PUTRI CANTIK DAN TAMPAN

PUTRI CANTIK DAN TAMPAN
Bermain Musik


__ADS_3

Para pengawal yang menjadi pengikut Zhang Wei tengah mencari kediaman dan mereka mendapatkan sebuah kediaman yang berada di pinggiran kota tapi tidak terlalu jauh dan tidak terlalu sepi.


Para prajurit yang lain juga telah kembali dari tugas yang menjadi bagian mereka. Di sinilah mereka berada dan berkumpul membicarakan hal yang barusan terjadi kepada mereka.


"Apakah kita benar-benar menjadi pengikut Tuan Muda Zhang? ucap salah satu Pengawal yang belum habis pikir dengan kejadian yang terjadi pada mereka.


"Yah saya rasa tidak buruk juga menjadi pengikutnya. Saya merasakan Tuan Muda Zhang bukan sembarangan orang kalaupun kita melayani dia itu sudah menjadi takdir kita" ucap salah satu prajurit yang memang dia menerima apa saja yang terjadi.


"Hmm kalau pun kita kembali ke kerajaan Xin belum tentu kita berada di posisi aman begitu pun juga di sini kita akan mengalami hal yang sama bahkan mungkin lebih buruk dengan adanya benda aneh di belakang tengkuk kita yang bisa mencabut nyawa kita kapan saja. Lagian benda ini tidak akan membahayakan nyawa kalau kita tidak ada niat untuk berkhianat" ucap salah satu penjaga yang memikirkan bahaya kedua tempat dan yang lebih membuat dia sedikit takut adalah dengan keberadaan benda aneh di belakang tengkuk mereka.


"Yah dimana pun kita berada yang pasti bahaya akan selalu ada" ucap yang lain menimpali pendapat teman-teman nya yang lain.


"Sepertinya Tuan Muda yang akan kita layani tidak seperti Tuan Muda kebanyakan yang akan menindas para bawahan nya yang walaupun dia dingin sih" ucap salah satu masih merasa dingin di belakang di kala mengingat kejadian mereka di hukum dan dengan tatapan mata intimidasi yang terlihat tenang tapi penuh bahaya. Walaupun Tuan Muda yang baru mereka ketemu terlihat masih sangat muda tapi mereka tidak bisa pungkiri rasa takut itu mereka rasakan ketika berada di dekatnya.


Percakapan mereka terus berlanjut dari percakapan bermanfaat ke hal yang konyol, mereka terus berbincang melupakan kepenatan mereka sesaat.


Kembali ke bintang utama,


saat ini Zhang Wei kedatangan tamu tak diundang yaitu tamu yang buat dia sakit kepala menghadapi tingkah laku para tamu itu siapa lagi kalau bukan kakak-kakaknya dan juga ibu serta ayahnya.


"Bagaimana bisa kau tidak memberitahu orang tuamu ini ketika kau kedatangan tamu? ucap Kaisar Zhang dengan senyum manis membuat Zhang Wei merasakan sesuatu yang tidak benar dengan senyum itu.


"Oh ayolah Ayahanda Putri Mu ini tidak bermaksud untuk tidak memberi tahu tapi__" ucap Zhang Wei terpotong


"Tapi apa hm? ucap Kaisar Zhang masih setia dengan senyum manisnya


"Iii apaan lagi dengan orang tua satu ini? senyuman manis itu bikin orang merinding saja! oh ayolah jangan tersenyum seperti itu bukannya tambah tampan tapi tambah aneh" batin Zhang Wei merinding sendiri melihat senyum orang yang menjadi ayahnya itu tidak biasa.


"Yah tapi belum sempat ia hehe belum sempat" ucap Zhang Wei bingung sendiri harus jawab apa.

__ADS_1


Memang dia tidak ada niat untuk memberitahu sama mereka karena ini bukan masalah besar juga.


Siapa yang menyangka kalau mereka akan menanyakan hal ini kepadanya.


"Hm belum sempat atau kau tidak berencana memberitahu Ayahanda mu ini? ucap Kaisar Zhang lagi


"Oh ayolah Ayahanda! Putri mu ini benar tidak bermaksud" ucap Zhang Wei lagi


"Ah mumpung kita berkumpul semua di sini bagaimana kalau kita mengadakan sesuatu yang menyenangkan? ucap Zhang Wei mengelak dari tuduhan berikutnya lagi bisa bisa dia terus di interogasi.


"Hah Putri Zhang Wei jangan mengelak dari pertanyaan Ayahanda" ucap Kaisar Zhang sedikit gemas dengan kelakuan Putrinya ini yang gampang membolak-balik keadaan.


"Ayahanda ayolah kita bermain yah Putri mu ini mempunyai permainan yang seru" ucap Zhang Wei.


"Yang Mulia apa yang di sampaikan oleh Putri Zhang Wei ada benarnya juga bagaimana kalau kita melakukan permainan yang akan di ajukan oleh Zhang Wei? mumpung kita berkumpul bersama" ucap Permaisuri melerai perdebatan kedua orang yang tidak akan pernah bisa berakhir kalau sudah berdebat pasalnya kedua orang ini sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah.


"Hah baiklah kalau begitu tapi bukan berarti lain kali kau bisa mengelak dari Ayahanda" ucap Kaisar Zhang melihat Putrinya yang sedari tadi terus mengelak.


"Kenapa kalian menghela nafas panjang begitu? tanya Zhang Wei melihat keempat orang yang sedari tadi diam tiba-tiba menghela nafas


"Permainan apa yang Meimei ingin tunjukkan? Tanya Putra Mahkota tidak menanggapi pertanyaan Zhang Wei kalau dia ladeni nanti yang ada perdebatan yang sudah berakhir akan berlanjut.


"Gege bisa tidak Gege menjawab pertanyaan ku dulu? ucap Zhang Wei sebal sendiri.


Ke enam orang itu hanya diam tidak menjawab pertanyaan Zhang Wei.


Zhang Wei mengeluarkan sebuah gitar dan karpet untuk mereka duduk di tanah yang menjadi halaman Zhang Wei.


"Bibi tolong siapkan teh dan camilan" ucap Zhang Wei meminta salah satu pelayan untuk menyiapkan teh dan camilan sambil menikmati keindahan sore itu.

__ADS_1


"Nah ini namanya gitar. Kalau begitu ayo kita bernyanyi" ucap Zhang Wei sambil mulai memetik senar gitar itu.


Nada yang dari nada selow ke nada yang semangat. Zhang Wei berhenti sejenak seperti ada kekurangan. Mereka yang melihat Zhang Wei tiba-tiba berhenti bingung.


"Ada apa Meimei? ucap Zhang Lin heran


"Ah tidak apa-apa Gege" ucap Zhang Wei masih memikirkan hal apa yang kurang


"Aha saya tahu" pekik Zhang Wei kala mengingat apa yang kurang


Zhang Wei mengeluarkan alat yang menjadi alat pelengkap itu yaitu sebuah alat musik seperti tamborin dan drum dan ada juga Simbal.


"Gege silahkan mengikuti irama dari gitar yang saya petik" ucap Zhang Wei melanjutkan aksinya dan pangeran Zhang Lin dan Putra Mahkota mengikuti arahan dari Zhang Wei memainkan alat musik yang terlihat sedikit familiar tapi berbeda corak.


Zhang Lin memukul drum begitu juga dengan Putra Mahkota yang memainkan tamborin. Mereka mengikuti perlahan nada gitar yang tengah di lantunkan oleh Zhang Wei.


Zhang Ziyi yang melihat masih ada alat musik yang belum terpakai mengambil dan mencoba memukul awalnya belum sesuai tapi semakin dia memukul akhirnya dia dapat mengikuti.


Orang tua dan Putri Zhang Fei yang tidak dapat bagian hanya mengikuti dengan tepuk tangan begitu juga Zhang Wei mengiringi dengan menyanyikan lagu-lagu yang dia ketahui oho jangan lupakan kamera laptopnya yang merekam.


Bunyi alat-alat musik dan juga suara merdu Zhang Wei menggema di seluruh kediamannya bahkan hampir semua penghuni istana mendengar suara merdu itu.


Hai hai sobat πŸ‘


Bagaimana kabar kalian hari ini?


Sehat sehat sehat?


Jangan lupa untuk like dan Vote ❀️ kakak

__ADS_1


Silahkan mengikuti author kalau ada yang penasaran dengan karya author


__ADS_2