
...HALO READERS...
...JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL TERBARU AUTOR YA....
...AUTOR TUNGGU....
Happy Reading 🌹🌹
"Ada acara apa Put, kenapa banyak sekali makanan dan juga bunga ini?" Tanya Bintang pada saudaranya.
Setelah Bintang membuka paksa pintu kamar Putri, segera Putri bergegas keluar kamar dan menuju meja makan.
Sudah tersaji berbagai jenis jajanan yang Putri borong selama setengah hari ini untuk dirinya dan juga Bintang.
"Tidak, aku membelinya untuk kita." Jawab Putri santai.
Bintang lagi-lagi terbengong, sepertinya semenjak Putri hamil dirinya selalu mendapatkan kejutan dengan sikap saudaranya itu.
"Ta... pi, tidak sebanyak ini juga Put. Bagaimana jika perutku meledak." Ucap Bintang yang melihat makanan ringan tersebut.
"Ish, tentu saja tidak. Lihat perutmu sebesar itu juga tidak meledak, masih ada waktu dua bulanan lagi untuk meledak." Seloroh Putri.
Dengan lahap keduanya menghabiskan jajanan yang Putri beli, bahkan terkadang mereka saling berebut makanan yang paling akhir. Entah kenapa, makanan yang hanya tertinggal satu atau dua buah serasa nikmat.
Seperti isi toples lebaran jika makanannya masih penuh enggan untuk menyentuh, tetapi ketika tinggal sedikit mencari yang lain.
...**...
Bintang kini tengah mengelap tubuh pria yang dia cintai dengan perlahan, sudah berjam-jam Jackson belum sadarkan diri.
"Kapan kamu bangun, kenapa betah sekali kamu memejamkan kedua matamu." Gerutu Bintang yang masih mengelap tubuh Jackson.
Bintang merasakan tendangan dari dalam perutnya, "Shhht, baby twins kalian juga rindu Dady ya... jangan menendangbterlalu kencang. Momy sedang memandikan Dady kalian." Ucap Bintang dengan mengelus perut buncitnya.
Baby twins seakan paham dengan bahasa Bintang, mereka menendang dengan pelan sebagai jawaban jika mereka mengerti.
"Pintar sekali anak-anak Momy," Ucap Bintang.
Bintang mengarahkan telapak tangan Jackson ke perutnya yang buncit, baby twins seakan ingin mengobrol dengan kedua orangtuanya.
Tendangan-tendangan kecil mereka berikan dari dalam perut Bintang, hingga Jackson sadarkan diri akibat obat bius yang di suntikkan oleh dokter.
"Baby..." Panggil Jackson dengan nada lirih.
__ADS_1
"Kami sudah sadar," Ucap Bintang dengan perlahan menjauhkan tangan Jackson dari perutnya.
"Jangan, aku ingin menyapa anak-anak kita Baby." Ucap Jackson pelan.
Bintang hanya mengangguk, membiarkan Jackson mengelus perutnya dengan perlahan. Jackson dan Bintang tidak bisa membendung perasaan haru yang menyeruak dari dalam hati masing-masing.
"Apa mereka menyulitkanmu Baby?" Tanya Jackson dengan suara serak menahan tangis.
"No," Jawab Bintang dengan menggigit bibirnya yang bergetar karena menahan tangisnya juga.
"Apa mereka nakal selama di dalam perutmu?" Lanjut Jackson lagi.
"No," Jawab Bintang dengan jawaban yang sama.
"Terima kasih sudah mempertahankan mereka Baby, maafkan aku." Ucap Jackson yang akhirnya menumpahkan butiran kristal tersebut.
Bintang tidak menjawab karena air matanya sudah luruh begitu saja dari mata indahnya, seakan pertahanannya runtuh begitu saja ketika mendengar suara Jackson. Suara pria yang selama ini dia rindukan.
"Jangan menangis Baby, jangan menangis... air mataku terlalu berharga untuk menangisiku." Ucap Jackson yang menghapus air mata dari pipi Bintang.
"Apa kamu akan meninggalkan kami lagi?" Tanya Bintang yang menatap lekat netra Jackson.
"Tidak Baby, aku akan selalu bersama kalian. Maafkan aku karena menjadi pria pengecut di matamu. Maafkan aku Baby." Jawab Jackson dengan nada penuh penyesalan.
Bintang menangis menunpahkan segala merasakan yang menumpuk bagaikan kerak di dalam hatinya.
Jackson bahkan juga tidak bisa membendung tangisnya, biarlah dia lemah di depan wanita yang dia cintai.
Tanpa mereka berdua sadari diluar ada Doni dan juga Bulan, entah sejak kapan mereka berdua di depan kamar Bintang.
Bulan yang mendengar percakapan mereka ikut menangis, dia tidak bisa membayangkan jika Bulan berada di posisi Bintang maupun Jackson.
Doni dengan wajah datarnya, berlalu begitu saja dari kamar anaknya. Tujuannya tadi adalah akan memindahkan Jackson ke Rumah Sakit Y karena belum sadarkan diri juga.
Bulan yang melihat kepergian suaminya segera menyusul.
"Mas, Mama dan Papa kenapa? Apa mereka habis bertengkar, tetapi kenapa tidak ada suara gaduh?" Tanya Putri yang duduk dengan memakan buah.
Putri dan Sky tengah duduk di ruang televisi, terlihat langkah kaki yang cukup cepat menuruni anak tangga.
Putri dan Sky melihat kedua orangtua tersebut turun dengan Doni mata memerah sedangkan Bulan sudah menangis.
"Ssttt... tidak tahu sayang, sudah jangan kepo." Tegur Sky pada istrinya.
Putri mencebik kesal, "Aku hanya bertanya Mas, kenapa mereka menangis. Ayo kita tanya." Ajak Putri yang sudah bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Sky menarik pergelangan tangan istrinya pelan, sehingga Putri duduk di pangkuan suaminya.
"Kamu sengaja ya jatuh di sini?" Tanya Sky dengan wajah mesyumnya.
"Ishh, Mas yang menarikku ya!" Jawab Putri kesal.
"Ya... ya... kamu selalu begitu, padahal ingin aku sentuh tetapi tidak ingin mengaku." Ucap Sky dengan rasa percaya diri tinggi.
"Sudah, malas sekali berbicara denganmu Mas. Aku ingin pergi ke kamar." Kata Putri yang mendorong dada Sky agar bebas dari suami mesyumnya itu.
"Kode ya. Ayo!" Seru Sky dengan memboping Putri penuh semangat.
Putri memekik dan menautkan kedua tangannya di leher Sky, "Dasar mesyum! Aku ingin kekamar Bintang bukan kamar kita." Jawab Putri mencebik kesal.
"Sudah nanti saja, sekarang lebih baik kita kekamar sendiri. Di dalam sana akan lebih asik." Ucap Sky dengan berbisik di telinga Putri.
...**...
Sedangkan kini Rex sudah sampai di negara asalnya, tanpa beristirahat dia langsung menuju ke apartemen Celine dengan perasaan menggebu.
Mereka bertiga sudah bersahabat sejak di bangku kuliah, sudah lama Rex menaruh hati terhadap Celine tetapi dia tidak berani mengungkapkannya.
Rex tidak ingin merusak persahabatan mereka bertiga karena cinta, Rex sendiri juga tahu jika Celine sangat mengagumi Jackson tetapi Jackson tidak pernah menganggap Celine sebagai wanita di matanya.
Kejadian terakhir yangbterekam di CCTV, Celine bertelanjang dada di depan Jackson. Hal itu tentu saja membuat hatinya terbakar, beruntung Jackson yang memerintahkan Rex untuk menghapus CCTV tersebut bukan petugas lain.
Rex terus bersikap seolah semuanya baik-baik saja, Rex juga lega ternyata Jackson tidak membalas perasaan Celine kepada dirinya.
Dengan langkah lebar Rex keluar dari dalam. mobil yang sudah sampai di base apartemen dimana Celine tinggal.
Lift yang membawa Rex telah sampai di lantai yang dia tuju, dengan mengumpulkan semua keberanianbya Rex memencet bel apartemen Celine.
Cukup lama Rex menunggu ternyata Celine baru saja pulang dari sift paginya di Rumah Sakit.
Celine yang heran melihat Rex di depan pintu apartemennya langsung khawatir, apakah Jackson tengah sakit.
"Ada apa Rex, apa terjadi sesuatu dengan Jackson?" Tanya Celine khawatir.
"Bukakan dulu pintu apartemenmu." Ucap Rex dengan dingin.
Celine segera membuka pintu apartemen dan mereka berdua masuk kedalam apartemen. Hingga Celine berteriak.
"Apa yang kamu lakukan Rex!!"
...**...
__ADS_1