
Di kekaisaran Xiao lebih tepatnya di kerajaan Xin kerajaan yang baru saja terjadi perang pemberontakan.
Sekarang kerajaan Xin di pimpin oleh raja baru yaitu jenderal kiri selaku pemimpin pemberontak.
Semua pajak telah naik berkali lipat membuat para warga menjadi resah, para rakyat yang akan melawan atau lambat membayar pajak akan di eksekusi.
Sekarang sistem yang terdapat di kerajaan itu sudah benar benar hancur sudah melenceng jauh dari sistem yang sebenarnya.
Terdapat sebuah keluarga yang sangat sederhana.
Sekarang mereka tengah akan di eksekusi oleh pihak kerajaan karena mereka tidak mau membayar pajak yang di bebankan kepada mereka.
Bukannya tidak mau membayar tapi mereka benar benar belum mempunyai koin sama sekali.
Seorang pemuda yang menjadi anak dari sepasang orang tua itu yang akan sebentar lagi di eksekusi memandang benci pihak kerajaan kalau dia di beri kekuatan dia akan menghancurkan orang orang itu.
Dia dapat melihat orang tuanya yang sudah di eksekusi. Dia menatap kosong ke arah mereka.
Dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak mampu melindungi mereka.
"Ayah, ibu maafkan aku karena tidak mampu melindungi kalian" ucapnya melihat mayat orang tuanya.
"Ahrhghhhhhh Saya akan membunuh kalian semua kalau langit berkehendak memberikan kekuatannya" teriak pemuda itu dengan mata merah menyala menatap orang tuanya yang sudah tidak bernafas.
Dia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala beban yang ada di dalam hatinya.
"Aku akan membunuh kalian" ucapnya pelan pita suara nya sudah hilang karena menangis dan berteriak.
Kedua mayat orang tuanya dia kubur di samping rumahnya agar ketika dia sedih dia bisa melihat dan mengunjungi mereka.
Sekarang pemuda itu duduk di kediamannya dengan menatap kosong di halaman. Dia tidak mempunyai gairah hidup lagi semua orang yang dia sayangi telah di ambil darinya.
"Aku akan membunuh kalian" kata kata itu yang selalu keluar dari bibir tipisnya.
Kebenciannya terhadap anggota keluarga kerajaan sudah tertanam dalam jiwanya.
Dia terus meratapi nasibnya sampai sebuah tangan menepuk pelan pundaknya.
"Jangan terus tinggal dalam kesedihan. Kau harus bangkit kalau kau mau membalas dendam untuk orang tua mu" ucap orang itu
__ADS_1
Pemuda itu yang bernama Ming Tian menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok pemuda yang kira-kira berada beberapa tahun darinya.
"Yah Saya mau kuat tapi saya tidak tahu harus bagaimana" ucap pemuda itu dengan nada lemah.
Dia di lema, disamping dia mempunyai tekad yang kuat tapi di sisi lain untuk bisa masuk ke sebuah akademi harus mempunyai uang atau kemampuan sedangkan dia tidak mempunyai apapun.
"Semuanya tidak akan masalah jika kau mempunyai tekad yang kuat. Asalkan kau bersedia maka kekuatan yang kau inginkan akan kau gapai" ucap pemuda itu lagi
"Kalau memang saya akan mendapatkan kekuatan saya bersedia mengikutimu" ucap Ming Tian
"Baiklah segera kau berkemas. Kita akan melakukan perjalanan. Saya akan menunggu di sini" ucap pemuda itu langsung duduk di tempat duduk Ming Tian tadi.
Ming Tian segera masuk ke dalam kamarnya dan mengambil beberapa barang yang menjadi perbekalan nya nanti.
Tidak banyak barang yang dia bawa hanya beberapa lembar pakaian yang masih layak di pakai. Setelah selesai dengan semua itu Ming Tian segera menghampiri Pemuda yang masih diam duduk menunggunya.
Mereka langsung melesat menuju sebuah toko obat yang lumayan terkenal di kekaisaran Xiao karena sebelumnya pemuda itu datang mencari sesuatu di kekaisaran Xiao.
Yang bersangkutan dengan kultivasi.
Zhang Wei sekarang berada kembali di tempat pelatihan yang kemarin melanjutkan pelajaran yang di pelajari kemarin.
Di kediaman para pengawal baru Zhang Wei.
Sekarang mereka melakukan latihan seperti yang sudah mereka lakukan di hari sebelumnya dan sekarang mereka agak leluasa bergerak dalam berlatih tidak selalu dan sesulit di pertama kali mereka latihan.
"Darimana Tuan Muda mendapat ide latihan seperti ini? ucap salah satu dari mereka
"Mana ku tahu" ucap yang lainnya
"Saya heran bagaimana Tuan Muda bisa melakukan latihan seperti ini. Seperti Tuan Muda sudah terbiasa dengan latihan ini" ucap yang lainnya mengingat bagaimana susah nya mereka ketika pertama kali berlatih.
Mereka seperti ada di neraka menghadapi kematian kapan saja kalau meleset sedikit.
Kali ini latihan mereka tidak di dampingi oleh Zhang Wei. Dia sudah meminta mereka untuk latihan sendiri karena dia mempunyai kesibukan sendiri.
Dia nanti akan melatih mereka kembali ketika mereka sudah benar-benar menguasai teknik latihan itu. Tapi dia tetap memantau mereka dari jauh membuat mereka tidak bisa untuk tidak latihan.
Di kediaman Zhang Wei anak anak yang berjumlah tujuh orang itu, enam orang anak laki-laki dan seorang gadis kecil tengah belajar bersama.
__ADS_1
Mereka di minta untuk menyalin isi sebuah buku. Latihan ini adalah melatih mereka untuk lancar menulis dan menghapal.
Kali ini belum ada yang mengajari mereka. Karena Lou Li yang melatih mereka sebelumnya ada mendapatkan tugas baru dari Tuannya.
Jadilah sekarang mereka belajar bersama.
Lou Li baru mengajari mereka kaligrafi karena baru itu yang di ketahui oleh Lou Li karena ini pelajaran umum.
Zhang Wei belum mengajari dia huruf abjad jadi dia hanya mengajari apa yang di minta oleh Zhang Wei.
Zhang Wei nanti akan mengajari mereka semua huruf abjad termasuk Lou Li sendiri.
"Apakah sudah ada berita dari prajurit yang mencari pangeran Xin Nian dan Putri Xin Yu? ucap seorang pria yang berada di kursi kebesaran nya
"Menjawab Yang Mulia! Keberadaan para prajurit itu masih di selidiki oleh pengawal hamba karena sudah hampir beberapa hari belum ada kabar dari mereka" jawab seorang pengawal yang bertanggung jawab atas pencarian itu.
"Terus cari keberadaan mereka! jangan biarkan mereka hidup" ucap pria itu lagi dengan nada dingin
"Laksanakan Yang Mulia" ucap Pengawal itu lagi.
Pengawal itu segera keluar dari ruangan itu untuk melakukan kehendak Tuannya.
"Saya tidak akan membiarkan mereka hidup yang menjadi keturunan mu Xin Tian" ucap lelaki dengan tatapan bengis.
Rupanya dia sangat membenci Raja Xin kakek dari Xin Nian dan Xin Yu. Rupanya ini dendam lama.
Pria itu berlalu dari kursi kebesarannya dengan langkah tegap yang walaupun umurnya sudah kepala empat.
Zhang Wei dan Zhang Ziyi masih menghadapi pelajaran yang menurut Zhang Wei ini tidak masuk dalam ujian masuk akademi yang walaupun dia belum mengerti semua tentang cara masuk di dunia akademi di dunia ini.
Hai hai hai sobat π
Author come back nih π
Sudah pada kangen Author nih?π
Apa kabar kalian?
Sehat sehat sehat?
__ADS_1
Jangan lupa klik like dan Vote β€οΈ kakak readers