
...AUTOR MEMBAWANG MEMBACA ULANG BAB SEBELUMNYA UNTUK MENULIS LANJUTAN CERITA BERIKUTNYA....
Happy Reading 🌹🌹
Di depan ruang operasi, terlihat kedua anak buah Sky tengah menunggu Grace yang mendapatkan penanganan didalam.
Sudah hampir dua jam lamanya, Grace berada di meja operasi tersebut. Hingga terdengar suara pintu ruang operasi dibuka.
"Maaf Tuan, kami sudah berusaha dengan maksimal tetapi Tuhan berkehendak lain. Ibu dan bayinya tidak dapat diselamatkan." Ucap dokter yang menangani Grace.
"Baik dok, Terima kasih. Segera urus jenazah mereka dengan baik." Jawab anak buah A.
...**...
Setelah Sky mendapatkan pengobatan, segera Sky menelfon asistennya Gabriel yang tadi menggendong istrinya.
"Cepat jemput aku." Perintah Sky kepada asistennya dan langsung mematikan sambungan telfonnya.
Gabriel yang belum sempat berbicara, mendengus kesal.
Yang sakit hanya wajah dan badannya, kakinya masih sehat. Kenapa seperti anak gadis minta di jemput. Gerutu Gabriel yang masih dapat di dengar Rose sehingga gadis itu tersedak air minum yang baru saja dia beli.
Gabriel hanya menatap tajam kearah gadis belia tersebut, Rose yang mendapatkan tatapan dari Gabriel melototkan matanya seakan menantang "Apa!"
Segera Gabriel meninggalkan ruangan dimana Putri dirawat, asisten tersebut akan menjemput bayi besar.
"Tuan," Ucap Gabriel dengan nada malas.
"Kenapa lama sekali." Jawab Sky kesal.
"Saya datang harus berjalan dengan kedua kaki saya Tuan, saya bukan jin dalam sekedip mata dapat berpindah tempat." Jawab Gabriel panjang.
Sky mendengus kesal, terakhir kali berdebat dengan Gabriel sekarang sang asisten lebih terbuka dengan pikirannya.
"Ayo antar aku cepat. Aku tidak ingin Putri menangisiku karena tidak ada di sampingnya." Ucap Sky dengan penuh rasa percaya diri.
"Tidak mungkin Tuan, saat ini dia tengah tertidur nyenyak dan damai." Jawab Gabriel dengan senyum yang mengejek.
Telak. Sky lagi lagi kalah telak dengan asistennya. Jika bisa, Sky ingin menukar tambahkan asistennya tersebut.
Sky dan Gabriel masuk kedalam ruang dimana Putri di rawat, terlihat wajah istrinya yang pucat masih tergolek lemah di brangkar Rumah Sakit Y.
"Kenapa gadis itu masih disini." Ucap Sky menoleh kearah asistennya.
__ADS_1
"Rose Tuan namanya, dia menunggu Nona Putri hingga sadar." Jawab Gabriel dengan wajah datar.
"Ck, lihat dia tertidur di samping istriku dan menggenggam tangannya. Bukankah ini pemandangan yang tidak asing." Ucap Sky mendengus kesal.
"Ya, seharusnya Tuan yang berada di posisi Rose. Tetapi lihat kenyataannya." Jawab Gabriel di iringi kekehannya.
"Sudahlah, cepat angkat gadis itu di sofa sana." Perintah Sky kepada asistennya.
" Kenapa tidak Tuan saja," Jawab Gabriel memerintah kembali atasannya.
"Apa nyawamu lebih dari satu Briel." Ucap Sky dengan menatap tajam kearah Gabriel.
Segera Gabriel berjalan untuk membopong Rose, dan memindahkannya ke sofa sesuai perintah Sky.
"Kenapa berat sekali gadis ini, badannya padahal kecil dan lihat dadanya saja tidak berisi. **** jangan berpikiran kotor Briel." Gerutu Gabriel dalam hatinya.
Sky segera mendudukkan dirinya di samping brangkar istrinya, dia menggenggam erat tangan kecil tersebut. Diusapnya wajah Putri dengan lembut.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku sudah mendiamkanmu selama ini. Aku suami yang egois tidak mendengarkan penjelasanmu, maafkan aku Putri." Ucap Sky lirih di telinga sebelah kanan istrinya.
Sky berdiri dan membungkukkan tubuhnya, dia mengecup dahi istrinya dengan penuh sayang dan kehangatan.
Sky memandang wajah istrinya yang cantik dengan polesan make up tipis ala remaja seusianya tersebut. Sudah lama Sky tidak memandang wajah pujaan hatinya karena dia selalu menghindar bertemu dengan Putri.
Tangan Sky terulur di perut Putri, mengekus pelan perut yang sedikit membuncit tersebut. Perasaan bahagia dan haru menyeruak dalam hati Sky.
Sky mengecup perut Putri, "Jangan nakal selama diperut Mama ya jagoan Ayah. Bantu Ayah mendapatkan maaf dari Mamamu." Ucap Sky lirih.
Sky mengklaim jika bayi dalam kandungan istrinya adalah laki-laki. Entahlah jika Putri mendengarnya pasti akan di getok kepalanya pakai tutup panci. Masih lama agar mengetahui jenis kelamin bayi mereka tetapi suaminya sudah lebih dulu mengklaim.
"Briel, hubungi keluargaku dan juga istriku. Jangan bilang jika Putri pingsan karena aku." Ucap Sky kepada Gabriel.
Segera Gabriel menghubungi keluarga Wiratama dan juga Gandratama. meskipun Gabriel tidak memberitahukan kepada kedua keluarga tersebut, Briel yakin akan ada yang membocorkannya.
...**...
Sedangkan Dave tertidur pulas karena Rudi langsung menelfun dokter keluarga untuk menyuntikkan obat penenang kepada putranya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Rudi segera berjalan masuk menyusul istri dan juga anaknya. Tetapi hanya pemandangan yang menyesakkan dadanya.
Terlihat istrinya tengah memeluk tubuh putranya yang lebih besar dari ibunya, kamar yang porak-poranda dan juga pecahan kaca maupun beling berhamburan di lantai.
Tangisan pilu putranya menyayat hati sang Ayah, segera Rudi menelfon dokter keluarga Danuarta.
__ADS_1
Rudi dan sang dokter memindahkan Dave ke kamar utama dimana dirinya dan Lila tidur setiap harinya.
Kemudian Rudi menyuruh para pelayan untuk membersihkan dan merapikan kamar Dave.
"Mah, ayo Papa obati dulu kakinya." Ucap Rudi pada istrinya yang duduk di pinggir tempat tidur.
"Biar Mama sendiri Pah," Jawab Lila dengan nada bergetar menahan tangis.
Rudi membawa Lila kedapa dekapannya, tangis Lila pecah dia menangis seakan mengadu kepada tempat bersandarnya selama ini.
Mata Rudi berkaca-kaca, dia selalu berusaha yang terbaik untuk keluarganya. Setelah ini Rudi akan memboyonh seluruh keluarganya untuk pindah ke luar negeri meninggalkan rasa sakit disini.
Tangan Rudi terus mengelus surai hitam dan punggung istrinya dengan lembut, tetapi kedua netranya tidak kuat menahan lajunya air mata yang sudah dia tahan. Hanya dalam diam Rudi menangis, dia tidak ingin menambah beban pikiran istrinya.
"Bagaimana dengan Dave Pah setelah ini?" Tanya Lila di sela-sela tangisannya.
"Percayalah Mah, putra kita akan sembuh. Mungkin jalannya memang harus melewati semua ini." Jawab Rudi dengan menyeka air matanya cepat.
Rudi mendudukkan Lila di samping Dave yang tengah tertidur, dengan cekatan Rudi mengambil baskom dan juga kotak P3K yang sudah di sediakan oleh pelayan.
Dengan telaten Rudi mengambil sisa-sisa pecahan kaca dari kaki istrinya, Lila hanya meringis pelan. Rasanya sangat perih dan ngilu yang dia rasakan, sedangkan tangan Lila menggenggam erat tangan putranya.
"Mah, bagaimana jika kita pindah keluar negeri bulan depan?" Tanya Rudi dengan masih sibuk memberikan obat ditelapak kaki istrinya.
"Apa kita akan kembali ke negara ini Pah?" Tanya Lila kembali dengan menatap ke arah suaminya.
"Papa berencana akan menjual rumah ini Mah, kita akan menetap di sana." Jawab Rudi jujur.
Tanpa sadar Lila meremas tangan Dave, "Apa Papa ingin memasukkan Dave ke tempat psikiater lagi?" Tanya Lila yang sudah meneteskan air mata.
"Mungkin itu lebih baik Mah," Jawab Rudi pasrah.
"Tidak Pah! Mama tidak ingin Dave kembali berobat, anak kita sudah sembuh. Perasaan Dave sudah di bayar lunas dengan kehamilan Putri. Mama yakin Dave memiliki jodohnya disini Pah." Tolak Lila dengan nada meninggi.
"Mah pelan kan suaramu, Papa juga yakin Dave sudah sembuh. Tapi kenyataannya dia mencelakai orang lain bahkan wanita itu harus meregang nyawa dengan bayinya." Jawab Rudi yang menatap lekan ke arah Lila.
Lila hanya mampu diam seribu bahasa, tanpa mereka berdua sadari sudut mata Dave luruh air mata. Meskipun tidak sadar secara fisik tetapi di alam bawah sadarnya Dave mendengarkan semua percakapan kedua orangtuanya.
"Berikan Dave kesempatan Pah, Mama mohon. Dave pasti sudah menerima kenyataan jika Putri bukann jodohnya." Ucap Lila dengan nada memohon dan wajah mengiba.
Rudi menghembuskan nafasnya kasar, "Baiklah Mah, hanya satu kesempatan terakhir. Jika Dave masih bersikeras menghancurkan rumahtangga orang lain. Hari itu juga kita semua pindah keluar negeri." Jawab Rudi telak tidak dapat di ganggu gugat.
...**...
__ADS_1