
Wita duduk dengan gelisah menunggu kedatangan Ningsih. Sudah setengah jam semenjak kepergian gadis itu untuk menebus Obatnya, namun sampai sekarang ia belum menampakkan batang hidungnya.
"apa jangan-jangan banyak antrian yah?" gumamnya pada diri sendiri.
Entah kenapa, Wita merasa khawatir. Akhirnya, ia menyusul Ningsih. Dari jauh, samar-samar dilihatnya seorang perempuan yang duduk di lantai Rumah Sakit. Iya mempercepat langkahny, semakin dekat, maka ia semakin yakin kalau perempuan itu adalah Ningsih.
Wita memaksakan diri untuk berlari, untung saja pusingnya sudah tidak terlalu terasa.
"Si, Ya Allah! Kamu kenapa?" Tanya Wita khawatir sambil membantu Ningsih bangun dari duduknya, kemudian mengajak Ningsih duduk di Kursi tunggu di depan ruangan itu. Ia memperhatikan wajah Ningsih yang sudah banjir air mata, membuat kekhawatirannya semakin meningkat.
Ningsih masih diam dengan tatapan kosongnya. Sebenarnya dalam benak gadis itu terdapat banyak ketakutan. Ia takut yang dikandung Tania adalah anak Juna, ia takut Juna pergi meninggalkannya, Ia takut berpisah dengan Juna, dan masih banyak ketakutan lain yang ia rasakan.
"Si, tenangin diri kamu Oke? kalau sudah, baru cerita kamu kenapa"
Wita masih setia menunggu Ningsih membuka suara. Sudah dua puluh menit berlalu, namun gadis itu belum terlihat tanda-tanda membuka suaranya.
"Kalau belum siap cerita, nggak apa-ap..."
"Aku ketemu Kak Tania" ujarnya memotong ucapan Wita.
__ADS_1
Mata milik Wita melotot sempurna mendengarnya. Dia saja yang nggak ada hubungannya dengan Tania dan Juna syok, apalagi Ningsih.
"Dd...dia..dia...Hamil, Wi!" dan mata milik Wita semakin melotot mendengarnya. Hamil? hamil anak siapa?
Wita tersadar dari keterkejutannya, ia mengelus pundak sahabatnya itu pelan.
"Si, jangan berfikiran negatif dulu yah? lebih bagusnya kalau kamu tanyakan pada Kak Tania nanti. Atau enggak sama Kak Juna"
"Gimana aku nggak berfikiran negatif, Wi? sementara selama ini, cowok yang dekat dengan Kak Tania hanya Kak Juna. Terus gimana aku mau tanya sama Kak Tania, dia kabur Wi, ngelihat aku!" ungkap Ningsih.
Wita terdiam. Siapapun pasti akan memiliki pemikiran yang sama dengan Ningsih. Tapi.....menebak-nebak juga nggak baik. Bisa jadi, Tania bukan hamil anak Juna. Bisa jadi, yah!
Ningsih hanya diam tak menanggapi. Pikirannya saat ini entah di mana. Ia membayangkan bagaimana nanti jika itu benar anak Juna? mana mungkin ia tega membiarkan anak itu tanpa Ayah. Tapi bagaimana dengan dirinya nanti? Apa ia sanggup ditinggal Juna? atau apa ia sanggup untuk.......berbagi suami dengan sepupunya sendiri? air matanya lagi-lagi mengalir mengingat hal itu.
"Si!" panggil Wita.
"Aku nggak tahu, Wi. Aku....apa boleh aku menginap di rumah kamu? aku mau nenangin diri aku"
Wita menggeleng tegas. "enggak! kamu nggak boleh kabur hanya gara-gara ini. Maksud aku, lebih baik kamu bertanya pada Kak Juna, daripada menghindar dan buat dia kebingungan sendiri nanti karena sikap kamu" tolak Wita.
__ADS_1
"Wita, Please!!" mohon Ningsih. Wita tetap menggeleng. Sebenarnya gadis itu tak masalah jika Ningsih menginap di rumahnya kapanpun, tapi bukan dalam keadaan menghindar dari masalah seperti ini.
Wita tahu ini berat bagi Ningsih. Jadi, hanya bertanya pada Junalah satu-satunya solusi. Saat ini yang dipertaruhkan adalah kepercayaan dan keutuhan rumah tangga mereka, jadi pergi dari rumah dengan alasan menenangkan diri bukanlah jalan keluarnya.
"Si, aku tahu apa yang kamu takutkan. Aku juga tahu kalau kamu butuh ketenangan. Tapi coba kamu pikir, jika kamu bilang ke Kak Juna untuk menginap di rumah aku, dia pasti bakalan bertanya alasannya. Kamu mau bohong sama dia?"
"Si, ayolah! Kak Juna pasti juga bakalan curiga kenapa tiba-tiba kamu minta menginap. Jadi...jangan yah?!" sambungnya.
Ningsih terdiam. Semua yang dikatakan Wita benar. Ia tidak boleh menghindar dari masalah, hanya dengan alasan menenangkan diri. Perkara Rumah Tangga itu bukan perkara main-main. Semakin lama ia menunda menyelesaikannya, akan semakin dekat kehancuran Rumah Tangganya karena selalu dibarengi dengan keraguan dan curiga. Satu-satunya jalan adalah penjelasan, juga berbicara dari hati ke hati. "oke" ujarnya dengan suara serak.
"Jadi, kamu paham kan kenapa aku nggak perbolehin kamu nginap?" tanya Wita. Ningsih mengangguk pelan membuat Wita bisa bernafas legah. Wita baru sadar, bersama Ningsih ia seperti menjadi seseorang yang bijak, dan pikirannya juga dipaksa dewasa. Iya tersenyum, yah....seperti inilah sahabat yang sebenarnya. Saling menasehati satu sama lain, juga saling mendukung dan saling mengingatkan.
**Indahnya jika dapat sahabat sepengertian Wita😊
rasa penasarannya tahan dulu yah?!
untuk yang ingin menebak-nebak gimana selanjutnya, silahkan menebak. Aku suka jika kalian mendalami cerita ini. ikutan sedih, bahagia, penasaran, dan juga baperan, hehehe. Yang harus kalian tahu, aku selalu membaca semua komentar-komentar kalian. Jadi, silahkan berkomentar, penting sopan yah😊
Vote, like, dan komennya juga jangan lupa**.
__ADS_1