
Happy Reading 🌹🌹
Dave yang melihat kepergian Rose dan Gabriel dari dalam restoran segera bergegas mengikuti mereka.
"Kak aku pulang dulu ya, Terima kasih sudah menemaniku makan siang." Ucap Rose lembut dengan tersenyum tipis.
Gabriel hanya mengangguk dan berjalan ke arah mobilnya.
Rose yang melihatnya hanya mencebik kesal, kebiasaan Gabriel selalu mengacuhkannya meskipun selalu ada untuk Rose.
Rose mengendikkan kedua bahunya dan berjalan menuju mobilnya.
Sebuah tangan menghentikan langkahnya, membuat Rose menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang.
Wajah Rose yang awalnya bahagia bak sinar mentari pagi berubah menjadi gelap karena melihat pria yang dia benci.
"Lepaskan!" Ucap Rose pelan tapi penuh penekanan.
"Tidak!" Jawab Dave tegas.
"Apa maumu! Aku sudah menjauh seperti yang kamu inginkan, menyingkirlah." Ucap Rose dengan berusaha melepaskan cekalan tangan Dave.
Dave bukan mengendurkan pegangan tangannya tetapi semakin kuat mencengkram pergelangan tangan Rose.
Dave menyeret Rose hingga perempuan itu terseok-seok, Dave membuka pintu mobilnya dan memaksukan Rose secara paksa dan menutupnya keras.
Dave segera berlari memutari mobilnya, langsung menekan kunci otomatis setelah dirinya berhasil masuk tidak membiarkan Rose kabur kali ini.
Dave segera menjalankan mobil dan meninggalkan parkiran restoran itu.
"Apa maumu! Turunkan aku!" Seru Rose dengan emosi.
Dave tidak menghiraukan ucapan Rose, dia tetap menyetir menuju suatu tempat dimana Dave akan berbicara kepada Rose.
Rose merasa percuma berbicara dengan pria yang berada di sampingnya, dia hanya diam dan mengambil HP nya.
"Halo kak Briel." Ucap Rose begitu telfonnya diangkat Gabriel.
Dave langsung mengerem mendadak sehingga membuat Rose terhuyung kedepan, dan jidatnya terbentur dasbor mobil.
"Apa kau gila!" Teriak Rose kesal.
Dave langsung merebut ponsel milik Rose dan membuangnya dari dalam mobil ke sebuah sungai yang mereka lewati.
"Ya! apa yang kamu lakukan Dave!" Rose terus berseru kepada Dave.
__ADS_1
Dave tidak peduli, dia menjalankan mobilnya. Perasaan Dave masih terselimuti rasa amarah dan cemburu tetapi wanita itu masih menghubungi Gabriel lagi di saat bersamanya.
Dave menghentikan mobilnya di jalanan yang sepi dan memmembuka seatbeltnya, dengan cepat Dave mendekat dan melu*mat bibir Rose.
Rose memberontak, mendorong tubuh Dave dan menamparnya.
Terlihat wajah Rose yang terselimuti amarah dan rasa sakit hatinya, matanyapun sudah berkabut.
Dave hanya tertawa pelan dan sinis, Rose segera membuka paksa kunci pintu mobil Dave dan keluar.
Rose berjalan lurus dengan menyeka air mata yang sudah keluar dengan kasar, "Pria brengsek!" Umpat Rose dalam hati.
Dave segera turun dan berlari menyusul Rose, "Rose," Ucap Dave setelah berhasil memegang tangan Rose.
Rose menoleh dan menatao tajam Dave dengan mata sebabnya, "Jangan mendekatiku!!! Aku jijik terhadapmu, cukup kamu menginjak-injak harga diriku Dave!! Cukup!!" Teriak Rose meluapkan perasaannya kepada Dave.
"Maafkan aku Rose, maafkan aku. Aku salah." Ucap Dave lirih dan menatap sendu kearah Rose.
"Maaf?" Beo Rose dengan tersenyum sinis.
"Kamu memperlihatkan hubungan badan dengan wanita murahan di hadapanku, kau tau Dave. Kamu pria paling menjijikkan yang pernah aku. kenal." Ucap Rose sarkas.
...**...
Beberapa bulan lalu setelah Dave merelakan Putri dan Sky.
Suara pintu kantor Dave di ketuk, terlihat sekertarisnya dengan baju yang sexy masuk dengan membawa sekotak bekal di tangannya.
"Maaf Tuan, ada titipan dari seseorang." Ucap sekertasis itu.
"Bawa kemari." Ucap Dave.
Sekertaria Dave berjalan mendekat dengan melenggak-lenggokkan badannya, terlihat beberapa kancing atas yang sengaja di buka sebelum masuk ke ruangan Dave.
Membuat tonjolan di dadanya terlihat belahannya begitu jelas, dan rok span yang benar-benar melekat membentuk bokongnya yang sexy.
Sekertasir meletakkan kotak bekal dengan gerakan yang sedikit erotis, membuat sesuatu dari dalam diri Dave bangun.
Dave menarik sekertarisnya sehingga duduk di pangkuannya, dengan ganas Dave mencumbu bibir sekertasinya tersebut.
Dave berjalan dan mengunci pintu kantornya, segera kembali dan membawa sekertarisnya di sofa ruangannya.
Entah sejak kapan mereka sudah bertelanjang, Dave segera melakukan penyatuan. Mereka melakukan dengan berbagai gaya dan akhirnya Dave puas menuntaskan hasratnya.
"Anda sangat hebat tuan." Ucap Slaekertaris tersebut dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
Dave tidak menjawab, dia memunguti baju dan masuk ke kamar pribadinya untuk mandi dan berganti pakaian.
Sedangkan sekertarisnya memakai kembali bajunya yang sudah hilang beberapa kancingnya tersebut.
Sedangkan di loby perusahaan Danuarta, terlihat Rose duduk di salah satu kursi menunggu Dave turun.
Ya, Rose menitipkan kotak bekal makan siang kepada resepsionis, karena mendapat kabar jika Dave tengah melakukan meeting dari sekertarianya.
"Apa Pak Dave suka, ahh... aku tidak sabar melihat kotak bekalku kosong." Gumam Rose dengan memegang kedua pipinya dengan bahagia.
Cukup lama Rose menunggu, terlihat Dave keluar dari lift dengan wanita di sampingnya.
Rose yang melihatnya tersenyum lebar dan menghampiri Dave, "Pak Dave." Ucap Rose yang sudah berada di depan Dave dan sekertarisnya.
Rose terdiam sejenak, melihat beberapa tanda merah di leher Dave dan juga wanita cantik di samping Dave.
"Apa kamu kesini hanya ingin diam, aku sibuk." Ucap Dave dengan wajah datar dan dingin.
"Eh, tidak Pak Dave. Aku hanya ingin mengambil kotak bekalku saja." Ucap Rose jujur dan tersenyum ke arah Dave.
Dave menaikkan sebelah alisnya, dia lupa dengan kotak bekal yang di antarkan sekertarisnya karena kegiatan panas mereka.
"Ambil saja di ruang OB, tadi aku kasih ke mereka." Ucap Dave yang langsung berjalan meninggalkan Rose begitu saja.
Sekertaris Dave tersenyum miring ke arah Rose, seakan pandangan yang mengejek dan merendahkan. Sekertaris itu mengikuti langkah Dave untuk makan siang bersama.
"OB?" Gumam Rose dengan sedih.
Rose menoleh memandang punggung Dave yang bercengkrama dengan wanita di sampingnya, "Apa memang kamu sebegitu bencinya denganku," Ucap Rose lirih.
"Tidak... Ayo Rose semangat. Pak Dave hanya masih galau dan kamu harus membuat dia move on dari Putri. Semangatttt!!" Seru Rose dengan tangan yang mengepal di depan dadanya.
Rose langsung berjalan keluar dari perusahaan Danuarta, dia akan langsung pulang untuk beristirahat karena merasa tubuhnya sangat lelah.
Sedangkan Dave di dalam mobil bersama sekertarisnya yang duduk di samping sopir hanya dapat berwajah masam.
Dia pikir sudah bisa membuat Dave terjerat dengan pesonanya, ternyata masih sama saja.
"Kau duduk di depan." Ucap Dave datar.
Sekertaris itu merasa sangat malu, karena Dave mengusirnya ketika akan masuk di kursi penumpang bersebelahan dengan Dave.
"Apa gadis itu sering datang ke kantor?" Tanya Dave yang mengalihkan pandangannya keluar jendela dengan bersedekap dada.
"Maksudnya?" Tanya sekertaris bingung.
__ADS_1
"Sudahla, lupakan." Jawab Dave acuh.