
Happy Reading🌹🌹
Setelah keputusan yang di ambil oleh para orangtua, terlihat Sky lebih menempel kepada istrinya seperti lintah.
Gabriel yang mendapatkan kabar jika Grace dan bayinya meninggal sedari tadi, akhirnya masuk dan menyampaikan kepada Sky.
"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan." Ucap Gabriel sopan.
"Bicaralah," Jawab Sky yang masih sibuk dengan istrinya.
"Ini penting Tuan, bisakah kita bicara di luar saja." Bujuk Gabriel kepada pria bucin tersebut.
"Sudah keluarlah, mungkin memang sangat penting sayang." Suruh Putri pada Sky.
Sky menekuk wajahnya, dan berdiri untuk keluar dari ruangan istrinya di ikuti dengan Gabriel.
"Cepat katakan." Ucap Sky yang tidak sabaran.
" Tuan, Nona Grace dan bayinya tidak dapat di selamatkan. Saat ini anak buah kita tengah mengurusi pemakamannya." Jelas Gabriel kepada bosnya.
Sky tertegun mendengar hal tersebut, apa Grace mendapatkan penanganan yang lambat.
"Baiklah, sebentar lagi kita kesana." Jawab Sky dengan wajah datarnya.
Sky akan menyampaikan kepada para orangtuanya, karena Sky tahu jika Grace sudah tidak memiliki kerabat lagi.
Segera Sky masuk dan membisikkan sesuatu di telinga ayahnya, Agung hanya mengangguk dan melirik ke arah Doni.
"Mah ayo kita pergi," Ajak Agung kepada Ambar.
"Kenapa buru-buru Yah, Mama masih ingin menemani menantu kita." Jawab Ambar merengut kesal.
"Besok kita kembali lagi biarkan Putri beristirahat." Bujuk Agung pada istrinya.
Begitupun Doni pada Bulan, dia mengajak pulang istrinya terlebih dahulu.
Akhirnya mereka berpamitan kepada Putri dan juga Sky, Ambar sempat mengancam anaknya jika sampai meninggalkan menantunya sendiri lagi.
Kini tersisa Sky dan Putri di ruangan, "Tadi bicara apa dengan Kak Briel sayang?" Tanya Putri pada Sky.
Sky mendekat dan naik ke brangkar Putri, meskipun brangkarnya sempit tetapi. menguntungkan bagi Sky.
Sky menarik Putri didalam pelukannya, "Grace dan bayinya meninggal. Apa kamu mau datang ke makam mereka?" Tanya Sky pelan.
__ADS_1
Putri mendongakkan kepalanya, "Me... meninggal, apa Grace sudah melahirkan?" Tanya Putri tergagap karena kaget.
Sky kemudian menceritakan bagaimana Dave bekerjasama dengan Grace dan pada akhirnya Grace di beri obat kontraksi melahirkan dengan dosis yang mungkin melebihi ambang batas normal.
Setitik air mata dari Putri menetes, bagaimana bisa laki-laki yang dia kenal dulu sangat baik tetapi sekejam itu terhadap ibu hamil. Tanpa sadar Putri mengelus perutnya dengan perlahan.
Sky yang merasakan gerakan tangan istrinya mengecup pucuk kepala Putri dengan penuh sayang.
"Kapan mereka dimakamkan Mas?" Tanya Putri pelan.
Sky tertegun, Putri memanggilnya Mas. Senyum lebar terbit dari bibirnya dia mendekap erat tubuh istrinya.
"Kamu baru saja memanggilku apa sayang, coba katakan lagi." Ucap Sky dengan senyum mengembang.
"Mas," Beo Putri.
Sky mensejajarkan wajahnya dengan wajah Putri, dia mencium setiap jengkal wajah istrinya, dan segera melu*mat bibir tipis yang sudah sangat dia rindukan.
Putri tidak menolak, dia memberikan akses agar Sky dapat bermain di dalam rongga mulutnya. Sky semakin memperdalam ciu*mannya lidah mereka saling membelit dan hanya suara depan yang terdengar di ruangan itu.
Sky menyudahi ciuman mautnya dengan nafas tersengal-sengal, Sky menyatukan keningnya dengan kening Putri sehingga hidung mereka saling bersentuhan.
"I love you." Ucap Sky dengan serius.
Putri seakan tidak percaya dengan pendengarannya, "Apa?" Tanya Putri memastikan.
Putri memeluk tubuh Sky, terlihat tubuhnya yang bergetar karena menangis. Sky mengelus pelan punggung istrinya dan sesekali mengecup sisi wajah Putri.
"Maafkan aku yang tidak peka terhadap perasaanmu sayang, maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu sayang." Ucap Sky pelan dengan Putri yang masih didalam pelukannya.
...**...
Dikediaman Danuarta, terlihat Dave yang sudah sadar dari efek obat bius yang disuntikkan oleh dokter keluarga.
Matanya mengerjab-ngerjab untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam kornea matanya.
"Mah," Ucap Dave lirih.
Lila yang tertidur sambil duduk terbangun dan langsung melihat ke arah Dave.
"Sayang, kamu sudah bangun... mau minum." Ucap Lila pada putranya.
Dave mengangguk pelan, segera Lila mengambil air putih yang sudah disiapkan di atas nakas.
__ADS_1
Sebelumnya Lila membantu Dave agar terduduk di atas kasur tersebut. Dengan telaten Lila meminumkan air putih tersebut.
"Apa yang sakit Dave?" Tanya Lila pada putranya.
Dave tergugu dengan memegang bagian dadanya, Lila reflek memeluk anaknya.
"Sayang, ikhlaskan Putri. Jika kamu menyayanginya pasti kamu bahagia melihat orang yang kita sayangi bahagia, terlebih saat ini Putri tengah hamil anak Sky. Jangan membuat Putri sedih sayang, Putri saat ini terbaring sakit di Rumah Sakit Y. Apa kamu ingin melihat Putri sakit karena memikirkanmu dan Sky yang bertengkar karena dirinya." Ucap Lila pada Dave.
Setelah Ambar dan Bulan keluar dari ruangan Putri, dalam perjalanan Bulan memberikan kabar kepada Lila perihal kondisi Putri dan juga memberi kabar jika mereka akan hadir dalam pemakanan Grace.
Lila yang mendapatkan kabar tersebut juga merasa sedih dan menyesal, terlebih terhadap Grace hingga meregang nyawa karena obsesi Dave pada Putri.
Karena melihat Dave yang masih belum sadar, akhirnya Lila menyuruh suaminya agar menyusul yang lainnya ke pusaran terakhir Grace.
Sesaat Dave tertegun, apakah selama ini sikapnya membuat Putri tertekan.
"Mah, bolehkah aku bertemu Putri." Ucap Dave lirih.
Sesaat Lila belum menjawab, "Apa yang akan kamu lakukan jika bertemu dengan Putri Dave?" Tanya Lila yang masih memeluk Dave.
"Dave hanya ingin melihat keadaan Putri Mah, setelah itu Dave tidak akan pernah muncul di hadapannya lagi." Ucap Dave lirih dengan menahan tangis.
"Sayang, menangislah. Setelah itu kamu harus banyak berbahagia, jika ingin bertemu dengan Putri harus Mama temani." Ucap Lila yang kini menghapus air mata Dave yang sudah membasahi matanya.
Dave mengangguk patuh, karena ketika dirinya tidak sadarkan diri tadi. Dave mendengar pembicaraan kedua orangtuanya, Dave tidak ingin membuat Mamanya sedih.
"Kamu memang putra kebanggaan Mama sayang, bagaimana jika dengan teman Putri saja. Sepertinya dia gadis yang baik." Ucap Lila dengan nada yang menggoda.
"Aku tidak mau dengan gadis bodoh seperti dia Mah, hanya menyusahkan saja. Apalagi pasti Dave akan sering bertemu dengan Putri karena mereka bersahabat." Jawab Dave mencebik.
Lila tergelak, Dave memang tidak menyukai perempuan bodoh selama ini. Karena bagi Dave hanya menyusahkan kedepannya.
"Tapi dia cantik Dave, bahkan suaranya terdengar menggemaskan bukan." Ucap Lila dengan terkekeh pelan.
"Bukan menggemaskan Mah, tapi suaranya memang cempreng." Jawab Dave mulai kesal bagaimana bisa Mamanya menjodohkan dirinya dengan gadis sejenis Rose.
Lila semakin tergelak kencang, dia sedikit lega karena Dave sudah bisa merasakan emosi yang lain saat ini.
"Baiklah sayang, pesan Mama. Jangan terlalu membenci seseorang berlebihan siapa tau dia adalah jodohmu kelak." Jawab Lila yang kini mencium kedua pipi Dave dengan gemas.
Dave yang mendengarnya hanya memajukan bibirnya seperi bebek.
...**...
__ADS_1
PROMO