Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Berkumpul


__ADS_3

...Jangan lupa like dan sesajennya...


...Ingat, jangan main gelap-gelapan 😂...


...Duh hari minggu pada liburan ya, yasudah autor up dua bab saja hari ini....


...Happy Holiday ❤...


Happy Reading 🌹🌹


Mobil Doni dan Rudi tengah menuju kerumah sakit dimana Bintang sedang dirawat.


Perjalanan kurang lebih limabelas menit mereka tempuh, Doni segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke Rumah Sakit diikuti oleh Rudi dan kedua wanita dibelakangnya.


Mereka berempat menaiki lift untuk menuju kelantai tiga. Tidak ada pembicaraan penting didalam lift tersebut hanya percakapan bisa.


Doni membuka kamar anaknya yang tengah sakit, seketika tubuhnya membeku. Terlihat seorang gadis yang selama ini dia cari, sudah berada dihadapannya.


Putri melepaskan pelukan Bulan, dia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang masuk kedalam kamar Bintang.


Sekali lagi, Putri harus menghabiskan stok air matanya untuk satu tahun kedepan.


Doni berjalan mendekat dengan perlahan, tangan tersebut langsung memeluk tubuh kecil putri kandungnya.


Putri membalas pelukan dari seorang laki-laki yang biasa disebut Ayah.


"Anakku." Ujar Doni lirih.


Dia mengecup pucuk kepala putri, air matanya sudah tidak dapat terbendung lagi.


Beberapa waktu lalu.


Ketika Sky berhasil mengejar Putri, Sky membawa istrinya dudun ditaman belakang Rumah Sakit.


Disana Sky merangkul pundak istrinya, sedangkan Putri menyenderkan kepalanya dipundak suaminya.


Tidak ada pembicaraan selama disana, Sky hanya ingin memberikan Putri waktu untuk berfikir.


Sky tidak dapat memaksakan jika memang istrinya tidak ingin bertemu dengan orang tua kandungnya.


"Sky." Panggil Putri lirih.


Sky sedikit menunduk agar dapat melihat wajah istrinya, "Ya," Jawabnya singkat.


"Aku harus bagaimana?" Tanya Putri yabg kini mulai kembali menangis.


Sky membawa istrinya kedalam pelukannya, dia mengelus punggung istrinya. Debaran dijantungnya semakin tidak terkendali, tetapu dia sedang tidak ingin bercanda dengan istrinya.


"Sayang, dengarkan aku. Aku tidak memaksamu untuk menemui maupun menerima mereka kedalam kehidupanmu. Tetapi, coba posisikan dirimu di posisi kedua orang tua kandungmu. Mereka selama ini juga tidak mengetahui jika Bintang bukan anak kandung mereka, mereka tahu ketika Bintang mencoba bunuh diri dan kritis kekurangan darah. Tidak ada satupun dari Ayah maupun Ibumu cocok dengan type darah yang dimiliki Bintang. Selama ini mereka mencari keberadaanmu tanpa sepengtahuan Bintang, mereka juga tidak ingin menyakiti perasaannya. Sekarang, mereka sudah tahu jika anak yang telah dicari selama ini berada didekat mereka. Coba pikirkan bagaimana perasaan mereka, mereka dapat melihatmu tetapi tidak dapat menyentuhmu." Ucap Sky panjang lebar.


"Sekarang kembali padamu, apa kamu ingin menemui mereka atau tidak." Lanjut Sky.

__ADS_1


"Tapi, apa mereka akan percaya hanya bermodalkan kalung ini saja. Lalu bagaimana Bintang, apakah dia akan menerimaku untuk berkumpul dengan kedua orangtuaku." Jawab Putri yang masih senantiasa memeluk tubuh suaminya.


"Dia tidak memiliki hak untuk menghalangimu kembali." Jawab Sky dengan melepaskan pelukannya.


"Apakah kamu ingin menemui Mamamu?" Tanya Sky lagi.


Putri mengangguk mantap, dia akan menemui kedua orangtuanya. Untuk masalah Bintang, akan menjadi urusannya nanti.


Sky menggandeng Putri untuk berdiri dan kembali keruangan dimana Bintang tengah dirawat.


Sedangkan didalam ruang rawat Bintang, Bulan terlihat tengah berbaring di brangkar samping anaknya.


Setelah mendapatkan penolakan dari Putri, dia merasa dunianya hancur. Anak yang sudah lama dia cari tidak ingin dia sentuh.


Bintang hanya dapat menatap sedih pungguh Mamanya, karena rasa kram yang menjalar diperutnya. Dia menutuskan untuk mengajak Mamanya masuk kedalam kamarnya lagi.


Bintang mengalihkan pandangannya kearah Gabriel, dia menatao tajam pria yang hanya seperti patung hidup tersebut.


"Dasar manusia kejam." Desis Bintang.


Gabriel tidak menggubrisnya, hanya melirik melalui ekor matanya saja.


Ingin sekali rasanya Bintang melayangkam tinju diwajah tengilnya itu.


Suata knop pintu terdengar, sosok yang Bintang kenal masuk terlebih dahulu disusul seorang pria yang pernah berada didalam hatinnya.


Pandangan kedua wanita muda itu bertemu, tidak ada ekspresi apapun dari keduanya.


Sky mengambil kursi yang berada disamping brangkar Bintang untuk istrinya, Putri segera duduk dan melemparkan senyum kearah Sky.


Sky hanya mengangguk dan membalas senyuman istrinya. Kedua tangannya dia masukkan kedalam saku celana kain yang tengah dia kenakan.


Semua interaksi kedua pasangan itu, tidak luput dari penglihatan Bintang.


Putri sangat beruntung. Gumam Bintang dalam hati.


"Mah," Panggil Putri dengan suara lirih bahkan hampir tidak terdengar.


Bulan segera bangun dari tidurnya, karena suara gadis tersebut bukan suara Bintang.


Keduanya saling memandang, "Pu... Putri, anak Mama." Ucap Bulan dengan suara yang bergetar dan lirih.


Putri mengangguk, kemudia memeluk wanita yang sudah melahirkannya tersebut.


Bulan menangis "Anak Mama. Putri anak Mama." Ucapnya berulang-ulang.


"Iya, Mah. Ini Putri a... anak Mama." Jawab Putri dengan tersendat-sensat karena menangis.


"Maafkan Mama... maafkan Mama, Putri anak Mama." Bulan memeluk erat tubuh kurus itu.


Gabriel segera keluar dari kamar yang mengharu biru, dia tidak kuasa menahan air matanya.

__ADS_1


Terlihat Sky dan Bintang membuang pandangan mereka, seakan hatinya ikut sakit mendengar dan melihat interaksi antara Ibu dan anak yang baru bertemu tersebut.


Bulan melepas pelukannya, tangan tuanya menangkup kedua pipi Putri. Dikecupinya seluruh wajah anak kandungnya itu, bahkan dia kembali memeluknya erat lagi.


"Mah, jangan memeluk terlalu erat, Putri tidak bisa bernafas nanti." Tegur Bintang kepada Mamanya.


Bulan langsung melepaskan pelukannya, "Maafkan Mama sayang, Mama begitu bahagia hingga memelukmu sangat erat." Ucap Bulan pada Putri.


Putri hanya mengangguk dan tersenyum kearah wanita yang ada didepannya tersebut.


Sekali lagi Putri memeluk lebih dulu Mamanya, sungguh dia tidak ingin terbangun jika ini hanya sekedar mimpinya.


Tetapi pelukan itu harus dia lepaskan karena terdengar suara pintu dan langkah kaki yang memasuki kamar Bintang.


Saat ini Doni tengah memeluk tubuh kecil anak kandungnya, sesekali dia mengecup pucuk kepala anaknya.


Doni melepaskan pelukannya, dia menhecup kedua pipi dan dahi Putri dengan penuh rasa sayang dan rindu.


Doni kembali memeluk Putri, dia juga memeluk Bulan. Mereka pertiga berpelukan seperti keluarga bahagia.


Semua orang yang ada diruangan tersebut, memandang pemandangan tersebut dengan penuh keharuan.


Tetapi tidak untuk dua orang, yaitu Sky dan Bintang.


Sky menahan kesalnya, karena Outri dipeluk lama oleh Doni bahkan Sky melebarkan matanya karena Doni menghujani wajah istrinya dengan kecupan-kecupan.


"Sabar Sky, hanya hari ini aku akan membiarkan mertuaku menciumi wajah istriku. Tidak untuk hari-hari kedepan." Gumam Sky pada dirinya sendiri.


Sedangkan Bintang menatap ketiga orang itu dengan tatapan yang entah, sulit diartikan.


Dia begitu bahagia melihat kedua orangtuanya menemukan anak kandungan, disisi lain dia juga takut akan kehilangan kasih sayang dari keduanya.


"Apakah aku masih diharapkan dalam keluarga ini. Kebahagiaan yang sudah lama tidak terlihat diwajah kalian, hari ini begitu terpancar. Aku bahkan sekarang menjadi aib keluarga Wiratama."Monolog Bintang dari dalam hatinya.


...**...


...LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE...


...LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE...


...LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE...


...LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE...


...LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE...


...LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE...


...LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE...


...LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE...

__ADS_1


__ADS_2