Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Dua Puluh Dua


__ADS_3

Matahari sudah terlihat besinar terik, namun dua anak manusia yang terbaring di atas tempat tidur tersebut sama sekali tak terusik. Mungkin karena mereka berpikir ini hari libur, kenapa harus bangun pagi-pagi? lebih baik lanjut tidur.


Ningsih melenguh panjang saat sinar matahari sedikit menerpa karena gorden kamar mereka yang tertiup angin. Dengan perlahan, matanya membuka lalu menoleh ke sampingnya. Ia tersenyum melihat wajah polos Juna saat tertidur, kesan menyebalkan di wajah itu seketika hilang. Apa Ningsih perlu nyuruh Juna tidur terus kali yah, agar wajah menyebalkannya itu nggak akan pernah nampak lagi di mata Ningsih? eh, tapikan....kalau tidur terus itu bukannya mati? Ah...Ningsih jadi janda muda dong? Terus bukannya lihat wajah Juna yang polos, wajah itu pasti bakal pucat dan juga pasti akan segera di kubur.


Ningsih membulatkan matanya saat menyadari pemikirannya yang sangat buruk itu. Astaga, bisa-bisanya dia mikir kayak gitu masih pagi? Mikir Juna matilah, dikuburlah, parahnya mikir jadi janda? Astaga, dia pasti kesambet setan lewat tadi. Lagian...Ningsih yakin dia nggak akan sanggup kehilangan Juna. Walaupun baru beberapa hari, Ningsih sudah merasa terbiasa dengan semua perlakuan manis Juna.


Ningsih mendengus saat melirik tangan Juna yang melingkar di pinggangnya. Jangan heran, Ningsih hampir setiap hari mendapati tangan itu bertengger di pinggangnya saat bangun tidur. Bahkan lebih parahnya lagi, beberapa kali Ningsih terbangun dan sadar kalau posisinya dan Juna sedang berpelukan. Di mana Juna merengkuh pinggangnya, dan Ningsih sudah meringkuk menempel di dada pria itu.


Ningsih berusaha melepaskan tangan Juna yang berada di pinggangnya itu. Namun bukannya lepas, Juna malah makin mempererat pelukannya sehingga Ningsih semakin menempel kepadanya.


Ningsih merutuki jantungnya yang sedari tadi dangdutan, senang? entahlah, Ningsih juga bingung. Yang jelas, jantungnya saat ini memompa lebih cepat daripada saat bersama Noval. Apa karena ia dan Juna terlalu intim? maksudnya yah...terlalu menempel gitu. Kalau dengan Noval kan dia hanya sebatas pegangan tangan.


"Kak, ih! Lepasin dulu. Sisi mau masak!" rengeknya.


Juna membuka matanya perlahan saat mendengar rengekan istrinya itu. Bahkan gadis itu menyebut namanya sendiri dengan sebutan Sisi, bukan aku seperti biasanya. Ia tersenyum melihat wajah kesal Ningsih yang sedang terlentang namun memiringkan kepalanya menatap ke arah Juna.


"Sebentar lagi yah, Kakak masih ngantuk" ujarnya.


"isssh, itukan Kakak yang ngantuk bukan Sisi. lagian yang masak kan Sisi, apa hubungannya sama Kakak yang masih ngantuk?" Ningsih masih berusaha melepas tangan Juna, namun masih tetap gagal.


"Ckkk, karena Kakak lebih nyaman tidur sambil meluk kamu daripada sendirian" jawab Juna membuat wajah Ningsih kontan memerah. Untung Saja Juna tak melihat, karena pria itu sudah kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


Ningsih akhirnya pasrah dan membiarkan suaminya itu tidur. Namun baru dua puluh menit kemudian, Juna langsung membuka matanya dan terbahak kencang karena suara perut Ningsih yang berbunyi lumayan kuat. Rupanya istrinya itu benar-benar lapar.


"Hahahahahahh, Istri Kakak benar-benar...lapar..hhh...yah?" ejek Juna di sela tawanya.


Ningsih menatapnya tajam. "Udah salah nahan aku di sini, ngetawain lagi! Kalau Kakak nggak nahan aku, aku udah masak dan kita udah bisa makan!" ujarnya kesal.


"Hahahah, Maaf dek, maaf! Ya udah, sekarang kamu mandi terus ganti baju. Kita makan di luar aja pagi ini" Juna masih tertawa saat mengatakan itu.


"makan di mana?" tanya Ningsih.


"Nasi goreng dekat perempatan itu mau? kata teman kantor Kakak di situ enak, dan tempatnya juga bersih. Halamannya kan luas, jadi sedikit jauh dari jalan raya" Ningsih mengangguk saja, lalu mmemasuki kamar mandi meninggalkan Juna yang senyum-senyum sendiri karena tingkahnya.


"Andai aja segampang itu Si, jelasin sama kamu. Hhuufft! Kakak yakin apapun yang akan Kakak jelasin ke kamu pasti semua akan tetap membuat kakak terlihat bersalah di mata kamu" Juna mendesah kasar. Ia bingung mau mengatakan semuanya pada Ningsih dengan cara apa.


Ini saja Juna sudah bersyukur karena Ningsih sudah tak membahas masalah mereka semalam. Mungkin saja gadis itu tipe orang yang mudah melupakan masalah dan nggak bisa marah terlalu lama. Buktinya, dulu Juna sering berdebat dengan Ningsih, mengusili gadis itu sampai ia marah. Tapi saat besoknya ketemu, mereka akan kembali akrab walau ujung-ujungnya berantem lagi.


"Kak, Kok keliatannya gelisah? kenapa?" tanya Ningsih sambil menepuk pundak Juna pelan. Ia baru saja keluar dari kamar mandi Namun mendapati wajah Juna yang terlihat seperti memikirkan banyak hal.


Juna tersentak kaget, 'sejak kapan Ningsih berada di sini? dan apa dia mendengar semua yang aku katakan?' batinnya.


Ningsih menepuk pelan sekali lagi pundak suaminya itu. tadi gelisah dan terlihat kayak orang frustasi, sekarang melamun. Apa sebenarnya yang berada dipikiran Juna, Ningsih benar-benar tak paham sama sekali dengan pria itu.

__ADS_1


"Tadi gelisah, pas ditanya melamun. kenapa sih Kak? Ada masalah? cerita sama Ningsih" ucapnya lembut.


Juna menggeleng pelan, dan memaksakan senyumnya. "enggak apa-apa! Oh ya, udah selesai?" Juna berusaha mengalihkan topik, ia sama sekali tak tega melihat wajah kecewa Ningsih saat bertanya namun ia tak bisa menjawabnya. Jadi lebih baik dia mengalihkan ke topik lain.


"Iya. Sekarang giliran Kakak. Cepatan yah, aku benaran udah lapar banget" katanya menyuruh Juna bergerak cepat, sambil mengelus perutnya yang sedari tadi selalu berbunyi.


Juna tertawa kecil sambil berjalan menuju Kamar mandi. "Iya, iya. Lima menit deh!" ujarnya mendapat cibiran dari Ningsih. "Cih, jorok banget jadi manusia" Juna hanya tertawa mendengarnya.


saat mendengar pintu kamar mandi di tutup, Ningsih terduduk lemas di atas ranjang. Air matanya seketika luruh. Sebenarnya sejak tadi ia hanya bertingkah seolah baik-baik saja. Ralat! bukan sedari tadi. lebih tepatnya sejak kemarin. Dia sama sekali tidak ingin berdebat terus menerus dengan Juna padahal pernikahan mereka baru terhitung beberapa hari saja. Tapi walau bagaimanapun juga, dia seorang wanita yang pada dasarnya memiliki hati yang gampang sensitif. Semua pengalihan topik dari Juna, selalu membuatnya sedih.


Ningsih sadar, Juna belum sepenuhnya menerima dirinya sebagai istri. Buktinya, Juna tak mempercayainya untuk menjelaskan bagaimana masa lalu pria itu. Ningsih yakin, Juna sampai saat ini masih mencintai cinta pertamanya itu, sama seperti Ningsih yang sampai saat ini masih memiliki perasaan pada Noval walau sedikit demi sedikit mulai pudar.


Air matanya semakin deras memikirkan nasib pernikahannya. Mau sampai kapan pernikahan mereka seperti ini? Ningsih berpikir, untuk apa mereka mempertahankan hubungan ini jika hati mereka masih menyangkut di masa lalu masing-masing?


"Kenapa harus Ningsih Tuhan? Rasanya benar-benar sakit!" ujarnya di sela kesedihannya.


Ningsih bergegas menghapus air matanya saat mendengar pintu kamar mandi yang dibuka. Ia berdiri dan berpura-pura menyisir rambutnya yang panjang itu.


"Loh, mata kamu kok keliatan sembab kayak orang habis nangis?" tanya Juna bingung, ia melirik wajah Ningsih melalui kaca karena gadis itu sedang bercermin.


"Hah? oooh, tadi aku nggak tahu tangan aku ada apa. Terus aku nggak sengaja ngucek mata aku pake nih tangan, jadinya perih dan yah....air mataku ngalir gara-gara itu" ujar Ningsih beralasan.

__ADS_1


Juna menatap istrinya itu curiga, namun ia memilih berpura-pura percaya karena Ningsih menyuruhnya segera bergegas. 'Kenapa kita nggak pernah saling terbuka? mau sampai kapan kita kayak gini?' Juna membatin sambil menatap Ningsih.


__ADS_2