
"Tega banget sih Jun, ninggalin aku kemarin. Tenggorokan udah sakit juga teriak-teriak, eh malah langsung ngegas aja tanpa noleh ke belakang" Omel Agung saat Juna baru sampai dan mendudukkan diri di bangkunya.
"sorry Gung! Habis kemarin itu waktu yang berharga banget untuk di kejar" kata Juna sambil menyengir. Kini Agung paham, hal apa yang kemarin membuat Juna seperti kesetanan. Apalagi kalau bukan memanfaatkan waktu untuk segera bertemu Sisi.
Tak berselang lama, Guru mata pelajaran memasuki kelas mereka. Keduanya menjalani pelajaran dengan khidmat. Berusaha mati-matian agar fokus, demi mencapai nilai tinggi sebagai modal mendaftar di SMA Gemintang.
Tak terasa, sudah waktunya pulang Sekolah. Namun semua murid kelas IX masih belum bisa pulang, karena ada beberapa hal yang akan disampaikan Kepala Sekolah. Juna dan Agung langsung menuju ke Aula Sekolah, di mana tempat mereka disuruh berkumpul.
"Kira-kira mau bicarain apa yah Jun?" tanya Agung. Juna mengedikkan bahunya "masalah ujian kali" jawab Juna acuh.
Saat sampai, keduanya langsung berdiri berbaur dengan teman-teman seangkatan mereka yang berbeda ruangan.
"Selamat siang anak-anak!" Suara Kepala Sekolah membuat anak-anak yabg sedari tadi ribut menjadi tenang. Mereka fokus mendengarkan apa yang akan nanti disampaikan.
"Siang Pak!" Jawab mereka serempak.
"Baik, untuk mempersingkat waktu Bapak akan langsung menyampaikan beberapa point yang memang sangat perlu kalian ketahui" Ujarnya memulai.
"Seperti yang kita semua ketahui, Ujian kelulusan kalian tidak akan lama lagi. Itu tandanya, sebentar lagi kalian akan meninggalkan Sekolah ini dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dan Nilai kalian tentu saja akan berpengaruh dengan Ke mana Sekolah yang akan kalian tuju. Karena memang beberapa Sekolah Swasta menetapkan nilai berstandar tinggi agar bisa diterima di sana. Jadi Bapak harap, kalian bersungguh-sungguh dalam menghadapi ujian kali ini" Ujarnya panjang lebar.
"Kemudian yang selanjutnya, untuk beberapa anak kelas Tiga yang sering bolos dan sering membuat para Guru sakit kepala, Bapak harap semuanya dikurangi atau kalau perlu dihilangkan. Bapak ingin, kalian meninggalkan kesan yang baik sebelum meninggalkan tempat ini. Mengerti?" Tambahnya.
__ADS_1
"Mengerti Pak!" jawab mereka serempak lagi.
"Oh ya, satu lagi kabar gembira untuk kalian. Di sini ada yang ingin melanjutkan Sekolahnya ke SMA Gemintang?" Banyak anak bersorak mendengar pertanyaan itu. Tentu saja banyak yang ingin masuk ke sana, termasuk Juna dan Agung.
"Pemilik SMA Gemintang semalam menghubungi bapak. Beliau mengatakan kalau tahun ini, ia membuka Beasiswa untuk tiga orang peraih nilai tertinggi di ujian nanti. Beasiswanya full sampai lulus. Dan bonusnya lagi, kalian yang akan mendapatkan beasiswa itu tidak akan lagi mengikuti tes masuk" mendengar perkataan Kepala Sekolah tersebut, seketika para murid tersebut mulai ribut. Banyak yang mendengarkan pengumuman itu dengan senang, ada juga yang terlihat lesu karena sudah sangat yakin kalau mendapat nilai tertinggi itu mustahil bagi mereka.
"Sudah, sudah! Diam dulu anak-anak!" Kepala Sekolah berusaha menenangkan mereka. "Dan ada yang lebih menggembirakan dan Bapak harap membuat kalian semakin bersemangat. Kata pemilik Sekolah SMA Gemintang kalau bagi siapa yang mampu mempertahankan prestasinya saat sudah masuk di sana selama tiga tahun berturut-turut, kalian bebas memilih Universitas di mana nanti yang akan kalian tuju dan juga akan tetap difasilitasi oleh pihak SMA Gemintang. Jadi Bapak harap, semua yang saya sampaikan hari ini akan memupuk semangat kalian untuk giat belajar. Bapak akan sangat bangga jika ada anak murid bapak yang bisa masuk sana dengan jalur beasiswa yang mereka tawarkan itu" Kepala Sekolah memandang kumpulan murid-muridnya itu dengan senyum. Ia sangat tahu, di antara mereka sangat banyak yang menginginkan masuk di SMA Gemintang.
"Demikian yang dapat Bapak sampaikan hari ini. Sekali lagi, Bapak berharap kalian semakin meningkatkan belajar. Selamat siang semuanya" Ujarnya mengakhiri.
"Siang Pak!"
Semua anak-anak sudah membebaskan diri dari kerumunan tersebut. Juna dan Agung melangkah bersama menuju parkiran. Agung hari ini sudah membawa motornya, katanya ia kapok kemarin ditinggal Juna. Ia tak mau lagi meminta tebengan pada Juna.
"Maksudnya?" tanya Juna bingung. Masalahnya sedari tadi mereka hanya diam. Tapi tiba-tiba Agung mengatakan 'kesempatan emas' membuat Juna tak mengerti.
"Itu, yang tadi kata Pak Kepsek. Kalau kita berhasil masuk sana dengan beasiswa, enak kayaknya. Jadinya nggak terlalu merepotkan orang tua" katanya menjelaskan.
Juna mengangguk mengerti. "Iya. Tapi meraih nilai tertinggi di Ujian itu bukan hal mudah Gung" ujarnya menanggapi.
"Ckkk. Tapi buktinya kamu selalu meraih nilai tertinggi kan selama ini?" Agung berdecak. Baginya, itu pasti mudah untuk Juna. Kalau untuk dia yah.....entahlah. Agung kan selama ini hanya diam di posisi lima besar. Nggak pernah naik, dan nggak pernah turun.
__ADS_1
"Kita nggak boleh segampang itu memandang sesuatu Gung. Belum tentu tahun ini aku kembali meraih nilai tertinggi. Di sini kan juga banyak saingannya" elak Juna.
Agung mendengus, kalau Juna sudah menjadi bijak begini Agung nggak bisa apa-apa.
"terserah kamulah Jun!"
"Tapi Jun, kalau kita bisa masuk di sana dan bisa pertahanin nilai, kan bisa masuk ke perguruan tinggi manapun tuh, pakai beasiswa lagi. Alamat masa depan cerah nih, kalau gini" Juna hanya diam. Sebenarnya Juna tak benar-benar mendengarkan ocehan Agung.
Pikiran Juna lagi tak karuan. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa tetap bertemu Sisi, namun tetap tak mengganggu fokus belajarnya. Ia baru sekali mengobrol langsung dengan gadis kecil pujaan hatinya itu, masa mereka nggak akan ketemu lagi. Apalagi Sisi juga udah kelas Enam. Gimana kalau Sisi pas lulus lanjutnya ke tempat yang jauh? mereka pasti nggak akan ketemu lagi.
"Jun, awas nabrak!" tegur Agung saat Juna tak memperhatikan jalan, bahkan hampir menabrak tembok karena seharusnya mereka berbelok, Juna malah lurus mengarah ke tembok.
"Hah?!" Juna tersadar dengan tampang bodohnya. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh pada Agung.
"ngelamunin apa sih Jun?" tanya Agung kesal.
"Sisi" jawabnya jujur, seketika membuat Agung berdecak.
"susah yah orang jatuh cinta. orang lain lagi musingin ujian, dia malah musingin gebetan!" cibir cowok jangkung itu.
Maaf yah, kemarin nggak update! soalnya aku lagi baca cerita ini dari awal, buat nyari typo dan ternyata banyak. Jadi aku memperbaikinya dulu.
__ADS_1
Oh ya, satu lagi! jangan lupa like, koment dan tipnya yah😊