
Happy Reading 🌹🌹
Sudah tiga hari lamanya Putri di tahan oleh Sky untuk tetap berada di rumah, Sky tidak membiarkan istrinya lepas dari pandangannya meskipun hanya satu detik saja.
Begitu juga beban kerja Gabriel, ditinggal tiga hari oleh bosnya dengan alasan mencetak generasi Gandratama terbaru.
Sesil yang melihat dokumen menumpuk di mejanya hanya mendesah pasrah, sekertaris Sky tersebut terkena dampak dari ketidakhadiran Sky di perusahaan. Ingin sekali protes, tetapi dia terlalu takut dengan Gabriel.
"Mana map yang berwarna biru muda," Ucap Briel mengagetkan Sesil.
"Belum selesai Tuan, kurang sedikit lagi." Jawab Sesil menunduk.
"Kau becus bekerja tidak hah! Lihat dokumen terus menumpuk di mejamu dan meja kerjaku, tapi kau tidak membantu sama sekaki." Ucap Briel yang kesal karena dia sudah lelah fisik dan pikiran.
"Maaf tuan," Cicit Sesil lirih.
"Aku beri waktu sampai jam makan siang, harus sudah selesai beberapa laporan dan antarkan di meja kerjaku." Perintah Briel pada sekertaris dengan baju kekecilan tersebut.
Gabriel segera meninggalkan meja asisten Sky tersebut dengan perasaan kesal, sungguh kepalanya merasa ingin meledak karena pekerjaan yang menumpuk.
Sesil terduduk lemas di kursinya, alamat hari ini dia tidak dapat makan siang lagi.
"Hah, hitung-hitung aku sedang berdiet." Gumam Sesil dalam hatinya.
...**...
Sedangkan Dave yang sudah tiga hari tidak dapat menghubungi Putri maupun bertemu dengannya di area kampus.
Memutuskan untuk mendatangi kediamannya dengan Sky, Dave menghela nafas panjang sebelum menekan bel.
Terlihat jika di garasi ada mobil yang sangat di hapali oleh Dave, apakah Sky berada dirumah atau dia di jemput oleh asistennya.
Terdengar suara bel rumah berbunyi, Sky yang hampir meloloskan baju istrinya mengumpat kesal karena Putri bersikukuh untuk membukakan pintu karena takut jika yang datang adalah kedua orangtua mereka.
"Sayanggg... tanggung." Rengek Sky kepada istrinya.
"Sayang nanti malam saja ya, siapa tau jika yang datang orangtua kita." Jawab Putri dengan mengelus rambut belakang suaminya.
Sky menelusupkan kepalanya di dua gunung kembar istrinya, dia terkulai lemas karena gagal menyetorkan bahan baku Sky junior di pabriknya.
Sky bangun dengan kesal, dia memakai kaosnya lagi dengan wajah yang cemberut dan di tekuk.
Putri yang melihatnya terkekeh geli, ekspresi wajah suaminya seperti bayi yang tidak mendapatkan mainan.
__ADS_1
Sky berjalan keluar terlebih dahulu, karena suara bel terus berbunyi.
"Ya! Sabar, kami tidak tuli." Seru Sky dengan berjalan menghentak hentakkan kakinya kesal.
Pintu gerbang terbuka, terlihat Dave yang berbaju dengan rapi dengan menggunakan jasnya. Sky melihat Dave dengan pandangan yang heran.
"Kenapa kau kesini." Ucap Sky pada Dave dengan nada sengit.
"Kenapa kau tidak bekerja?" Dave tidak menjawab tetapi melemparkan pertanyaan.
"Ck, kebiasaan bukannya menjawab malah ikut bertanya. Kenapa kamu pagi-pagi datang kemari?" Ucap Sky lagi.
"Aku hanya ingin melihat Putri, sudah tiga hari tidak masuk ke kampus. Apakah dia sakit?" Tanya Dave panjang lebar.
"Ck, kau bukan dosennya lagi. Apa pedulimu." Ucap Sky dengan nada ketus.
"Tentu saja aku peduli, dia teman kecilku." Jawab Dave tidak ingin kalah.
Belum juga Sky menjawab ucapan Dave, suara Putri sudah memanggilnya dari dalam.
"Siapa sayang!" Seru Putri dari depan pintu kareba jarak dengan gerbang cukup jauh.
"Tukang paket!!"
Jawab Sky dan Dave bersamaan, keduannya saling menatap horor.
"Sebenarnya Kak Dave atau tukang paket, ada-ada saja." Gumam Putri.
Segera Putri memakai sandal swallo menuju gerbang, kepalanya menyembul keluar.
"Kak Dave," Ucap Putri.
"Sayang kenapa kak Dave tidak di ajak ke dalam, ayo masuk tidak enak dilihat tetangga." Ucap Putri pada suaminya.
Sky mendorong kepala Putri dengan jarinya, "Iya... iya... cepat kamu ganti baju." Ucap Sky pada istrinya.
"Ayo masuk," Ucap Sky pada Dave.
Dave masuk berjalan beriringan dengan Sky, sedangkan Putri berjalan di depan mereka. Terlihat beberapa tanda merah di leher gadis pujaan hatinya. Juga baju yang... ekhm sexy.
Sky melirik ke arah Dave, "Jangan lihat leher istriku, aku takut kamu akan merengek meminta dinikahkan kepada orangtuamu." Ucap Sky datar.
Dave hanya diam saja tidak membalas ucapan Sky, karena dadanya bergemuruh ingin sekali menghapus jejak tersebut.
__ADS_1
Kini ketiganya duduk di ruang tamu setelah Putri berganti baju dan menyajikan dua cangkir kopi.
"Ada apa Kak Dave, pagi-pagi datang ke rumah?" Tanya Putri yang sudah duduk di sebelah Sky.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu, karena sudah tiga hari ini kamu tidak datang ke kampus." Ucap Dave dengan suara yang lembut.
"Aku hanya lelah saja kak, jadi tidak masuk kuliah. Besok aku akan masuk lagi. Karena sudah cukup istirahatnya." Jawab Putri dengan tersenyum canggung.
Sky menoleh ke arah Putri, "Tapi sayang..."
"Sayang juga harus ke kantor bukan, kata Kak Gabriel banyak pertemuan yang tertunda." Ucap Putri menyela ucapan suaminya.
Putri sangat malu jika sampai Sky berbicara jika dia tidak di perbolehkan masuk kuliah karena menyetorkan mayones ke dalam pabrik.
Dave yang melihat interaksi Sky dan Putri semakin kesal, bukankah pernikahan mereka hanya kontrak tapi kenapa mereka terlihat lebih mesra. Gumam Dave dalam hati.
Sky yang melihat wajah ketidaksukaan Dave semakin berkobar jiwa kesombongannya untuk menunjukkan kepemilikan Putri.
"Ekhm, Dave Terima kasih sudah mengkhawatirkan istriku. Menurutku kedepannya tidak perlu mengkhawatirkan istriku, karena sekarang sudah ada aku sebagai suaminya." Jawab Sky dengan menekankan kata istriku di setiap ucapannya.
Mata Dave berkedut, sepertinya dia datang di saat yang salah. Karena semenjak kehadirannya hari ini di buat emosi.
"Meskipun Putri sudah menjadi istrimu, tetapi tetap aku yang lebih mengerti tentangnya." Jawab Dave tidak mau kalah.
Kalah, oh tidak ada di dalam kamus Sky Putra Gandratama.
"Ya, aku tau. Kamu adalah teman masa kecil istriku, tetapi aku sebagai suaminya lebih mengenal tentang istriku dari luar maupun dalam se dalam dalamnya." Jawab Sky tersenyum miring ke arah Dave.
"Wah hari sudah semakin siang, sepertinya aku harus segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Bintang." Ucap Putri yang menyela perdebatan keduanya.
"Aku antarkan Put, sekalian aku juga ingin pulang." Jawab Dave cepat.
Sky menatap tajam ke arah Dave, Cih dasar pria jomblo begitu kencangnya usahamu untuk mendekati Putri, tidak akan mudah ferguso selama masih ada aku di sisinya. Gerutu Sky di dalam hati.
"Tidak perlu kak, nanti akan di antar oleh suamiku. Kami memang cukup lama belum datang kerumah Papa." Ucap Putri menolak halus ajakan Dave.
"Baiklah, jika begitu aku akan pulang dulu." Ucap Dave yang tersenyum hangat kepada gadis pujaan hatinya.
Sky yang melihat raut kekecewaan Dave merasa di atas angin, Sky tersenyum lebar ketika menyalami Dave yang berpamitan pulang.
"Ayo sayang, kita teruskan." Ucap Sky kepada istrinya setelah mengantar Dave keluar.
...**...
__ADS_1
Wes karepmu Sky 😌😌