
Sekarang alun alun kerajaan penuh dengan hiasan bunga sudah banyak warga yang berdatangan untuk menyaksikan pengangkatan seorang Putri kerajaan.
Mereka sangat senang mendengar berita ini dan penasaran bagaimana rupa seorang Putri kerajaan.
Sekarang bukan hanya kerajaan yang sibuk di dalam kediaman seorang Zhang Wei juga ikutan ribut bagaimana tidak para dayang mau merias Tuan Putri mereka sedangkan yang bersangkutan tidak bersedia.
"Putriku apakah kau sudah bersiap? ucap Permaisuri begitu memasuki kediaman Zhang Wei.
"Ada apa ini ribut-ribut? ucap Permaisuri begitu sampai dan mendapati keributan terjadi.
"Ibunda bisa mereka jangan memperlakukan aku seperti anak kecil? aku bisa bersiap sendiri" keluh Zhang Wei malas berdebat.
"Tetapi biarkan mereka membantu mu Putriku" ucap Permaisuri.
"Ibunda biarkan aku mandi sendiri setelah ini boleh mereka melakukan apapun" ucap Zhang Wei pada akhirnya.
"Baiklah" ucap Permaisuri
"Kalian hanya boleh membantu Putri Sekar Arum merias diri" ucap Permaisuri kepada para dayang.
Setelah tidak ada perdebatan barulah Zhang Wei mandi tentu tidak buru-buru.
Setelah dia mengenakan pakaian kebesaran seorang Putri barulah para dayang merias Zhang Wei.
Ada yang merias wajah dan yang lainnya mengepang rambut panjang Zhang Wei.
"Yang Mulia Putri sungguh cantik" ucap para dayang melihat karya Tuhan yang sempurna di depan mereka.
Zhang Wei keluar dari kediaman menuju tempat dimana acara pengukuhan itu berlangsung.
Banyak pasang mata yang tertuju kearah gadis kecil yang berjalan di temani beberapa dayang di belakangnya.
"Apakah dia Tuan Putri kerajaan?
"Mungkin ia"
"Sungguh cantik"
"Ia dia lebih cantik dari Putri Mayang Sari"
"Hustt pelan kan suaramu nanti di dengar oleh putri Mayang Sari kau akan di hukum"
Berbagai macam tanggapan terdengar dari kerumunan para warga.
__ADS_1
Zhang Wei berjalan mendekat dengan tenang tanpa ekspresi apapun di wajahnya.
Sekarang dia dalam mode dirinya yang sebenarnya yaitu dingin bak patung es berjalan.
Dengan langkah tegas berjalan mendekat ke arah tiga orang yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Zhang Wei.
Bahkan ketiga orang ini di buat salah tingkah dengan pesona yang di miliki oleh Zhang Wei.
Kulit putih bersih dan mulus sangat bertentangan dengan kulit orang-orang yang berada di perjamuan ini.
Dia terlihat bersinar tersendiri.
Di tempat lain seorang gadis cantik tapi memiliki tabiat jelek tengah mengamuk di kediaman nya.
"Ah Ayah saya tidak menerima berita ini! Kenapa saya yang berusaha dari dulu tidak di angkat menjadi Putri kerajaan? sedangkan gadis jal@ng yang tidak di ketahui asal usulnya yang menjadi Putri kerajaan? ucapnya mengamuk membanting seluruh barang antik yang berada di kamarnya.
Tidak ada satupun pelayan dan pengawal yang mendekat karena sudah terbiasa dengan tabiat nona yang mereka layani.
"Putri ku tenanglah kendalikan amarahmu. Ayah tidak akan membiarkan gadis itu menggantikan posisimu" ucap ayah gadis itu.
"Ayah aku tidak mau gadis jal@ng itu masih berada di istana besok." ucap gadis itu lagi.
"Tenanglah Ayah akan mencarikan ide untuk mengeluarkan gadis itu dari istana" ucap Ayah anak itu lagi.
Setelah menenangkan diri barulah Ayah anak itu keluar dan menuju istana.
Seandainya Zhang Wei berdiri di depannya mungkin dia sudah terkam.
"Para rakyat ku hari ini kerajaan Bintang mengangkat seorang Putri kerajaan yang tidak lain adalah Putriku yang baru kembali dari masa pembelajaran di negara tetangga". Ucap Raja.
"Putri ku pergi selama dua belas tahun ini. Maka dari hari ini kerajaan Bintang mengangkat Putri Sekar Arum sebagai Putri kerajaan. Apakah Putri Sekar Arum bersedia menerima tugas sebagai Putri kerajaan? ucap Raja kepada Zhang Wei yang masih duduk.
Zhang Wei bangkit berdiri dan menghadap Raja dan rakyat.
"Saya Sekar Arum sebagai Putri kerajaan siap menerima tugas" ucap Zhang Wei tegas aura yang terpancar dari tubuhnya langsung meledak aura bangsawan tinggi.
Semua rakyat bersujud menunduk kepala penuh hormat. tidak ada satupun yang berani mengangkat kepalanya untuk sekedar melihat wajah Zhang Wei.
Seolah mendapatkan perintah halus untuk tetap berlutut.
Melihat keadaan yang kurang stabil Zhang Wei menarik kembali auranya. Dia tidak tahu juga kalau dia bisa seperti ini.
Setelah pembacaan dekrit itu Zhang Wei lalu di berkati dan pemasangan mahkota putri.
__ADS_1
Mahkota itu terbuat dari berlian dan batu mulia. terlihat sangat ringan dan pas di kepala Zhang Wei.
"Aduh kenapa banyak sekali barang di kepala kecilku" gerutu Zhang Wei di tempelkan banyak sekali barang.
Yang tidak lain adalah hiasan rambut dan mahkota kecil.
Acara itu berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan mungkin para musuh belum mau mengacau karena pesta pengangkatan ini juga mendadak.
Bahkan para pejabat kerajaan tidak ada yang memberikan komentar mereka hanya terkejut mendapat kabar mengejutkan itu.
Tentu sebuah kerajaan besar pasti ada intrik politik yang mana akan berdiri dalam dua kubu.
Yang di pihak Raja pasti ini berita bagus karena sekarang mereka memiliki Putri kerajaan dan mereka menaruh harapan semoga putri kerajaan ini bisa membawa kejayaan tersendiri.
Berbanding terbalik dengan yang berada di kubu sebelah mereka merasa kalau pengangkatan Putri kerajaan ini menghambat langkah mereka.
Tentu Zhang Wei dapat merasakan ketidakpuasan beberapa pihak tertentu dan ini merupakan hobi tertentu Zhang Wei.
Kita lihat bagaimana rencana orang-orang ini? apakah mereka mampu menghadapi jiwa yang banyak akal ini?
Zhang Wei di berikan kesempatan untuk menyampaikan suatu hal kepada rakyatnya.
"Terimakasih kepada Ayahanda dan Ibunda dan kakak telah membawa ku kembali dan terimakasih kepada seluruh rakyat kerajaan Bintang telah menyambut hari pengangkatan ini. Saya tidak bisa menjanjikan suatu hal tetapi dengan adanya kerjasama dari kalian saya dengan sangat percaya diri akan mengatakan mampu" ucap Zhang Wei dengan lantang dan tegas.
Rakyat semakin menundukkan kepala mereka memberi hormat kepada Zhang Wei tak terhingga.
Akhirnya selesai dengan pengangkatan Putri kerajaan semua warga baik tamu undangan segera menikmati hidangan yang disajikan.
"Putriku akhirnya kamu resmi menjadi Putri kerajaan Bintang" ucap permaisuri tak henti-hentinya mengelus tangan Zhang Wei dengan lembut.
Zhang Wei dengan senyum lembut membalas elusan tangan Permaisuri.
"Ibunda aku yang berterimakasih telah membawaku kesini. Aku akan melakukan tugas dengan baik" ucap Zhang Wei menghapus air mata dari wanita paruh baya di depannya.
"Apakah Ibunda mau memakan sesuatu biar Ananda ini mengambilkan" ucap Zhang Wei.
Permaisuri bangkit berdiri dan berjalan menuju tempat makanan di sajikan dan memilih makanan yang menurutnya sehat dan tidak berminyak.
"Ini Ibunda coba makan kue ini" ucap Zhang Wei setelah mengambil beberapa makanan yang cocok dengan kesehatan Zhang Wei.
Hai hai hai sobat π
Author come back nih π₯°
__ADS_1
Sehat semua?
hope you guys doing well ya