
...Jangan lupa like, komen, hadiah dan rating bintang lima untuk autor remahan koya ini....
...Kasihlah bunga oii riders, jangan pelit....
...Autor lemess gak ada yang kasih hadiah....
...mode pemaksaan ðŸ˜ðŸ˜...
Happy Reading 🌹🌹
Bulan melenggang pergi menunggalkan kedua putrinya dan menuju teras rumah.
Sungguh pemandangan yang membagongkan tepat berada di depan matanya.
Sky memakai sarung yang di ikat di lehernya dengan posisi tengkurap dan tangan dimajukan satu yang satunya di tekuk.
Entah sarung siapa yang digunakn oleh Sky, autor juga tidak tahu.
"Aku adalah batman..." Seru Sky yang berada di atas mobilnya.
Sedangkan Gabriel masuk kedalam kolam pancuran kecil dengan posisi meringkuk.
"Briel kenapa kamu berendam?" Tanya Bulan dengan sedikit berteriak.
"Aku ikan." Jawab Gabriel dengan sesekali menenggelamkan kepalanya.
Bulan shock dengan keadaan tersebut, hingga berteriak dan membuat kedua putrinya berhamburan keluar.
Putri segera meminta satpam rumah untuk menurunkan Sky, sedangkan satpam satu lagi membuat Gabriel keluar dari kolam pancuran tersebut.
Kedua pria tersebut di seret paksa oleh kedua satpam dengan susah payah.
"Wah, Sky lihat ruangan ini transparan tidak ada tembok." Ucap Gabriel riang.
Gabrel berlari dalam penglihatannya dia menembus ruangan satu dengan ruangan lainnya, tetapi pada kenyataannya Gabriel terbentur pintu dengan cukup keras.
"Lihat-lihat disana, ada seorang wanita melambai ke arahku." Jawab Sky tersenyum dengan melambaikan tangannya.
"Mana?" Tanya Briel.
"Itu, matamu tidak bisa melihat. Di dekat pintu dia sedang melambai ke arah kita." Ucap Sky dengan menoyor kepala Gabriel.
"Oh iya, hehehe... hallo." Jawab Gabriel yang ikut melambaikan tangannya.
Kelima orang itu bingung, kenapa kedua pria tampan itu melambaikan tangan ke arah pintu dapur yang tidak ada siapa-siapa.
"Pak tolong bawa Kak Gabriel ke kamar untuk mengganti pakaian basahnya. Dan Kak Sky taruh saja di ruang tamu." Ucap Putri Frustasi.
Segera kedua satpam itu menyeret kedua pria berbadan kekar, baru juga duduk. Sky sudah berdiri dan menempel di tembok.
"Kak Sky kenapa?" Tanya Bintang heran.
"Aku temenan sama cicak." Jawab Sky dengan menunjuk ke atas.
Bintang mengikuti arah yang di tunjuk Sky, dia memijit pelipisnya karena pusing.
Sedangkan Putri melihat satpam yang tadi menuntuk Gabriel sudah keluar dengan wajah lelahnya.
__ADS_1
Terlihat Gabriel duduk di pojokan setelah bajunya di ganti dengan baju yang bersih.
"Kak Gabriel, ayo berdiri kenapa malah duduk di pojokan." Ucap Putri heran.
"Aku di kutuk jadi butiran debu dan aku tidak tahu caranya kembali... huaaaa." Jawab Gabriel dengan menangis.
Putri semakin di buat frustasi dengan keadaan dua pria matang tersebut.
Satunya menangis di pojokan, satunya menempel di dinding berkamuflase menjadi cicak.
"Put, mereka habis makan apa sih!" Ucap Bintang kesal.
"Aku tidak tahu, tadi mereka makan nasi kotak yang di pesan dari luar dan sayur yang di bawakan Bu Siti ketika Kak Sky menginap di panti." Jawab Putri yang sudah terduduk di sofa.
"Sayang, coba kamu telfon Mama mertuamu. Mungkin tadi Sky mampir pulang ke sana dulu sebelum ke kantor." Ucap Bulan yang terkikik geli melihat tingkah keduanya.
"Baik Mah," Putri segera mengeluarkan Hpnya dan berjalan ke luar rumah untuk menelfun mertuanya.
Sedangkan Bulan, kini tengah asik mengabadikan kegilaan kedua pria tersebut.
"Mama kenapa malah di video." Ucap Bintang.
"Stt... kamu gak tau, ini adalah aib untuk mereka. Akan Mama putar di waktu yang tepat." Jawab Bulan dengan gelak tawa.
Sedangkan di luar Putri telah selesai menelfon mertuanya, Ambarsari akan menyusul dengan Ayah Agung.
Tidak lama Doni dan Zidan sampai di rumah setelah berkunjung ke rumah Rudi.
Tidak berselang lama, Rudi dan Lila sampai di kediaman Wiratama yang bebarengan dengan Ambarsari dan Agung.
Setelah mereka berjabat tangan dan cipika cipiki, segera mereka berempat masuk kedalam mansion tersebut.
"Kalian kenapa?" Tanya Agung kepada besannya.
Doni hanya menunjuk ke arah Sky, terlihat Sky tengah berada di depan meja yang ada lacinya.
Sky menghalangi laci dengan tubuhnya dan sedikut berjongkok. Kedua tangannya di masukkan ke dalam laci tersebut.
Segera Sky mengeluarkan kedua tangannya yang seakan-akan tengah memegang sesuatu menuju ke jendela yang terbuka.
"Bye... bye." Ucap Sky dengan melambaikan tangan ke samping jendela.
"Sky, kamu kenapa Nak?" Tanya Ambarsari khawatir.
"Sky habis mengeluarkan burung dara Mah," Jawab Sky dengan menujukk keluar jendela.
Ambarsari memegangi kepalanya yang berdenyut, dia mendudukkan diri di salah satu sofa ruang tamu.
"Yah, coba tanyakan kepada sopir kita yang tadi pagi menjemput Sky. Apa anak kita ketempelan makhluk halus." Ucap Ambarsari kepada Agung.
Agung segera melangkah keluar untuk menuju ke mobilnya, dimana sopir yang tadi pagi menjemput Sky untuk pulang.
Jika benar keduanya ketempelan makhluk halus, maka akan Agung sembur dengan air.
Sedangkan Gabriel tengah marah-marah dan tertawa di depan Hpnya.
"Ishh, kenapa tulisannya bisa bergerak-bergerak sendiri."
__ADS_1
"Hahaha... tulisannya jadi lebar sekali sampai keluar dari Hp."
"Euhh, aku tidak punya tenaga untuk mengetik."
Begitulah kira-kira ucapan yang keluar dari mulut Gabriel.
Hp Gabriel di ambil oleh Agung, setelah dirinya menemui sang sopir.
"Bagaimana besan?" Tanya Doni penasaran.
Agung meraup wajahnya dengan kasar, seluruh keluarga tengah berkumpul dan melihat tingkah kedua pria matang tersebut.
"Sky tadi membawa pulang buah kecubung dari panti." Jawab Agung frustasi.
"Kecubung?" Beo seluruh orang.
"Mama ingat Yah, tadi Sky menyerahkan buah hijau seperti terong belanda ke pembantu kita untuk memasaknya dan di bawa ke kantor." Jawab Ambarsari membenarkan ucapan suaminya.
Putri menutup mulutnya karena shock, "Jadi, sayur yang aku tuangkan kedalam makanan mereka tadi buah kecubung?"
Semua orang menoleh ke arah Putri, "Berapa banyak Nak yang kamu berikan kepada mereka?" Tanya Rudi dengan melirik tingkah kedua pria tersebut.
"Semuanya, aku bagi dua." Cicit Putri pelan.
Seluruh orang menghembuskan nafasnya pelan. Sudah di pastikan jika Sky dan Gabriel akan seperti itu untuk beberapa hari kedepan.
"Kata Kak Gabriel itu sayur yang di bawakan oleh Bu Siti, jadi Putri tidak curiga sama sekali." Lanjut Putri pada semuanya.
"Tidak apa-apa, sesekali kita melihat kedua pria es batu ini bertingkah konyol." Jawab Agung dengan cekikikan.
Ambarsari mencubit lengan suaminya, "Ayah!" Ucap Ambarsari pada suaminya.
"Tenang Mah, kita tidak akan lagi mendapatkan tontonan gratis seperti ini. Lebih baik kita rekam untuk senjata kedepannya." Jawab Agung dengan mengerlingkan sebelah matanya ke arah istrinya dengan di akhiri tawa.
"Baiklah karena misteri sudah terungkap, kapan kita akan beraksi?" Tanya Rudi pada seluruh orang di ruangan tersebut.
"Pemeran utamanya sedang mabuk kecubung Rud, kita harus menundanya hingga dia sadar dulu." Jawab Doni dengan melihat kearah Sky.
Sky dan Gabriel terlihat duduk di lantai, dia mengamati isi dalam gelas yang ada di meja tersebut dengan serius.
"Aku jadi haus melihat mereka." Jawab Rudi dengan mengambil gelas.
Belum gelas mendarat di bibirnya suara Sky sudah membuatnya mengurungkan niatannya untuk minum.
"Paman jangan di minum itu ada ikan cupangnya," Ucap Sky.
"Benar... benar, jangan di minum. Ikan ****** di dalam gelas ini akan aku pelihara." Jawab Gabriel dengan merebut gelas yang berada di tangan Rudi.
"Aku minta ****** yang merah ini ya, yang seperti api." Ucap Sky kepada Gabriel dengan menunjuk gelas di depannya.
Gabriel menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, yang membuat Sky bersorak senang.
Para orang tua yang tengah berkumpul guna menyusun rencana dengan matang, hanya menghela nafas panjang.
...**...
MAMPIR KE NOVEL TEMAN AUTOR YA.
__ADS_1