia leletkan kejarinya.
"Siti keluarlah, kamu akan berlari melewati hutan, dan sembunyilah didesa terdekat. Kamu akan dikawal oleh bodyguard yang lain." Perintah pimpinan bodyguard.
Segera putri mengangguk, dia hanya mengambil uang, kalung, dan selimut bayi saja. Semua barang-barang dia tinggalkan dimobil.
Siti dengan dilindungi bodyguard segera berlari masuk kehutan.
"Kejar mereka!!" Seru kepala penjahat.
Segera anak buah penjahat mengejar Siti kedalam hutan, sedangkan dijalan raya yang hanya bercahaya lampu mobil segera beradu senjata api.
Tembakan demi tembakan terdengar memecah keheningan malam, para bodyguard yang ada didalam hutan juga tidak kalah beradu tembak dengan para musuh.
Hingga akhirnya salah satu bodyguard yang benar-benar bersama Siti tertembak, Siti kaget dan langsung berjongkok.
Suasana malam ditengah hutan yang sunyi dan ditemani hujan benar-benar membuat suasana semakin mencekam.
"Tuan!!"
"Cepat lari, selamatkan Nona Muda. Cepat!!" Seru pria yang menahan sakit.
__ADS_1
Segera Siti berlari semakin dalam kedalam hutan, bahkan mulut bayi merah itu sudah dibekap oleh Siti agar tidak mengeluarkan suara tangis.
Flashback Off