
Jangan lupa baca karyaku yang lain.
"Oke. To the point aja, yang pertama aku kangen sama kamu. Yang ke dua, aku mau kita menikah segera. Dan yang ketiga, aku nggak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Dan yang paling utama, aku ngelakuin ini bukan atas dasar kasihan, tapi benar-benar tulus dari hati aku "
"Bim, kamu lagi demam?" tanya Tania setelah kesunyian merambat di antara mereka selesai Bimo mengucapkan kalimatnya.
Bimo memganga lebar, capek-capek dia ngeluarin kalimat panjang nan manis itu, eh! malah dikira demam.
"Tania aku serius, bukan bercanda loh!" ujar Bimo sedikit gemas.
"Bim, aku nanyanya kamu demam loh bukan kamu serius apa bercanda" jujur Tania bingung akan semua ungkapan Bimo. Apa maksudnya coba?
"Tania, aku rasa kamu mengerti ke mana arah pembicaraan aku. Aku nggak demam, aku juga nggak lagi bercanda atau sejenisnya. Aku, benar-benar ingin melamar kamu" ucap Bimo berusaha meyakinkan. Ia menatap Tania lekat-lekat, berharap wanita yang melahirkan anaknya itu akan memberi anggukan sebagai jawaban.
"Bim, aku sudah bilang sama kamu sebelumnya. Aku nggak butuh dikasihani!" Tania mulai emosi, ia kembali mengingat pembicaraan sang Mama dan Bimo. Ia yakin, Bimo hanya merasa prihatin akan keadaannya.
__ADS_1
"Dan aku juga udah bilang sama kamu, aku ngelakuin ini bukan karena kasihan. Aku benar-benar tulus ingin memulai semuanya dengan kamu Tania, kita mulai dari awal, bersama Bita" Bimo berusaha menekan emosinya, ia tak ingin Tania mempunyai kesempatan menolaknya jika ia salah bersikap.
"Tan, please! percaya sama aku. Aku mungkin nggak bisa menjanjikan kalau kamu selalu bahagia sama aku nanti, tapi aku akan berusaha menggantikan semua kesedihan kamu sebelum ini"
Tania hanya diam, sibuk dengan pemikirannya sendiri. "Tan, semua orang punya kesempatan untuk bahagia, Termasuk kamu. Dan aku ingin, terciptanya bahagia kamu itu karena aku"
Hening kemudian melanda keduanya, sampai tiba-tiba isakan Tania terdengar. Dengan cepat, Bimo mendekati Tania dan menarik ke dalam pelukannya.
"Aku.....aku takut Bim. Aku...takut berharap lagi dan akhirnya buat aku sakit" isak Tania.
"Tapi Bim, bukannya kamu udah nggak cinta sama aku?" tanya Tania sambil melepaskan pelukan mereka.
"Tan, bagi aku. numbuhin cinta yang pernah mengakar di hati itu mudah. Kita hanya perlu sering-sering memupuknya dengan kebersamaan, dan aku yakin. Ia akan tumbuh dengan subur bahkan lebih dari yang sebelumnya" jelas Bimo. Entah sejak kapan mulutnya berubah selalu mengucapkan hal-hal semanis itu.
"Jadi, gimana? Lamaran aku diterima enggak?" tanya Bimo.
__ADS_1
Tania menatap Bimo lekat "Bukannya tadi kamu bilang nggak nerima penolakan yah?"
Bimo terkekeh pelan saat Tania mengingatkan ucapannya tadi. "Iya juga yah? Ngapain juga kita tadi sempat debat kalau aku nggak nerima penolakan dari kamu? harusnya aku tadi selesai bicara gitu langsung keluar aja ngehubungin pihak WO" candanya membuat Tania memukul bahunya pelan.
"Dan biarin aku merana sendirian karena nggak bisa ngeluarin unek-unek aku?" Tania berpura-pura merajuk. Bimo kembali tertawa "Ciee....Mamanya Bita merajuk. Udah punya anak satu masih suka merajuk, malu dong sama Bita" ledek Bimo.
"Apaan sih Bimo" kesal Tania.
"Oh yah, besok malam aku mau ngajak orang tua aku ke sini. Aku tadi udah ngehubungin mereka, dan mereka udah terbang menuju Indonesia untuk nyiapin lamaran kita" ucap Bimo membuat Tania terkejut. "Secepat itu?!"
Bimo mengangguk "Iya. Secepatnya, biar aku bisa sering-sering sama Bita terus. Dan sama Mamanya juga" ujarnya santai membuat wajah Tania memerah karena malu. "Liat wajah kaamu yang merah aku teringat saat kita SMP" dan wajah Tania semakin memerah.
"Cieee....Mama sama Papanya Bita ngalamin masa puber ulang" ledek Adelia pada keduanya. Entah sudah sejak kapan wanita itu berada di sana sambil menggendong Bita.
Udah, gitu aja? Iya gitu aja. yang pentingkan mereka udah bahagia. Vote, like dan komennya jangan lupa.
__ADS_1