
Happy Reading 🌹🌹
Terlihat Dave sudah siap dengan pakaian kerjanya, ya setelah Dave pulang dia lebih baik melemparkan dirinya di atas kasur untuk tidur daripada mendengarkan ceramah dari Mama Lila.
"Dave, tumben pagi sekali?" Tanya Lila yang tengah menyiapkan sarapan pagi mereka.
"Iya Mah, Dave banyak pekerjaan." Jawab Dave apa adanya.
"Dave, cobalah berkencan." Ucap Lila yang melihat Dave lebih banyak bekerja dan bermain wanita itu.
"Hem." Jawab Dave malas.
"Bukankah kamu berkencan dengan teman Putri?" Tanya Rudi yang sibuk membaca koran paginya.
"Benarkah? gadis cantik yang kamu bilang cerewet itu Dave." Ucap Lila melontarkan pertanyaan kepada Dave.
Dave hanya diam, seketika otaknya mengingat jika semalam seharusnya dia makan malam dengan gadis cerewet itu.
"Dave!" Sentak Lila yang merasa dirinya di abaikan oleh sang anak.
"Apa sih Mah, iya Dave berkencan dengan gadis itu. Tetapi masih masa percobaan." Jawab Dave jujur.
Lila dan Rudi saling memandang, masa percobaan?
"Jangan konyol Dave, tidak ada namanya masa percobaan jika sudah menjalin hubungan. Jika kamu tidak mencintai gadis itu tinggalkan dia, biarkan dia bahagia dengan yang lain." Ucap Lila yang duduk di samping sang anak.
"Dave baru mencobanya Mah, dia juga setuju. Dia yang memohon kepada Dave agar Dave menerimanya." Jelas Dave kepada Lila.
"Dave, jika tujuan awalmu hanya mempermainkannya. Ayah tidak akan pernah membantumu jika suatu saat kamu akan kehilangan dirinya." Timpal Rudi dengan pembicaraan pagi ini.
Dave terdiam, dia memakan sarapannya dengan memikirkan ucapan Ayahnya.
Lila melihat putranya hanya diam. menjadi gemas sendiri, "Benar apa yang di katakan Ayah, jangan sampai kamu menyesal Dave. Mama jika punya anak perempuan tidak akan pernah membiarkan anak Mama di sakiti oleh pria lain." Ucap Lila dengan menggebu.
Dave mengambil minum dan meneguknya hingga tandas, "Dave berangkat dulu Mah... Pah..."
Lila dan Rudi hanya menatap kepergian Dave hingga tubuh pria itu hilang dari pandangan mereka.
"Ayah, coba selidiki. Apa benar mereka berpacaran?" Perintah Lila kepada Rudi.
"Benar Mah, Lin sendiri yang melaporkan kepada Ayah." Jawab Rudi jujur.
Lila terlihat tersenyum lebar, dia sudah membayangkan jika memiliki menantu dan cucu yang lucu.
"Apa yang Mama rencanakan?" Tanya Rudi dengan menaikkan sebelah alisnya kepada Lila.
"Ah, tidak ada Ayah. Sudah ayo sarapan." Elak Lila kepada suaminya.
__ADS_1
Di kediaman Rose, sang Ayah tidak melihat keberadaan putrinya.
"Dimana Rose, bi?" Tanya Ayah Rose kepada maidnya.
"Belum bangun Tuan, akan saya panggilkan Tuan." Jawab maid apa adanya.
"Tidak perlu bi," Tolak Ayah Rose.
Segera Ayah Rose melangkahkan kakinya menuju lantai dua, dimana kamar Rose berada.
Sang Ayah mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban, akhirnya memutar knop pintu Rose secara perlahan.
Terlihat putrinya masih tertidur di atas kasur besarnya, sang Ayah berjalan menuju sang putri.
Ayah mendudukkan dirinya di pinggir kasur, tangan keriput itu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Rose yang persis seperti istrinya.
Terlihat mata sembab dan bengkak, berapa lama anaknya menangis. Hal itu membuat dia membenci Dave karena membuat putri semata wayangnya menangis.
Terlihat Ayah Rose memejamkan matanya dan menghirup nafasnya dalam. Terakhir dia melihat anaknya menangis ketika kematian istrinya, tetapi hari ini dia melihat jejak tangisan anaknya karena seorang pria yang baru dia kenal.
Sungguh lancang sekali pria itu, dirinya sebagai Ayah saja tidak pernah membuat Rose menangis.
"Rose." Panggil sang Ayah pelan dengan mengguncang tubuh gadis itu.
"Lima menit lagi Ibu." Gumam Rose yang masih memejamkan matanya.
"Rose, bangun Nak. Apa kamu tidak kuliah." Kata sang Ayah lagi.
Seketika kedua mata Rose membuka lebar, dan bangun. Terlihat jam weker di samping tempat tidurnya menunjukkan pukul delapan pagi.
"Ayah! Kenapa tidak membangunkan aku cepat cepat." Teriak Rose yang berlari menuju kamar mandi.
Sang Ayah hannya menggelengkan kepalanya pelan, usia boleh bertambah namun nyatanya Rose masih selalu menjadi anak kecil di mata Sang Ayah.
"Ayah tunggu di meja makan!" Teriak Sang Ayah dari luar kamar mandi.
Setelah Rose membersihkan diri, secepat kilat dirinya berganti baju tanpa melihat modelnya. Dia menggerai rambut indahnya.
Baju santai itu dia padukan dengan celana jeans biru yang pas dengan kaki kecilnya itu.
Dengan berlari, Rose menuruni anak tangga secepat kilat.
"Ayah, Rose berangkat." Ucap Rose yang langsung menghampiri Sang Ayah dan mencium kedua pipi pria itu.
"Oh my, Rose. Sarapan dulu!!" Teriak Sang Ayah melihat Rose langsung lari keluar.
__ADS_1
Rose hanya melambaikan tangannya saja tanpa menoleh ke arah Ayahnya.
"Hah, ya ampun. Pagi ini sepertinya aku terlalu banyak berteriak." Keluh sang Ayah.
"Rumah ini selalu ramai seperti biasanya Tuan," Sambung maid yang sudah lama bekerja di rumah itu.
"Benar bi, Rose penghidup suasana di rumah ini." Jawab sang Ayah dengan tersenyum tipis.
"Benar Tuan," Ucap maid tersebut setuju dengan jawaban majikannya.
"Bibi apa merasa perubahan Rose akhir-akhir ini?" Tanya sang Ayah kepada maid itu.
"Nona lebih suka memasak akhir-akhir ini Tuan, terkadang Nona juga tertawa dan berjingkrak-jingkrak sendiri Tuan." Jelas sang maid kepada majikannya.
Sang Ayah hanya menganggukkan kepalanya, dia tahu siapa yang di masakkan oleh Rose. Siapa lagi jika buka Dave itu.
Mengingat luka di tumit kaki anaknya dan air mata Rose membuat hati Ayah Rose menjadi kesal dengan pria itu.
"Ya, ampun. Ingin aku buat jalan tol untuk diriku sendiri." Gerutu Rose yang terjebak macet.
Cukup lama Rose terjebak dalam pusaran kemacetan pagi ini, membuat dirinya di usir dari kelasnya.
"Sial banget kamu Rose, huft." Rose terduduk lesu di kursi depan kelasnya.
Terdengar suara HP berdering, segera dia merogoh saku celananya.
Terlihat jelas nama Dave di layar benda pipih itu, dengan senyum lebar Rose mengangkat panggilan itu.
"Hallo, kak." Ucap Rose.
"Kamu dimana?" Tanya Dave to the point.
"Dikampus," Jawab Rose jujur.
"Pulang kuliah jam berapa? Aku akan menjemputmu." Tanya Dave kembali.
Rose bagaikan di taman bunga yang tengah bermekaran, terlihat dirinya menghentak-hentakkan kakinya cepat karena terlalu senang.
Mungkin gadis itu sudah melupakan kejadian semalam, yang membuatnya menangis hingga tertidur.
"Ekhm, pukul dua sore Kak." Jawab Rose dengan menahan senyum lebarnya.
"Baiklah, sampai bertemu nanti." Dave langsung menutup telfonnya begitu saja.
Dave setelah sampai di perusahaan, langsung menelfon Rose bukan menanyakan acara makan malam yang dia lupakan. Tetapi mengajaknya makan siang, hitung-hitung sebagai pengganti semalam.
...**...
__ADS_1