
Happy Reading 🌹🌹
Dokter Isam menatap pintu ruangan Celine dengan pandangan yang sedih, dirinya meninggalkan tempat itu dengan langkah yang lesu.
Sakit bagai di tusuk duri, tidak bahkan lebih sakit lagi. Selama ini Dokter Isam tidak pernah melihat Celine menggunakan perhiasan, ya karena Dokter Isam tahu alasannya.
Bagi Celine, menggunakan perhiasan hanya akan mengganggunya saat dia bekerja. Apalagi ketika banyak pasien dalam keadaan yang berbeda-beda.
Sedangkan Rex sudah duduk di kursi samping brangkar Celine, dia menggenggam tangan istrinya dengan lembut.
"Maafkan aku Honey," Gumam Rex yang menitikan air mata.
Dunia Rex seakan di ujung tanduk ketika mendengar kabar dari pengawal bayangannya, bagaimana jika Celine meninggalkan Rex selamanya.
Segera Rex berdiri dan menghubungi mertuanya agar dapat menjaga Celine selama Rex bergerak di dunia hitam.
"Apa! Dirumah Sakit mana Rex?" Tanya Ayah mertuanya.
"Rumah Sakit Z Pah, tolong segera kemari dengan Mama. Rex ada keperluan penting." Jawab Rex dengan mengepalkan tangannya.
"Baiklah, Ayah segera kesana." Sambungan telfon segera di tutup.
Ayah Celine segera mencari istrinya dan bergegas ke Rumah Sakit, selama di perjalanan Mama Celine hanya menangis karena baru pertama kali mendengar Celine kecelakaan.
Kini Rex berjalan menuju bandara dimana Jackson dan Bintang sudah mendarat.
"Jack, tetap di dalam. Aku sedang dalam perjalanan. Dark sudah bergerak baru saja Celine di hadang oleh anak buahnya dan sekarang sedang di rawat di Rumah Sakit." Jelas Rex yang tengah menghubungi Jackson via telfon.
"Baiklah, aku akan tetap di dalam." Jawab Jackson menurut.
"Ada apa Honey?" Tanya Bintang yang melihat Jackson sudah mengakhiri telfonannya.
"Dark sudah bergerak, Celine kecelakaan baru saja Honey. Rex menyuruh kita agar tetap di dalam karena kondisi di luar bandara sudah dikepung oleh anak buahku dan anak buah Dark." Jelas Jackson pelan.
Bintang meremas baju Jackson, dalam hati Bintang sangat takut karena belum pernah mengalami hal seperti ini.
"Tenang Honey, kita tunggu Rex." Lanjut Jackson mengelus pundak Bintang dan merengkuhnya.
Rex segera keluar dari mobil begitu saja setelah sampai bandara, dirinya berlari menuju ruangan dimana Jackson sudah menunggu dirinya sejak tadi.
"Jack!" Seru Rex dengan nafas yang tidak beraturan.
"Bagaimana?" Tanya Jackson
"Ayo kita keluar, aku sudah menyewa beberapa orang sniper untuk menjaga kita selama perjalanan di mansion." Jawab Rex pada Jackson.
Jackson menggandeng tangan Bintang denganerat dan berjalan keluar dari bandara, Bintang menempel bagai cicak pada Jackson karena dia sangat takut.
"Target sudah datang." Ucap anak buah Dark yang memberikan informasi kepada ketuanl dan yang lainnya.
"Jack masuklah temani Bintang di belakang, aku akan di depan." Intruksi Rex pada keduanya.
Segera mereka berempat masuk, Bintang jantungnya berdegup kencang dan tangannya gemetar.
__ADS_1
"Honey tenanglah, disini ada Rex dan yang lainnya. Kami akan menjagamu." Ucap Jackson dengan memeluk Bintang.
Rex dan sopir hanya menyaksikan keduanya lewat kaca tengah, keduanya tahu jika untuk warga sipil pasti akan sangat mengerikan bagi mereka.
"Jalan" Ucap Rex memberikan perintah. Rex menginformasikan jika dirinya sudah berjalan meninggalkan bandara dengan Jackson dan Bintang kepada anak buah mereka.
Pengawal bayangan, sniper, dan anak buah yang siap mengawal mobil Rex segera bergerak mengikuti dan bersiap di posisi mereka.
Mobil Rex melaju kencang menembus jalan raya yang nampak sepi, Rex memutar jalan agak jauh untuk menghindar dari jalanan yang padat.
Mobil yang di tumpangi anak buah Dark segera mengikuti laju mobil Rex, suara nyaring dari mesin masing-masing mobil memecah keheningan jalan tersebut.
Dor... Dor...
Suara pistol yang nyaring menemani mereka, "Bintang segera menunduk!" Perintah Rex kepada istri Jackson
Bintang sudah menangis, dia semakin kalut. Bagaimana jika dia mati. Bagaimana jika Jackson mati... bagimana... bagaimana... pikiran Bintang penuh dengan prasangka-prasangka yang mengacaukan hati dan pikirannya.
"Honey duduklah di bawah, jangan menangis. Kita akan selamat ingat aku mencintaimu." Ucap Jackson yang membawa istrinya duduk di bawah agar lebih aman mengingat perut Bintang yang membesar akan kesulitan jika menunduk.
Bintang mengangguk dan berpegangan erat sesekali mengusap perutnya seakan berkomunikasi dengan baby twins.
"Jack, ambil senjata di belakang." Ucap Rex.
Segera Jackson menloncat di belakang kirsinya dan menyiapkan senjata api untuk dia pegang, Jackson memposisikan dirinya.
Sesekali Rex dan Jackson bergantian untuk menembak ke arah belakang mobil mereka.
Brak!! Ciiittt....
Sisi mobil yang di tumbang Jackson di tabrak dan di pepet oleh mobil musuh sopir Rex merepet balik mobil musuh agar menabrak trotoar jalan.
Bintang semakin deras menangis. Rasa nyeri menjalar di perutnya.
"Achh.. ssttt... sayang sayang tolong jangan sekarang." Ucap Bintang yang merintih menahan sakit di perutnya.
Bintang mendongak menatap Jackson dan Rex yang sedang sibuk menembaki musuhnya, suara senjata api begitu nyaring di telinganya Bintang.
Suara ledakan mobil yang menggelegar semakin membuat kontraksi perut Bintang terasa, ya sniper yang sudah di sewa oleh Rex menembaki musuh dari kejauhan.
Mereka menembak tepat pada sopir yang membawa mobil yang mengakibatkan mobil tidak terkendali dan menabrak bahkan terguling dan akhirnya meledak.
"Bagaimana Rex." Ucap Jackson yang masih sibuk menembaki arah belakang.
"Anak buah tambahan sudah menuju ke arah kita, kita akan langsung ke mansion." Jawab Rex.
Rex dan Jackson kwalahan karena anak buah yang di kerahkan oleh Dark melebihi anak buah Jackson.
Mobil Rex melewati anak buah mereka yang baru datang, Rex memberi kode dan anak buah Rex memblokake jalan untuk menghadang sisa-sisa anak buah Dark.
Jackson segera berjongkok menghadap Bintang, terlihat wajah istrinya yang sudah pucat dan berkeringat.
"Rex kerumah sakit!" Seru Jackson panik.
__ADS_1
"Honey... honey... maafkan aku." Ucap Jackson dengan nada dan tangan gemetar.
"Jack, s... sakit." Ucap Bintang yang terbata karena menahan nyeri di perutnya.
Jackson mengecup perut buncit Bintang, "Baby twins sebentar lagi jangan buat Momy sakit." Ucap Jackson dengan mata berkaca-kaca.
"Cepat!!" Seru Jackson yang kalut.
Jackson memeluk Bintang yang masih duduk di bawah, tangan Bintang meremas bahu suaminya menyalurkan rasa sakitnya.
Jackson segera menggendong Bintang turun dari mobil setelah mereka sampai di Rumah Sakit Z, dengan langkah yang tergesa-gesa Rex dan Jackson masuk.
Perawat dengan cepat mengambil brangkar dan mendorong Bintang yang sudah di baringkan oleh Jackson.
Jackson dan perawat berlari cepat dengan mendorong brangkar Bintang, tangan Bintang dan Jackson saling menggenggam erat.
"Bertahanlah Honey," Ucap Jackson dengan nafas memburu.
"Sakit Jack, aku tidak kuat." Lirih Bintang yang sudah menangis.
"Maaf Tuan, silahkan menunggu di luar." Ucap perawat menghalau Jackson agar tidak masuk.
"Saya hanya ingin mendampingi istri saya Sus, tolong." Ucap Jackson mengiba.
"Mohon maaf Tuan, ikuti prosedur kami." Jawab Perawat.
Perawat segera menutup ruang persalinan dan dokter masuk bersama beberapa bidan.
Jackson terduduk di kursi dengan lemas, tangannya mengacak rambut yang sedikit gondrong tersebut.
Beberapa menit, perawat dan bidan keluar dengan tergesa-gesa dengan wajah panik.
"Bagaimana sus istri saya." Tanya Jackson ikut panik.
"Maaf Tuan, istri Anda harus segera kami operasi agar kedua bayi atau istri Anda selamat. Tolong tanda tangani ini apapun yang terjadi kami sudah berusaha semaksimal mungkin." Ucap Bidan yang membawa lembar persetujuan.
Dunia Jackson seakan runtuh, dengan tangan gemetar dan air mata yang sudah menetes Jackson menandatangani surat tersebut.
"Tolong selamatkan istri saya." Ucap Jackson dengan nada gemetar.
Segera Bintang di pindah keruangan operasi, karena keadaan Bintang yang shock dan lemah, terlebih hamil bayi kembar. Operasi adalah jalan satu-satunya yang dapat dokter ambil.
Jackson berjalan mengikuti istrinya yang di pindah kan, dokter dan suster juga bidan sudah siap dengan pakaian hijaunya.
Terlihat lampu ruangan operasi menyala hijau pertanda operasi sudah di mulai, Jackson duduk di kursi tunggu.
Rex mendekat dan memeluk sahabatnya, tangis Jackson pecah. Baru pertama mereka datang ke negara ini tetapi sudah mendapatkan cobaan.
...**...
Hallo, udah hari Senin nih.
Jangan lupa vote untuk mendapatkan hadiah pulsa.
__ADS_1
Semangat hari Senin.