PUTRI CANTIK DAN TAMPAN

PUTRI CANTIK DAN TAMPAN
Pelarian


__ADS_3

Di hutan belantara yang di penuhi bahaya terdapat seorang remaja laki-laki dan perempuan tengah di kejar oleh sekelompok orang yang menginginkan kematian kedua anak itu.


"Gege aku sudah lelah" ucap gadis kecil itu karena merasakan tenaganya sudah terkuras habis dia sudah tidak sanggup lagi untuk berlari


"Kamu bertahan ya sedikit lagi kita sampai di perbatasan hutan ini" hibur dari anak laki-laki itu sambil menggandeng tangan kecil adiknya.


Mereka terus berlari sampai mereka terpojok di sebuah tebing dan jurang. Bukannya ke arah perbatasan tapi mereka terus berlari memasuki kedalaman hutan itu


"Bagaimana ini gege? sedikit lagi mereka akan menangkap kita" ucap si gadis kecil dengan gemetar. Dia sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya.


Kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk melangkah langsung saja dia duduk. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana? dia pasrah


Dia menoleh ke samping kanannya terdapat Kakak laki-lakinya yang tidak sedang baik juga.


Kakaknya itu mendapatkan luka di perutnya karena berusaha melindungi dia dari cengkeraman para penjahat itu.


"Gege carilah tempat perlindungan biarkan aku yang menghadang mereka" ucap gadis kecil itu


"Tidak Gege tidak akan pernah meninggalkanmu sebaiknya kau bersembunyi biarkan Gege yang menghadang mereka." ucap laki-laki itu mendorong adiknya pergi menjauh.


"Tidak! Gege yang harus pergi menjauh" ngotot sang adik tidak mau pergi. Dia tetap bersikukuh pada pendiriannya hanya kakaknya yang dia miliki sekarang.


Kalau terjadi apa-apa pada kakaknya dia tidak akan sanggup kehilangan orang yang selalu ada untuknya, yang menjadi ibu dan ayah baginya. Tidak! Dia tidak akan sanggup biarkan dia pergi kalau memang sang pencipta menginginkan kematian mereka.


Suara kuda berlari terdengar semakin mendekat, kedua kakak beradik masih beradu pendapat


"Cepatlah Meimei kau lari dari sini! Gege mohon padamu. Kita tidak mempunyai banyak waktu lagi sedikit lagi mereka akan menemukan keberadaan kita" ucap remaja laki-laki itu menghapus air mata yang mengalir dari kedua bola mata sang adik


"Gege sangat menyayangimu hanya kau yang Gege miliki jadi kau harus tumbuh sehat ya. Kau tidak boleh cengeng air matamu sangat berharga. Kalau kau menitikkan air mata setetes saja Gege akan sedih. Jadi, sekarang kau berlarilah ke arah selatan di sana kau akan menemukan sebuah jalan setapak yang langsung mengarah ke arah kekaisaran tetangga. Kalau Gege berhasil mengalahkan Orang-orang itu gege akan menemuimu di ibukota kekaisaran" ucap remaja laki-laki itu sambil mengelus kepala adiknya lembut

__ADS_1


"Gege harus berjanji untuk hidup dan menemuiku" ucap gadis itu sambil berlalu menjauh dari sang kakak


"Hmm" remaja laki-laki itu mengangguk dan tersenyum untuk terakhir kali.


Terpaksa gadis itu melangkah menjauh untuk menghindari tatapan penuh kasih dari kakaknya. Dia tidak sanggup melihat tatapan mata itu dia harus cepat mencari pertolongan untuk membantu kakaknya. Dia tidak mau kehilangan lagi.


Dengan semangat membara dia memaksakan kakinya untuk berlari, dia terus berlari memecah keheningan hutan sekali-kali dia berhenti untuk mengambil nafas sejenak.


Dia berlari dengan sekuat tenaga sambil melirik ke arah kiri dan kanan mungkin ada orang yang mencari kayu bakar atau sekedar mencari tanaman obat di hutan dia akan meminta tolong nanti.


Dia berlari sudah memasuki daerah perbatasan kekaisaran tetangga tapi belum menemukan seseorang pun yang lewat sampai dia melihat seorang anak kecil yang berjalan sendirian kira-kira agak lebih mudah darinya.


Dia langsung menarik tangan orang itu tanpa mendengar ocehan orang yang di tarik itu.


"Hei apa-apaan kau ini? hei lepas" omel orang itu di tengah pelarian


"Bagaimana saya bisa menolongmu sedangkan kau tidak meminta tolong dengan sopan" ucap anak itu menghentikan larinya


"Nanti saya akan menjelaskan kepada tuan. Sekarang kakakku dalam bahaya saya mohon tuan" ucap gadis itu dengan nada sedih


"Dimana kakakmu berada? ucap anak yang di tarik tadi tanpa mengomel lagi


"Di kedalaman hutan ini bagian utara yang terdapat jurang dan tebing" jelas gadis itu


"Saya tahu tempat itu kau berpeganglah pada tanganku" ucap anak itu setelah memikirkan letak pasti lokasi yang di sebut


Belum sampai gadis itu untuk memprotes tiba-tiba penglihatannya kabur.


Kembali ke pedalaman hutan seorang anak laki-laki yang tengah terluka tidak sanggup lagi untuk berlari, dia berdiri dengan tenang sambil menahan rasa perih di perutnya menunggu kedatangan para penjahat yang semakin lama semakin dekat.

__ADS_1


Dia tidak ada waktu untuk terus berlari lagi dia harus menghadapi mereka, kalau masih sanggup dia harus memberikan mereka sedikit luka sebelum dia benar-benar meninggalkan dunia ini kalau memang waktunya dia mati.


Adiknya sudah lama meninggalkan tempat itu, kalau adiknya masih mampu berlari mungkin sudah sampai di perbatasan kekaisaran tetangga. Sekarang dia tidak mempunyai beban lagi kalau dia terbunuh oleh para penjahat yang mengejar mereka yang terpenting adiknya sudah menjauh dari tempat ini.


Tidak selang beberapa menit para penjahat yang mengejar mereka telah menemukan keberadaannya.


"Kau mau lari kemana lagi Pangeran Xin Nian? ucap salah satu penjahat itu dengan nada mengejek


"Kemana lagi kalau bukan menunggu kalian para penghianat" ucap Xin Nian dengan tatapan datar dan dinginnya sambil menekan kan kata 'penghianat'


"Hhhh apakah Kau sudah menyerah Pangeran Xin Nian? itu lebih bagus maka hukuman mu akan lebih ringan" tawa mengejek para pembunuh


"Dalam mimpi" Teriak Xin Nian sambil menyerang mereka terlebih dahulu.


Terjadilah pertarungan 1 lawan sepuluh, pertarungan yang tidak seimbang. Para pembunuh itu hanya bermain-main dengannya karena Pangeran Xin Nian sudah kehabisan tenaga apalagi dengan luka yang di dapat sebelumnya terus mengeluarkan darah membuat dia bertarung dengan tidak seimbang.


"Menyerahlah Pangeran Xin Nian! percuma kau melawan kau sudah kehabisan tenaga" ejek para pembunuh itu sambil terus tertawa melihat pangeran yang dulunya kuat sekarang tidak ada apa-apanya.


Pangeran Xin Nian terus mengayunkan pedangnya ke sini kemari, penglihatannya sudah mulai buram, sudah banyak luka yang terdapat di tubuhnya.


Bruk


Pangeran Xin Nian sudah tidak bisa mempertahankan kesadarannya, dia terjatuh dan pingsan.


Pembunuh yang melihat dia sudah pingsan segera mengangkat tubuhnya namun sebelum itu sebuah suara menghentikan mereka.


"Yo sungguh tidak tahu malu sepuluh orang melawan satu orang yang sudah tidak berdaya lagi. Dasar manusia lemah hanya tahu main keroyokan" ucap suara itu sambil berjalan santai menuju ke arah para pembunuh itu.


"Heh anak kecil kau tidak tahu apa-apa lebih baik pulanglah kerumah orang tua mu sebelum kami membunuhmu. Oh Tuan Putri Xin Yu akhirnya kau datang dengan sendirinya mengantar nyawamu. " bentak orang itu melihat kedua remaja yang berdiri di depan mereka tanpa takut salah satunya orang yang mereka incar.

__ADS_1


__ADS_2