
Zhang Wei terus mengambil gambar mereka, dia layaknya seperti seorang fotografer dan ketujuh anak itu seperti model.
Ada yang bergaya ala pendekar, ada yang bergaya dengan gaya cool kedua tangan bersedekap di dada dan memandang kamera dengan tatapan mata maut, ada yang bergaya dengan senyum ceria di wajah mereka dan ada juga yang bergaya dengan tatapan menggoda. Ah banyak sekali macam gaya mereka ekspresikan seperti model yang sudah sangat profesional.
"Wah anak kecil seperti mereka sudah pandai berpose kalau mereka di dunia modern sudah pasti mereka akan menjadi aktris dan aktor cilik" ucap Zhang Wei di kala dia melihat kembali hasil dari potret nya
"Ah bagaimana kalau saya mendirikan sebuah agensi? rupanya akan bagus sedangkan di dunia ini belum ada yang namanya dunia film? ah benar sepertinya bagus dengan begini warga yang tidak mempunyai pekerjaan bisa bekerja di sini dan juga membantu perekonomian rakyat" ucap Zhang Wei di kala ide brilian tercantum di dalam otak cantik nya.
"Mereka akan menjadi model pertama ku nanti" ucapnya senang.
Zhang Wei meminta Lou Li untuk mengumpulkan semua pekerja termasuk pemilik toko sebelumnya. Yang menjalankan toko itu tetap pemilik sebelumnya. Zhang Wei hanya akan memantau perkembangan toko itu dari jauh.
Semua pelayan dan pengawal sudah berkumpul di hadapan Zhang Wei yang menjadi Tuan Muda mereka yang baru.
"Saya mengumpulkan kalian semua di sini hanya untuk menyampaikan bahwa kalian bekerja seperti biasa dan yang memimpin toko ini tetap Paman Wen" ucap Zhang Wei kepada mereka semua.
"Untuk Paman Wen tetaplah Paman yang akan menjalankan toko ini. Kalian boleh kembali bekerja" ucap Zhang Wei
"Baik Tuan Muda" ucap mereka serempak dan kembali ke tempat masing-masing.
"Paman saya percaya kan toko ini ke pada Paman" ucap Zhang Wei sebelum pergi
"Tuan Muda jangan kuatir. Saya akan menjalankan tugas dari Tuan Muda" ucap Paman Wen
"Ayo kita cari makan" ucapnya pada ketujuh anak itu yang terdiri dari 6 laki-laki dan seorang gadis
Gadis kecil yang merupakan umur nya sedikit lebih tua dari ketiga anak laki-laki yang lebih kecil dari nya. Dia berada di apit 3 orang laki-laki yang lebih dewasa dan 3 orang anak laki-laki yang lebih kecil dari nya. Makanya dia sangat di jaga oleh mereka.
Mereka bukan berasal dari satu rahim tapi karena keadaan lah yang membuat mereka menjadi sebuah keluarga tanpa ayah dan ibu. Mereka adalah anak yatim-piatu yang berjuang sendiri akan kehidupan.
Mereka telah berdiri di sebuah rumah makan mewah yang sebelumnya tempat Zhang Wei di tabrak oleh mereka.
"Ayo kita masuk" ucap Zhang Wei menarik tangan anak-anak itu.
__ADS_1
Namun sebelum masuk para penjaga menghadang jalan mereka.
"Hm? Zhang Wei mengangkat alis mata sebelah
"Kalian pergi dari sini! ini bukan tempat bermain". Ucap salah satu penjaga yang menghalangi mereka.
"Siapa bilang kami mau bermain? Kami mau makan" ucap Zhang Wei masih sabar
"Bagaimana bisa kalian anak kecil bisa memiliki koin banyak? Makanan di sini mahal" ucap penjaga itu lagi
"Aish makan saja kenapa harus ribet begini sih" sungut Zhang Wei dengan kesal
"Paman kalau kami tidak mempunyai koin tidak mungkin kami datang di sini untuk makan" ucap Zhang Wei setengah malas tumben dia belum meledak
"Kalau di bilang pergi ya pergi jangan buat kerusuhan di sini" ucap Pengawal itu ngotot
" Paman jangan mencari membuatku menyumpal mulut mu itu dengan sepatu" ucap Zhang Wei sudah mau meledak.
Perut Zhang Wei sudah berbunyi minta di isi sejak tadi dan penjaga bodoh di depannya ini melarang dia masuk hah benar benar menguji tingkat kesabarannya.
Setelah menyumpal mulut penjaga itu dengan sepatu yang di pakai Zhang Wei, dia mengajak anak anak gembel itu untuk masuk.
Sampai di dalam Zhang Wei langsung menuju meja kasir untuk memesan makanan terbaik yang ada di ruang makan dan memberikan ratusan koin emas di atas meja.
Para pelayan yang mau mencegat Zhang Wei segera mengurungkan niatnya karena Zhang Wei langsung memesan menu terbaik di sertai ratusan koin emas di atas meja. Anak itu membayar tanpa ba bi bu be bo.
Segera pelayan mengantar mereka ke lantai dua yang di minta oleh Zhang Wei.
"Mari ikut saya Tuan Muda" ucap pelayan itu ramah.
Zhang Wei dan yang lainnya hanya mengikuti dari belakang menuju lantai dua.
Di lantai dua terdapat banyak bangku dan meja makan yang kosong. Di sini hanya beberapa orang yang makan. Mereka memilih meja makan yang dekat dengan jendela.
__ADS_1
Karena mereka banyak para pelayan segera menyusun meja sesuai jumlah mereka membentuk meja makan melingkar.
Zhang Wei dan anak anak gembel itu duduk dengan manis sambil menunggu makanan mereka.
"Terimakasih Tuan Muda telah membantu bahkan memberikan kami pakaian dan makanan" ucap seorang anak laki-laki yang lebih besar mewakili anak-anak yang menjadi adiknya.
"Tidak apa-apa kalian senang saya juga senang" ucap Zhang Wei melambaikan tangannya ke kiri dan kanan.
Tidak selang beberapa menit makanan yang di tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Aroma makanan yang sangat lezat memenuhi ruangan itu membuat perut mereka yang sudah keroncongan sedari tadi meminta untuk segera di isi.
Setiap pelayan itu mengambil makanan dari nampan dan menatanya di atas meja begitu juga dengan bola bola mata anak anak polos itu mengikuti irama tangan pelayan itu. Mereka sudah tidak tahan untuk menyantap makanan itu.
Begitu pelayan selesai menyajikan langsung saja mereka mengambil mangkuk makan masing-masing.
"Silahkan di nikmati Tuan Muda" ucap para pelayan yang mengantarkan mereka makan
"Terimakasih bibi" ucap Zhang Wei dan anak-anak yang lain.
Setelah para pelayan itu keluar mereka segera menyerbu makanan itu. Awalnya anak anak itu tidak ada yang berani untuk menyendok terlebih dahulu namun karena Zhang Wei meminta mereka untuk menghabiskan makanan itu membuat mereka tidak sungkan sungkan untuk menyantap habis makanan itu.
Makanan yang ada di atas meja habis ludes tanpa sisa kecuali tempatnya, mereka memakan makanan itu tidak membutuhkan waktu sampai seperempat dupa mereka makan dengan sangat lahap karena sedari kemaren siang anak anak gembel itu belum makan apapun jadi wajar kalau mereka sekarang sangat rakus makan.
Zhang Wei yang melihat anak anak itu makan dengan lahapnya membuat dia merasakan kegembiraan tersendiri di dalam lubuk hatinya. Dia sangat menyayangkan nasib yang menimpa anak anak kecil ini mencari makan sendiri mengandalkan kedua kaki dan tangan mereka.
Hai hai sobat π
How are you guys?
Are you guys doing well?
I am coming back π
Jangan lupa like dan Vote kakak β€οΈ
__ADS_1
Love you more than Ten thousand words ππ