
Biasanya binatang buas yang beberapa hari ini meresahkan para warga tidak lagi terlihat ini sedikit membingungkan untuk para ksatria yang mau ikut sayembara pembantaian itu.
Hadiah yang di tawarkan oleh pihak kerajaan juga bukan hadiah yang terlihat biasa saja. Hadiah yang di tawarkan oleh mereka adalah hadiah yang sangat fantastis.
Sudah banyak orang yang berdiri di perbatasan hutan dan desa tempat binatang buas itu mengamuk nah sekarang tidak ada satupun binatang buas yang menampilkan batang hidung dan ini juga membuat mereka sedikit terkejut dan heran.
Zhang Wei juga tidak peduli lagi dengan binatang buas itu karena dia sudah menebak penyebab binatang buas itu keluar dari sarangnya.
"Kakak apakah kau masih ada urusan di tempat ini? tanya Zhang Wei di kala dia sudah menyusul Surya Geni.
"Tidak ada. Bagaimana denganmu bukankah kau mau ikut bersenang dengan sayembara itu? ucap Surya Geni sedikit heran dengan perubahan Zhang Wei.
"Tidak! binatang buas itu tidak akan datang lagi" ucap Zhang Wei dengan nada santai.
Surya Geni memutuskan untuk mengajak Zhang Wei kembali ke kerajaan Bintang.
Sekarang mereka telah sampai di perbatasan kerajaan tetangga dengan kerajaan Bintang.
Perjalanan mereka tempuh hingga memakan waktu satu mingu empat hari dalam perjalanan dan beristirahat di malam hari.
Selama perjalanan juga mereka kerap kali bertemu dengan para perampok tetapi itu hanya masalah kecil karena Surya Geni sendiri memiliki ilmu beladiri yang kuat.
Setelah racun dalam tubuhnya secara total telah hilang tidak ada lagi yang menghambat pergerakan Surya Geni jadi selama perjalanan Zhang Wei banyak santainya karena dia tidak perlu turun tangan menghadapi para cecunguk kalau dia dalam keadaan normal.
Tetapi sekarang karena dalam mode hilang ingatan ya dia tidak menganggap perampok itu cecunguk.
Mereka memasuki sebuah kota kecil sudah sore, mereka memutuskan untuk beristirahat di tempat itu sebelum melanjutkan perjalanan.
Mereka menemukan sebuah penginapan sederhana yang bahkan bisa di bilang tidak layak bahkan penggantung papan nama penginapan itu sudah lapuk.
Zhang Wei yang jalan terlebih dahulu ke arah penginapan itu.
"Selamat datang Nona dan Tuan" ucap seorang wanita paruh baya.
Penginapan itu terlihat sepi seperti tidak ada penghuninya.
"Bibi aku mau memesan dua kamar. Apakah masih ada kamar kosong? ucap Zhang Wei yang terbiasa memanggil wanita dewasa dengan panggilan bibi.
"Masih ada nona" ucap wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Kakak tidak apa-apa kita menginap di sini? tanya Zhang Wei melihat pemuda tampan di belakangnya yang sedari tadi hanya mengikuti dalam diam.
Zhang Wei harus memastikan orang yang berada di belakang nya ini bersedia biar bagaimanapun dialah nanti yang akan membayar sewa penginapan ini.
"Selama adik kecil menyukai itu tidak apa-apa" ucap Surya Geni dari belakang.
"Berapa biaya untuk kedua kamar ini bibi? ucap Zhang Wei
"Tujuh puluh koin perak untuk kedua kamar tersebut nona" ucap bibi itu dengan senang.
Zhang Wei sedikit terkejut dengan harga kamar kedua kamar ini sangatlah murah mungkin karena keadaan penginapan ini.
Zhang Wei menoleh melihat orang yang di belakangnya tentu yang di lirik mengerti.
"Tolong antar kami ke kamar bibi" ucap Zhang Wei berlalu.
Pemuda itu mengeluarkan dua koin emas.
"Tuan ini terlalu banyak harga kamar kami hanya tiga puluh lima perak" ucap wanita itu dengan cepat.
"Tidak apa-apa bibi sekalian antarkan kami makanan" ucap Surya Geni berlalu mengikuti langkah Zhang Wei.
Keesokan paginya masih begitu pagi udara juga masih sangat dingin Zhang Wei dan Surya Geni sudah meninggalkan penginapan dan memberikan sedikit amal.
Tentu perjalanan mereka membeli dua kuda tadi malam Surya Geni sudah membeli dua kuda sekaligus.
Perjalanan ini lumayan melelahkan yang walaupun mereka adalah orang yang memiliki tenaga dalam tetapi itu cukup membuat mereka kelelahan.
Awalnya Surya Geni cuma mau membeli seekor kuda tetapi karena Zhang Wei mau mengendarai kuda sendiri terpaksa Surya Geni harus mengiyakan perkataan anak kecil keras kepala yang sudah dua minggu bersamanya.
Zhang Wei memilih menaiki kuda hitam yang terlihat gagah itu.
Zhang Wei mendekati kuda itu dan mengelus lembut kepala kuda itu dan entah membisikkan kata-kata apa kuda itu terlihat meringkik rendah.
Zhang Wei dengan santainya menaiki kuda tinggi itu yang melebihi tinggi badannya tanpa kesulitan sama sekali seolah sudah terbiasa naik kuda.
Awalnya Surya Geni mengira Zhang Wei membutuhkan bantuan untuk naik tetapi malah sekarang dia di beri kejutan oleh sosok kecil itu.
Adik kecil ini selalu memberikan dia kejutan ini dia tidak akan percaya kalau adik kecil itu tidak berasal dari sebuah keluarga bangsawan. Semua tindakan Zhang Wei selama ini tidak mencerminkan kalau dia hanya gadis biasa melainkan semua tindakan Zhang Wei mencerminkan kalau dia seorang bangsawan tinggi.
__ADS_1
Dan selama ini dia belum bertemu gadis kecil yang bisa menunggangi kuda rata-rata baik itu gadis dewasa takut naik kuda sendirian.
"Ayo kakak" ucap Zhang Wei setelah duduk tenang di atas pelana kuda.
"Ayo " ucap Surya Geni memimpin jalan.
Setelah mereka keluar dari kota Zhang Wei segera mengusulkan ide.
"Kakak ayo kita bertanding" ucap Zhang Wei.
Jiwa nakalnya sedikit terusik dengan kejadian seperti ini dan juga dia mendapatkan sepenggal ingatan yang tidak terlihat jelas.
"Lagi-lagi bayangan seperti ini muncul" ucap Zhang Wei.
Mendengar perkataan Zhang Wei, Surya Geni mengerutkan keningnya. Jangan bilang adik kecil ini mau mengajak dia untuk memacu kuda.
"Ayo" ucap Zhang Wei yang belum mendapat respon dari yang di ajak bicara.
Zhang Wei terlebih dahulu memacu kudanya melihat Zhang Wei yang memacu kuda tanpa menunggu segera Surya Geni juga menyusul.
Zhang Wei dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya sensasi ini seolah dia merindukan.
Zhang Wei tak henti-hentinya dia melepaskan tangannya dari tali pelana kuda membuat orang yang menyusul dari belakang terlihat sangat kuatir.
Bagaimana bisa adik kecil ini melepaskan tangannya dari pegangan sedangkan kuda itu berlari dengan sangat kencang yang mengajak mati.
"Adik kecil jangan lepaskan tanganmu dari tali kuda itu" teriak Surya Geni dari belakang.
Sekarang jantung nya berpacu dengan sangat cepat seiring laju kuda itu. Dia benar-benar syok dengan kelakuan Zhang Wei bahkan Zhang Wei masih sempat-sempatnya bersenandung di atas kuda.
"woy ini sangat menyenangkan coba renggang kan tangan Kaka seperti ini" ucap Zhang Wei meminta orang yang sudah sangat syok dengan kelakuannya.
Tentu Surya Geni tidak akan menuruti keinginan adik kecil itu sekarang yang ada di benaknya semoga tidak terjadi apa-apa.
Hai hai hai sobat π Author baru come back nih π₯°
Apa kabar kalian?
Sehat jasmani dan rohani?
__ADS_1
Jangan lupa dukung dengan cara Like komentar dan Vote kakak Author ya kakak Readers