
Setelah mendapatkan gambaran umum benua tempat dia berada Zhang Wei segera menyelinap masuk ke luar istana.
Dia tidak menggunakan ilmu teleportasi dia keluar sekarang dengan cara wajar yaitu keluar istana dengan menyamar sebagai pelayan.
"Bibi aku akan keluar sebentar tolong jangan biarkan siapapun masuk ke dalam kamar sebelum aku pulang" ucap Zhang Wei begitu saja tumben dia masih melapor untuk keluar.
"Tuan Putri bahaya di luar" ujar dayang Sumbi.
"Bibi jangan kuatir aku bisa menjaga diriku sendiri yang penting bibi memastikan orang istana tidak mengetahui aku tidak berada di kamar.
Setelah berhasil pemeriksaan identitas dari pihak istana Zhang Wei dengan santainya berjalan bergabung dengan para warga yang berlalu lalang.
Di sebuah gang Zhang Wei melihat dua orang yang gelagat nya aneh segera dia menghampiri dalam diam.
"huss paman? cari siapa? ucapnya pelan sambil ikut nimbrung mengintip dengan mereka.
"Diam" jawab salah satunya belum menyadari siapa yang bertanya.
"Biarkan aku juga melihatnya? ucap Zhang Wei merampas tempat dan mengintip kedua orang itu juga membiarkan Zhang Wei mengintip.
Begitulah mereka bertiga terus bertukar posisi untuk mengintip tanpa menyadari mereka berdua kalau salah satu yang ikut mengintip adalah target mereka sebenarnya.
"Eits tunggu! ucap salah satunya berhenti memikirkan kejanggalan.
Setelah dia menoleh dan melihat langsung ke arah Zhang Wei dari atas kebawah dan mengeluarkan sebuah potret dari gulungan bajunya.
Dan membandingkan lukisan dan wajah anak kecil yang berdiri di depannya. Berulang kali dia membolak-balik lukisan itu dan wajah Zhang Wei.
"Ah akhirnya kami menemukan anda Tuan Muda" ucap salah satu dengan tiba-tiba.
"Tuan Muda? beo Zhang Wei masih mode bingung.
"Ia benar Anda adalah Tuan Muda dari sekte Naga api. Akhirnya kami menemukan mu Tuan Muda" ucap mereka dengan semangat.
"Apa kalian tidak salah mengenali? ucap Zhang Wei.
"Kami yakin tuan muda"
"Tetapi aku bukan tuan muda kalian" ucap Zhang Wei.
__ADS_1
"Tidak usah mengelak lagi tuan muda. Di sini berbahaya ketua sangat mencemaskan dirimu apalagi tuan muda belum menyempurnakan ilmu beladiri." ucap mereka dengan begitu yakin kalau ini adalah Tuan Muda yang mereka cari.
"Tunggu sepertinya kalian salah menangkap orang" ucap Zhang Wei masih memberi tahu dengan baik.
"Ayo tuan muda kita harus segera pergi sebelum ada yang menemukan keberadaan tuan muda" ucap salah satunya kuatir musuh dari sekte mereka mengetahui anak kepala sekte berada di luar akan menjadi incaran.
Tepat sebelum Zhang Wei sudah ada yang menghadang mereka.
"Kalian mau lari kemana? cepat tangkap mereka" ucap seorang yang tiba-tiba muncul menyuruh anak buahnya untuk menangkap Zhang Wei.
"Tuan Muda sebaiknya Anda pergi bersama dengan Mahesa biar saya yang menghadang mereka" ucap seorang yang bernama Banyu itu.
"Tidak. Kenapa aku harus pergi? aku bukan tuan muda kalian" ucap Zhang Wei.
"Ayo tuan muda kita tidak memiliki waktu lagi" ucap Mahesa langsung menarik tangan Zhang Wei untuk pergi.
"Kalian pikir kalian bisa pergi? ucap pemimpin itu lagi.
"Serahkan bocah itu kalau kalian tidak ingin kehilangan kepala kalian! ucap pemimpin itu lagi.
Zhang Wei mengernyit kenapa orang-orang ini hanya mengincar dirinya sepertinya ada yang istimewa dari anak itu. Dia harus mencari tahu oke kali ini ambil peran dulu.
"Paman! ucap Zhang Wei tidak mengindahkan peringatan atau pun perkataan dari pemimpin dan dua orang disampingnya.
"Siapa yang kau sebut paman bocah? teriak marah pemimpin itu di panggil paman.
"Apa hobi paman? Zhang Wei tetap lanjut bertanya tidak mengindahkan pertanyaan sebelah.
"Kalau aku paman hobi membunuh orang dengan mengukir sebuah sejarah yang tak terlupakan" ucap Zhang Wei senyum psikopat menghiasi bibir kecil yang tidak terpisah itu.
"Bagaimana dengan paman? tanya Zhang Wei sambil memainkan kuku indahnya.
"Banyak bac0t. Ayo tangkap bocah itu jangan biarkan dia lolos" ucap pemimpin itu tidak terlalu menanggapi lelucon Zhang Wei.
"Astaga benar-benar tidak sabaran" Zhang Wei menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan orang-orang di depannya.
Padahal dia tadi memberi clue untuk tidak menyerangnya kalau tidak ingin bertemu raja neraka sepertinya.
Menyebut raja neraka membuat Zhang Wei ingat seseorang yang cukup familiar.
__ADS_1
"Astaga aku mengingat kalau aku memiliki seorang Gege lagi" ucap Zhang Wei mengingat sekilas wajah datar bak tembok kakaknya kaisar iblis.
"Gege apakah masih ada penampungan jiwa liar di kerajaan mu? ucap Zhang Wei mencoba menyampaikan pesan yang walaupun dia tidak yakin apakah kakaknya mengetahui atau mendengar.
"Kebetulan ini biar jadi hadiah penjara milikmu sebagai kau orang pertama yang aku ingat setelah kehilangan ingatan" lanjut Zhang Wei lagi berbicara sendiri tidak menghiraukan orang yang sudah bertempur sedari tadi.
"Astaga benar-benar kau cari hidup ya? berdiri di situ jangan maju selangkah pun" ucap Zhang Wei ketika seseorang tiba-tiba menyerangnya.
Dengan bodohnya orang itu juga mengikuti arahan Zhang Wei untuk tetap pada tempatnya.
"Ya bagus berdiri di situ masih mikir aku" ucap Zhang Wei mengingat kembali apa yang dia lupakan tadi.
"Bro kemari biar kita mengobrol dulu" ucap Zhang Wei keluar jiwa lakinya sambil menarik orang itu untuk ikut duduk dengannya sambil menonton orang yang lagi bertarung itu.
"Nah sekarang lihat mereka. Menyaksikan itu lebih bagus daripada turut mengambil bagian" ucap Zhang Wei dengan bijak layaknya seorang teman dan pemimpin.
Aura pemimpin yang dia miliki terlihat luar biasa dan pembunuh itu juga merasakan seperti menghadapi orang sebayanya bukan anak kecil.
"Ya apa yang kau sebut tadi benar menyaksikan seperti ini ternyata memiliki keistimewaan tersendiri" ucapnya duduk mengobrol dengan santai layaknya teman.
Keberadaan mereka yang seperti ini membuat orang yang melihat sakit kepala musuh dan tawanan duduk mengobrol ini di sebut apa coba?
Di tempat lain di benua yang sangat jauh di sebuah taman seseorang yang duduk menutup matanya di bawah pohon tempat peristirahatan orang terdekatnya tiba-tiba merasakan getaran familiar.
Setelah mendapatkan sinyal itu tidak lama di susul dengan sebuah suara yang nyaman di dengar.
Suara yang sudah lama menghilang kembali terdengar membuat dia tersenyum itu tidak salah lagi kalau suara itu. Suara yang hampir meruntuhkan benua karena kehilangannya bagai di telan bumi.
Suara yang hampir membuat dia menghancurkan isi planet karena kehilangannya yang tiba-tiba tanpa jejak sama sekali.
Dia tidak menyangka akan mendengar suara itu lagi berarti keberadaan masih bisa dilacak.
Orang itu kembali memejamkan matanya untuk menerima pesan yang masih belum tersampaikan.
Hai hai hai sobat π Author baru come back nih π₯°
Apa kabar kalian semua?
Baru pulang kerja Author btw
__ADS_1