
"Kita mampir makan dulu yah? laper nih!" Ningsih mengangguki ajakan Wita. Wita menepikan Mobilnya ke sebuah Restoran, lalu keduanya beriringan memasuki tempat tersebut untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Setelah memesan makanan, keduanya menunggu pesanan mereka dengan mengobrol ria, karena mood Ningsih sudah mulai membaik.
Di tengah obrolan mereka, Wita tiba-tiba berseru sedikit heboh. "Si si si! Itu bukannya si Kak Juna Juna itu yah? tapi kok....yang ceweknya itu wajahnya nggak mirip Kak Tania? Atau memang itu Kak Tania yah?" Wita memang tidak terlalu mengenal Tania dan Juna, ia hanya bertemu sekali saja dengan sepupu dari sahabatnya itu. Tapi seingatnya, perempuan yang bersama Juna saat ini itu bukan Tania. Entahlah, atau mungkin dia yang salah mengenali atau apa.
Sebenarnya Ningsih tidak terlalu peduli saat Wita bilang ada Juna, tapi mendengar Juna bersama seorang Perempuan sepertinya mengganggu pemikirannya. Ia menoleh ke arah yang ditunjuk Wita tadi, matanya memicing saat melihat perempuan itu sedang melingkarkan tangannya di lengan Juna dan Juna terlihat tidak terganggu sama sekali dengan hal itu. Keduanya terlihat seperti pasangan yang serasi, yang satu cantik bak model dan yang satunya lagi gagah dan tampan.
Tanpa ia sadari, ternyata langkah kakinya membawanya mendekati Juna dan perempuan itu yang terlihat sedang mencari tempat duduk yang pas untuk mereka, rupanya keduanya baru datang.
Wita yang melihat Ningsih mendekati Juna dan wanita itu dengan ekspresi yang sulit Wita artikan, segera menyusul sahabatnya itu. jangan bilang Ningsih mau melabrak Juna, karena baru beberapa hari mwnikah dengan sepupunya udah selingkuh aja.
"Loh, Dek? Adek kok di sini? bukannya ada Kuliah ya?" tanya Juna terkejut dengan Ningsih yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
"Bukannya aku yang harus nanya? Kakak nggak ke kantor, ini kan masih jam kantor. Kok kelayapan di luar sama permen karet?" Juna menyadari tatapan tak suka Ningsih pada perempuan di sampingnya itu. Juna menarik tangannya dengan reflek saat tatapan Ningsih jatuh pada tangannya yang digandeng Widya--perempuan di sampingnya.
__ADS_1
Widya menatap Ningsih tajam saat menyadari kalau permen karet yang dimaksud gadis itu adalah dirinya. "Maksud kamu apa, bilang aku permen karet?" tanya Widya dengan kesal.
Ningsih menatap wanita itu datar. "Oh ya? Emang tadi aku bilang yah, kalau kamu permen karet? atau kamu memang tersinggung karena berani nempel-nempelin suami orang di depan umum?"
Juna menyadari apa yang dimaksud Ningsih. Gadis itu pasti salah paham padanya.
"Dek, jangan gitu dong! Widya ini...."
"Ooh, jadi namanya Widya?" potong Ningsih cepat. Ningsih merasakan ujung bajunya ditarik, dan menemukan Wita--si pelaku-- yang menyegir ke arahnya.
"Dek, Kakak bisa jelasin. Kamu jangan salah paham dulu, oke?Ini Widya, teman SMA Kakak dulu, dia....."
"yang suka nempel sama Kakak dan Kakak senang-senang aja, iya?" lagi-lagi Ningsih memotong ucapan Juna. Sementara Wita, gadis itu mengerutkan alis tak mengerti. Sikap Ningsih saat ini terlihat seperti seorang Istri yang memergoki Suaminya selingkuh, Bukan seperti sikap seseorang yang marah karena Sepupunya diselingkuhi. Apalagi dengan semua ucapannya yang terkesan menuduh dan menyudutkan Juna, Wita merasa itu nggak wajar. Ningsih terlihat sangat berlebihan. Maksud Wita, seharusnya Ningsih walaupun membela sepupunya, setidaknya tempatkan dirinya di posisi sebagai seorang sepupu, bukannya menempatkan diri sebagai seorang Istri.
"Si, kamu kayaknya udah kelewatan deh!" bisik Wita saat Ningsih terlihat akan kembali membuka suaranya. Ningsih langsung tersadar kalau masih ada Wita bersamanya terdiam.
__ADS_1
"Kita pergi aja Wi, nyari makan di tempat lain aja!" ia menarik tangan Wita untuk meninggalkan dua orang tersebut. Wita tetap diam di tempatnya membuat Ningsih mendengus, lalu melepas pegangannya di tangan Wita dan melangkah ke luar Restoran terlebih dahulu.
"Ningsih! Ningsih!" Wita memanggil-manggil namanya pun tak ia pedulikan. entahlah, saat ini ia butuh sendiri.
"Kak, maafin Kelakuan Ningsih ya? Saya permisi dulu, mau ngejar dia" pamitnya, ia lalu membayar pesanan mereka tadi meskipun belum sempat di makan sebelum menyusul Ningsih.
"tunggu, tunggu, tunggu! Ningsih? Ningsih....bocah kelas enam SD dulu itukan?" Juna memandang Widya yang menatapnya penasaran.
"iya"
"Gila, Jun! Nggak nyangka kamu dapatin tuh bocah. gila! gila!" pekiknya. Juna mendengus melihat ekspresi Widya yang berlebihan. "nggak usah masang wajah gitu, saat ini dia pasti marah banget ke aku!"
"yaelah Jun, berjuang dapatin dia dengan waktu selama itu kamu bisa, masa buat perjuangin maaf dia aja kamu udah putus asa?" ejek Widya.
"kamu nggak paham aja sih, gimana labilnya dia, makanya kamu bilang gitu!" wajah Juna sudah terlihat kusut. "bantu jelasin yah?" mintanya pada Widya.
__ADS_1
Widya menggeleng sambil tersenyum usi, "ogah!" ucapnya lalu meninggalkan Juna sendirian.