
Cerita ini hanya sekedar hiburan saja kalau terdapat kata-kata kekanakan atau pun kasar di wajarin saja.
Jujur Author tidak terlalu suka dengan yang berbau formal seperti di novel sejarah pada umumnya yang harus menentukan etika.
Karena Author orangnya santuy jadi menulis sesuai kemauan saja dan menorehkan di sini. Kalau terdapat cerita lucunya biar tertawa bareng ataupun terdapat cerita kesal yang bikin darah mendidih biar sama-sama kesal.
**""''''''***''''::::!!?;!???;(--)-_-())))(())(()()()()))))))))(()
Pertempuran antara pasukan kerajaan dan pasukan lembah ular itu benar-benar menghancurkan segalanya.
Di area sekitar mereka bertempur benar-benar sudah tidak berbentuk lagi banyak pohon yang tumbang karena serangan dari kedua kekuatan besar itu.
Kedua orang pemimpin dari kedua pasukan itu masih terus bertarung.
Surya Geni mengeluarkan sebuah cahaya berwarna kebiruan dan langsung menyerang kembali Ratu ular yang melakukan hal yang sama serangan pertama masih bisa di balas dan Surya Geni kembali menyerang dengan melakukan serangan bertubi-tubi tidak memberikan kesempatan ratu ular membalas.
Akhirnya di serangan kedua ratu ular di pukul mundur dan memuntahkan cairan merah.
"Ayo mundur" teriaknya langsung menghilang.
Surya Geni juga tidak mengejar dia lebih mementingkan pengawalnya terluka.
"Beri pengobatan untuk yang terluka" ucapnya kepada salah satu pemimpin pasukan yang tidak terluka.
"Baik Yang Mulia" Jawab seorang pengawal.
Para prajurit yang tidak terluka membopong prajurit yang terluka kembali ke istana.
Di rumah makan saat ini anak kecil yang meremehkan keberadaan para preman tadi sudah di kelilingi oleh preman karena menghajar salah satu dari mereka hingga babak belur.
"Paman? apa yang kalian lakukan? tanyanya dengan meringkuk di bawah meja.
Sekarang dia terlihat seperti seorang anak kecil pada umumnya yang takut di pukuli wajah acuhnya tadi hilang seketika melihat segerombolan preman di depannya.
"Bocah kau membuat kesalahan yang seharusnya tidak kau lakukan! bentak salah satunya
"Paman aku hanyalah anak kecil yang mau makan. Apa paman tidak merasa kasihan melihat anak setampan aku? ucapnya masih dari bawah meja.
"Ikat bocah ini dan bawa ke rumah kayu" ucap pemimpin preman itu.
Rumah kayu adalah rumah tempat berkumpulnya para budak yang di jual baik itu budak untuk kerja ataupun budak seks.
"Kakek tolong aku tidak mau di bawa ke rumah itu" ucapnya memberontak kepada seorang pria paruh baya yang masih menonton tadi.
Kakek paruh baya itu mengerutkan keningnya menilai anak kecil itu.
"Aish kenapa pula ini kakek tidak bertindak sih" batin kesal anak itu.
Apakah penyamarannya sudah di ketahui.
"Lepaskan anak itu! suara serak dari pria tua itu.
__ADS_1
"Pak Tua kalau tidak ada urusan jangan menghalangi jalan kami" ucap salah satu dari mereka.
Pak Tua tidak mengindahkan peringatan mereka melainkan mengulangi perkataannya.
"Serbu"
Segera preman itu melepaskan pegangan mereka terhadap anak kecil dan menyerang pria tua itu yang menyambut serangan mereka dengan santai.
Pertarungan tidak bisa di hindari anak kecil itu menjauh dan menonton pertarungan itu dengan santai.
Sekarang melawan preman tidak perlu dia turun tangan sendiri meminjam tangan orang lain untuk membunuh itu terdengar sedikit berbeda.
Dengan melipat kedua tangannya di dada dan kaki kanan di atas kaki dia duduk dengan tenang tanpa kuatir akan kena serangan liar dari mereka.
Kapan lagi dia menonton orang bertarung kalau bukan sekarang?.
Orang-orang yang masih berada di sekitar segera menjauh untuk tidak terkena serangan dari mereka.
Tinggallah seorang anak kecil itu yang masih betah menonton pertunjukan itu.
Satu persatu para preman itu berjatuhan dengan keadaan yang tidak bisa di bilang baik-baik saja.
Dengan mengangkat tangannya ke bawah pria tua itu datang menghampiri sosok kecil itu yang bertepuk tangan di sertai wajah ceria itu.
"Kakek hebat" ujarnya memberikan kedua jempol kepada kakek tua itu.
"Sekarang kau kembalilah" Kakek tua itu menyuruh anak itu kembali dan langsung pergi.
"Terimakasih kakek"teriak anak itu setelah kakek tua itu menghilang dari pandangan.
"Yang Mulia pangeran dan pasukan kerajaan telah kembali" teriak seorang penjaga mengumumkan kedatangan kembali para pasukan.
Raja dan Permaisuri segera menyambut kedatangan Putra mereka.
"Apa kau baik-baik saja putraku? ucap permaisuri memeluk Putranya.
"Ananda ini baik-baik saja Ibunda" ucapnya
"Dayang Sumbi! teriak seorang Zhang Wei dari dalam kamar.
"Hamba Tuan Putri? ucap dayang Sumbi
Zhang Wei menengadah kepala dan berkata"Dimanakah letak perpustakaan?
Dayang Sumbi segera menjawab dengan cepat "Perpustakaan ada di utara istana Putri".
Zhang Wei hanya mengangguk kepala dan berlalu begitu saja"Bawa aku kesana"ucapnya setelah berhenti sejenak.
"Mari Putri" ucap dayang Sumbi mempersilahkan Tuan Putri nya jalan terlebih dahulu.
Mereka berdua berjalan bersama menuju ke arah perpustakaan kerajaan dan beberapa dayang di belakang mengekor.
__ADS_1
Di perpustakaan kerajaan ini berdiri satu gedung khusus untuk perpustakaan dan di perpustakaan ini terdapat beberapa pengawal yang berjaga.
"Salam Tuan Putri" ucap mereka setelah Zhang Wei tiba.
Zhang Wei sudah menjelajahi seluruh isi perpustakaan tetapi tidak menemukan apa yang dia cari.
Segera dia memanggil dayang Sumbi"Bibi apakah bibi mengetahui dimana aku mendapatkan sebuah peta? Zhang Wei bertanya sambil tangannya terus mengobrak-abrik isi lemari buku.
"Menjawab Putri yang memiliki peta kerajaan adalah Yang Mulia Raja" ucap dayang Sumbi dengan sopan.
"Baiklah terimakasih Bibi" ucapnya.
"Aish kalau peta itu berada di sana mungkin akan sedikit merepotkan" gumam Zhang Wei.
Zhang Wei terpaksa keluar dari ruang perpustakaan dengan sedikit lemas.
Zhang Wei mengetok ruang kerja Raja setelah mempertimbangkan keputusannya.
Kasim segera membuka pintu untuk Zhang Wei.
"Ayahanda! Apa Ananda ini mengganggu Ayahanda? ucap Zhang Wei begitu masuk lupa memberikan salam terlebih dahulu.
"Salam Ayahanda maafkan ananda ini lupa memberikan salam" ujarnya cepat setelah sadar dari kecerobohan.
"Hmm duduklah. Ada apa kau menemui ayahanda? Raja menatap Zhang Wei yang duduk menyilang kan kedua kakinya di lantai seperti duduk para pangeran.
"Ayahanda bolehkah Ananda ini dapat melihat peta kerajaan kita? ucap Zhang Wei to the point.
Raja sedikit mengernyit kenapa putrinya ini meminta peta kerajaan.
"Itu Ayahanda maafkan ananda ini kalau lancang hanya ingin mengetahui letak kerajaan kita dan berada di benua mana? ujar Zhang Wei terpaksa.
"Baiklah" Raja mengeluarkan sebuah gulungan dari bawa meja kerja dan memberikan kepada Zhang Wei.
Zhang Wei yang melihat peta itu segera membuka dan membentangkan begitu saja di lantai dan mulai otaknya dan alam bawah sadarnya mencopy sedetail mungkin isi peta itu.
"Terimakasih Ayahanda! Zhang Wei tidak membutuhkan waktu untuk melihat isi peta itu dan menyerahkan langsung kepada Raja kembali.
Ini sedikit membuat Raja heran bukannya putrinya ini meminta peta untuk mengetahui sesuatu tetapi kenapa tidak sampai beberapa menit dia membacanya.
Peta kerajaan ini tidak sembarangan orang dapat melihatnya karena ini adalah salah satu harta karun yang di jaga oleh pihak kerajaan.
Peta yang seperti di baca oleh Zhang Wei hanya ada dua di benua ini dan salah satunya ada di kerajaan Bintang dan satunya tidak di ketahui.
Peta ini menjadi salah satu incaran orang-orang berilmu.
Hai hai sobat π Author baru come back nih π₯°
Apa kabar kalian semua?
Sehat sehat sehat?
__ADS_1
Dalam lindungan Tuhan selalu ya ππ₯°
Jangan lupa dukung kakak author ya