
Vote, like dan komen yah, agar Author semangat nulisnya.
Ningsih dan Juna memperhatikan satu per satu wajah penjual di Kantin tersebut. Tak sengaja, mata Ningsih menatap seorang gadis yang sedang merapikan meja tempat alat-alat makannya. Ningsih menarik tangan Juna mendekat, bermaksud menanyakan Nenek Ija pada gadis itu. Pasalnya, Kantin ini sudah lebih luas daripada saat ia masih SD dulu.
"Permisi Mbak, boleh numpang nanya?" Sapa Ningsih pada gadis itu.
"ya? eh, iya iya Mbak! Mau nanya apa?" jawab si gadis.
"emm Kamu kenal Nenek Ija enggak? Nenek yang juga jualan di Kantin ini!"
Gadis itu mengerutkan alisnya "ada perlu apa yah, nanyain Nenek Ija?" tanyanya sambil memperhatikan Ningsih dan Juna.
"emm...gimana yah, jelasinnya! emm, gini. Saya itu kenal Nenek ija dulu, waktu dia masih jualan di depan gerbang Sekolah ini. Jadi saya pengen ketemu dia, soalnya udah lama nggak ketemu!" jelas Ningsih.
"tunggu, tunggu, tunggu! Mbak ini.....Mbak Ningsih?" tanya gadis itu ragu-ragu.
Ningsih mengangguk "iya, kok kamu tahu?"
__ADS_1
"Astaga Mbak! ini aku Mbak, Wulan" pekiknya senang. Gadis itu langsung menghambur memeluk Ningsih. Ningsih pun sama, ia senang dan terkejut secara bersamaan. Ternyata Wulan sudah sebesar ini, bahkan ia lebih tinggi dari Ningsih. Maklum sih, jarak umur mereka memang tak terlalu jauh.
"Astaga! Mbak nggak nyangka kamu udah sebesar ini!" ujar Ningsih.
Setelah mereka melepas rindu, Wulan mempersilahkan keduanya untuk duduk di bangku kantin. Kebetulan masih jam masuk, jadi belum ada pembeli yang harus Wulan layani.
"Gimana kabar kalian?" tanya Ningsih membuka percakapan. Ia tadi sudah memperkenalkan Juna dan jelas saja disambut Wulan dengan bahagia karena Ningsih menikah dengan Orang yang sudah berjasa membantu Nenek Ija.
"Aku sama Adik-adik sehat, Mbak! Hanya saja, akhir-akhir ini kesehatan Nenek menurun. Mungkin disebabkan faktor umur juga" wajah Wulan menyendu mengingat kondisi Nenek Ija yang akhir-akhir ini sering sakit.
Ningsih mengelus bahu Wulan memberi kekuatan. "terus, adik-adik di mana?" tanya Ningsih mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah! Kakak ikut senang dengarnya!" ujar Ningsih.
"Bagaimana kalau kita nungguin kamu selesai jualan. Lalu kita ikut mampir ke rumah kamu, untuk jenguk Nenek Ija!" usul Ningsih. Ia pun meminta pendapat Juna dan diangguki oleh suaminya itu.
"Iya kak! Nenek pasti senang banget!" pekik Wulan. Ningsih terenyuh melihat wajah ceria Wulan. Ningsih tahu, banyak penderitaan yang dilalui gadis itu. Dalam hati Ningsih berkali-kali menggumamkan kata syukur, karena setidaknya ia tak menghabiskan waktu masa kecil sampai remajanya untuk mencari uang demi mengisi perut sendiri dan juga keluarga.
__ADS_1
Bel tanda Istirahat berbunyi, banyak anak-anak berhamburan memasuki kantin. Ningsih dan Juna ikut membantu Wulan melayani anak-anak tersebut.
"Dek, butuh bantuan?" tanya sebuah suara yang ditujukan pada Wulan.....sepertinya.
"Eh? Kak Ishak?! Nggak usah Kak! Hari ini Wulan dibantu sama Mbak Ningsih dan suaminya" jawab Wulan. Wulan kemudian memperkenalkan Ningsih dan Juna pada pria itu.
"Ini Mbak Ningsih, yang sering Wulan sama Nenek ceritain itu loh Kak. Dan ini suaminya, Mas Juna. yang berjasa karena sudah membantu Nenek bisa jualan di sini waktu itu"
Pria dengan seragam kecoklatan khas seorang Guru itu megangguk ramah. "Saya Ishak, Guru di sini!" Ningsih dan Juna membalas uluran tangan Ishak sambil menyebutkan kembali nama mereka.
"Kalau gitu Kakak ke ruangan dulu! Kakak pikir Adek tadi sendirian" pamitnya pada Wulan. Kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Ningsih dan Juna. "saya duluan ya, mari!"
"iya, iya. silahkan!"
"Dia siapa Lan? keliatannya perhatian banget sama kamu. Dia naksir yah, sama kamu?" tanya Ningsih menggoda. Wajah Wula memerah, namun senyum gadis itu terbentuk dengan malu-malu. "dia Calon Suami Wulan, Mbak!" desisnya pelan.
"Ooh, Calon Suami! pantasan perhatian banget! Aduh, adik aku udah besar yah sekarang! nggak lama lagi bakal menikah!" dan sepanjang hari itu, Ningsih selalu menggoda Wulan sehingga wajah gadis itu tak berhenti mengeluarkan semburat merah. Juna yang melihat tingkah jahil Istrinya hanya menggeleng pelan dan sesekali ikut menertawakan tingkah lucu Wulan saat malu-malu.
__ADS_1
Maaf upnya terlalu lama. Soalnya salah satu Tante aku berpulang ke Rahmatullah, jadi akhir-akhir ini sibuk banget dan jarang megang ponsel. Belum lagi kesehatan aku akhir-akhir ini sering terganggu. Biasa, faktor cuaca. Jadi, mohon dimaklumi yah๐๐