
Ningsih saat ini tengah makan bersama Wita di Kafe milik Bimo. Ningsih menceritakan semuanya pada Wita, dan jelas saja Wita syok karena Bimo ternyata punya hubungan spesial dengan Tania dulu.
"Aduuhhh!! Aku kecewa nih, Cowok ganteng satu lagi udah ada yang punya" candanya dengan memegang dadanya seolah benaran kecewa. "Tapi aku ikutan senang deh, karena dengan begitu kamu nggak akan ngeraguin Kak Juna lagi"
Ningsih mengangguk membenarkan. Sebenarnya, Ningsih seharusnya dari dulu tak meragukan perasaan Juna karena mengingat kesetiaan Cowok itu selama ini. Ningsih saja yang terlalu ketakutan hingga tanpa sadar ia sering menyakiti perasaan Juna.
"Oh yah, hubungan kamu sama Kak Noval gimana?" tanya Ningsih tiba-tiba. Wita terlihat salah tingkah "enggak gimana-gimana. Apaan sih tiba-tiba kamu nanya gitu?"
"Masa? Kok aku nggak percaya?" goda Ningsih lagi membuat Wita makin salah tingkah. "kamu jujur deh Wi, ke aku. Kamu mulai suka kan sama Kak Noval?" tuding Ningsih. Wita menghela nafas kasar, mau bagaimanapun ia tak mampu menyembunyikan sesuatu dari Ningsih.
"Aku bingung Si. Kamu tahu kan, sebelum ini aku nggak pernah tertarik dengan urusan perasaan, yah walau selama ini aku suka banget liatin cowok ganteng" Ningsih mengangguk membenarkan. Wita memang belum pernah pacaran. Bahkan gadis itu tidak terlalu mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta. Entah ia memang belum pernah jatuh cinta atau memang ia sama sekali nggak sadar kalau dirinya pernah merasakan yang namanya jatuh cinta.
__ADS_1
"Emang perasaan kamu gimana kalau dekat Kak Noval?" tanya Ningsih antusias. Entahlah, ia yakin Wita menyukai mantan gebetannya itu.
"rasanya campur aduk, Si. Aku sering kesal dengan dia, tapi aku juga setiap waktu nggak sabar pengen ketemu dia. Dan walau dia ngesalin, anehnya aku nyaman-nyaman aja sama dia, bahkan ingin berlama-lama ngabisin waktu barang dia" Jelas Wita.
Ningsih menahan tawa mendengar penjelasan polos Wita. "Berarti fiks, kamu jatuh cinta sama Kak Noval! Ciee...yang baru pertama jatuh cinta"
Wita mendengus seolah tak percaya. Masa iya dia jatuh cinta sama Noval? Tapi....Ah! Wita susah mendefinisikan perasaannya.
"Udahlah Wi, terima kenyataan aja. Dan jalanin sesuai takdir" nasehat Ningsih.
"Tapi Si..."
__ADS_1
"Kita nggak pernah tahu perasaan kita akan berlabuh ke siapa. Dan kita juga nggak bisa mengatur perasaan kita, Wi. Walau kamu nggak terima hati kamu sekalipun memilih Kak Noval, tapi aku tahu salah satu sudut hati kamu menginginkan bersama dia"
Wita terdiam karena perkataan Ningsih tepat sasaran. Wita bukan munafik menampik perasaannya, hanya saja ia terlalu bingung apa secepat itu hatinya melabuhkan pilihan. Tapi seperti kata Ningsih tadi, tak ada seorangpun yang bisa memilih untuk jatuh cinta ke siapa, dan itulah yang kini tengah dialami Wita.
"Udah ah, bahas hal lain aja! Pusing aku kalau bahas soal cinta" ujar Wita putus asa. Ningsih terkekeh geli, lucu saja melihat Wita dilema karena perasaannya.
"Okey, okey! Gimana kabar Mama Papa kamu?" tanya Ningsih berganti topik seperti keinginan Wita.
"Biasa, masih super sibuk mereka!" jawab gadis itu sendu. "Ya udah, daripada kita galau-galau, gimana kalau kita mesan makanan yang banyak aja? hitung-hitunh ngilangin setres!"
Wita mengangguk senang "kamu yang traktir?"
__ADS_1
Ningsih mengangguk "mumpung aku lagi senang, jadi iya! aku yang traktir!"