Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Kenyataan Pahit Bintang


__ADS_3

Hallo readers.


Banyak yang salah paham tentang bab promo semalam ya.


Maafkan autor ya, kenapa ada bab promo tidak ada nama Promo.


Ya tidak apa-apa 😂


Mulai hari ini autor akan up bab sebanyak 5 bab.


Semoga autor tidak pingsan 😵


Happy Reading 🌹🌹


Mobil jazz merah tersebut sudah terparkir serampangan didepan rumah mewah, dengan langkah yang tergesa-gesa Bintang masuk kedalam rumah dan berteriak seperti orang kesetanan.


"Mama... Papa... Seru Bintang. Bahkan dirinya melangkahkan kakinya keseluruh penjuru rumah tersebut.


"Bik... bibik!" Seru Bintang lagi.


(Kenapa teriak terus ya tuh Bintang)


Dengan langkah tergopoh-gopoh seorang ART mendekat kearah Bintang.


"Iya Non, ada apa?" Tanya ART dengan sedikit menunduk.


"Mama dan Papa kemana bik?" Tanya Bintang.


Belum ART itu menjawab, suara deru mobil yang Bintang kenal sudah tersengar.


Segera Bintang meninggalkan ART tersebut begitu saja, dia berlari hingga sampai kedepan pintu utama agar segera dapat bertemu kedua orang tuanya.


Kini mereka bertiga tengah duduk diruang keluarga, seluruh ART mereka suruh keluar untuk kerumah yang letaknya dibelakang.


Terlihat Bintang tengan mencengkram kuat bantal sofa dan matanya memerah, dia memejamkan matanya dan mulai bertanya kepada kedua orangtuanya.


"Ap... apa aku anak kandung kalian?" Tanya Bintang kepada kedua orang tuanya.


Doni dan Bulan terkejut karena pertanyaan yang terlontat dari Bintang, "Kenapa kamu bertanya seperti itu Nak, tentu saja kamu anak kandung Mama dan Papa." Jawab Bulan dengan halus.


"Bohong!!" Seru Bintang kepada Bulan.


"Bintang! Jangan pernah membentak Mama." Seru Doni pada Bintang.

__ADS_1


"Jawab dengan jujur! Apa aku anak kandung kalian, hah!!" Seru Bintang dengan posisi berdiri, dia sudah tidak dapat mengontrol emosinya.


"Ya." Jawab Doni datar dan lirih.


Bintang ambur terduduk dilantai, bagaikan petir disiang bolong.


Dia menangis tergugu diatas lantai.


"Lalu, Bintang anak siapa?" Tanya Bintang lagi dengan suara yang sudah terputus-putus.


Bulan segera berlari dan memeluk Bintang, dia ikut menangis.


"Mama, Bintang anak siapa?" Tanya Bintang lagi.


Bulan hanya menggelengkan kepalanya, dia juga tidak tahu siapa orangtua kandung Bintang.


"Bintang, kamu mengetahuinya dari siapa Nak?" Tanya Bulan halus dengan mengekus punggungnya.


Bintang menggeleng, "Bintang tidak tahu Mah, dia salah satu dosen dikampusku. Dia mengancam Bintang agar tidak menyakiti istri Kak Sky. Ini semua karena ja/ng itu dia sudah memiliki suami tetapi main belakang dengan seorang dosen." Ucap Bintang dengan tatapan tajam.


Dosen? Apakah aku melewatkan sesuatu. Gumam Doni dalam hatinya.


Bulan melepaskan pelukannya, tangannya kini menangkup kedua pipi Bintang yang terlihat lebih berisi.


"Apa makhsudmu Nak, dosen siapa? Tidak mungkin Putri bermain api dibelakang Sky." Ucap Bulan.


"Bukan begitu sayang, hanya Mama melihat istri Sky itu gadis yang polos. Jadi tidak mungkin dia bermain api dibelakang Sky." Jelas Bulan agar tidak salahpaham dengan Bintang.


"Mama tahu darimana jika Putri gadis polos?" Tanya Bintang dengan tatapan curiga.


"Mamakan sudah pernah bertemu dengannya sayang, jadi Mama tahu jika dia hanya gadis polos. Mungkin terakhir pertemuan Mama dengannya memang tidak meninggalkan kesan baik untuknya oleh karena itu dengarkan Mama."


"Bintang, meskipun kamu bukan anak kandung kami tetapi kami sangat menyayangimu Nak." Jelas Bulan pada sang anak.


Bintang hanya menggeleng, "Tidak! Kalian tidak akan pernah menyayangiku lagi... hiks, bagaimana jika anak kandung kalian sudah ditemukan. Apa aku masih diterima dikeluarga ini hah!" Seru Bintang dengan semakin menangis deras.


"Bintang, kami akan menyayangi kalian secara adil. Anggaplah nanti anak kandung Mama dan Papa itu saudaramu." Bujuk Bulan.


"Tidak!! Aku tidak mau!" Jawab Bintang dengan menyentak kasar tangan Bulan.


"Bintang! Jaga kelakuanmu! Kami tidak pernah mengajarimu berani kepada orangtua." Seru Doni pada Bintang.


Perasaan Doni juga bingung, dia ingin tinggal dengan anak kandungnya. Tetapi dia juga harus mempertahankan Bintang agar tetap tinggal dengan mereka.

__ADS_1


Doni menyayangi Bintang, karena dia tahu jika istrinya tidak bisa hamil lagi. Doni membayangkan hidup dengan dua anak perempuan meskipun Bintang bukan anak kandungnya.


"Papa sudah sering membentakku!! Apa Papa sudah menemukan anak kandungmu!" Geram Bintang dengan menatap tajam kearah Papanya.


"Inikah yang dinamakan bersikap adil, anak itu belum ditemukan tetapi Papa sudah tidak bersikap adil denganku." Lanjut Bintang.


Bintang segera berdiri dan berlari meninggalkan ruang keluarga tersebut memasuki kamarnya.


Didalam kamar, Bintang mengamuk memecahkan barang-barang yang selalu tertata rapi didalam kamarnya.


Suara teriakan dan pecahan dari barang-barang terdengar dari dalam kamar Bintang.


Bintang menenggelamkan wajahnya dibantal, dia meredam tangis yang terdengar menyayat hati.


Jika aku bukan anak kandung kalian, aku harus pergi kemana jika anak kalian datang kerumah ini.


Sedangkan dilantai satu, Doni dan Bulan hanya setia mendengarkan suara barang-barang yang jatuh dari dalam kamar Bintang. Hingga suara itu hilang.


"Papa, ayo kita kekamar Bintang. Mama takut dia akan seperti dulu lagi." Ajak Bulan kepada suaminya.


"Tenang saja Ma, Bintang tidak akan melakukan hal yang bodoh lagi. Kita beri waktu untuknya sejenak." Jawab Doni dengan segera merengkuh istrinya kedalam pelukannya.


"Mama takut Pah, apakah Bintang dan Putri dapat saling menerima." Tanya Bulan dengan suara lirih.


"Kita berdoa saja Mah, Papa akan menyelidiki rumah sakit dimana Mama dulu melahirkan." Jawab Doni dengan mengelus surai istrinya.


Bulan mengangguk, memang benar semua berawal dari rumah sakit tersebut.


"Pah, bagaimana hubungan Bintang pria itu. Mama takut Bintang akan menjadi korban Pah." Ucap Bulan yang saat ini sudah menatap suaminya.


"Papa sudah berusaha mencari informasinya Mah, tetapi tidak menemukan apapun. Seakan dia tengah dilindungi oleh seseorang." Jelas Doni pada istrinya.


"Lalu kita harus bagaimana Pah, Mama takut terjadi sesuatu dengan Bintang." Bulan sudah mengguncang lengan suaminya.


"Tenanglah Mah, Bintang mulai saat ini akan Papa beri bodyguard bayangan." Jelas Doni pada Bulan dengan menepuk punggung tangan istrinya.


"Sebenarnya siapa laki-laki itu Pah, apa tujuannya mendekati Bintang." Ucap Bulan frustasi.


"Jackson... panggilannya adalah Jack, Papa tidak menemukan informasi apapun terkait dirinya. Hanya ada namanya tanpa embel-embel nama keluarga dan dia pria asing dari Amerika." Jelas Doni pada Bulan.


...**...


...Jangan lupa Likenya...

__ADS_1


...PROMO NOVEL...



__ADS_2