Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Ardiana Part 7


__ADS_3

Like, vote dan komentarnya jangan lupa, biar aku makin semangat! Karena dukungan kalian adalah semangatku😍😙


"Siapa ini Diana?" tanya seorang wanita yang usianya sudah senja. Dia Monika, Nenek Diana dari sebelah Ayah. Sedangkan Neneknya dari sebelah Ibu sudah meninggal beberapa tahun lalu. Kalau Kakek-kakeknya juga sudah berpulang ke Rahmatullah. Jadinya, orang tertua dan yang selalu mengatur kehidupan mereka saat ini hanya neneknya itu.


"Kenalkan, saya Ardi Nek. Pacarnya Diana" jawab Ardi lantang. semua yang berada di ruangan itu terperangah. Terlebih keluarga pria yang akan melamar Diana, wajah mereka memerah, marah karena merasa dipermalukan.


"Apa-apaan kamu Diana? Kamu mau mempermalukan keluarga kita? hah?! JAWAB!" bentak Monica. Pasalnya, pria itu adalah pilihannya. Jadi, mau ditaruh di mana mukanya jika benar tamu yang datang bersama keluarganya itu adalah pacar Diana?


Diana menatap Ardi tajam, namun pria itu terlihat santai-santai saja.


"Ar..." desisnya. Ardi menatap gadis itu dengan teduh, seolah menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Oh, Nenek tahu. Pasti pria ini orang yang kamu sewa untuk menggagalkan acara lamaran ini kan?" tuduh Monica. Ia kemudian menatap Ardi "Dibayar berapa kamu sama cucu saya? Saya bisa membayar kamu dua kali lipat dari dia, asal segera tinggalkan rumah ini"


Rahang Andra mengeras mendengar hinaan yang ditujukan untuk anaknya. Ia bermaksud menyela, namun Ardi memberikan gelengan sebagai tanda melarangnya untuk ikut campur.


"Saya bukan pria bayaran. Saya benar-benar datang ingin berniat baik melamar cucu anda. Anda bisa lihat sendiri, saya membawa kedua orang tua saya" ucap Ardi dengan tenang. Sebenarnya ia marah, hanya saja jika mereka mengandalkan emosi, semuanya bakalan kacau.


"Cih! kamu pikir saya percaya? Bisa jadi itu juga orang bayaran cucu saya!" decihnya. Dalam hati Ardi merutuki kedua orang tua Diana yang sama sekali tak membela anaknya dari tuduhan kejam sang nenek.


Monica mengambil kasar kertas itu dari tangan Ardi. Ia membuka lipatan itu dengan kasar, saat melihat nama yang tercetak di sana, ia berdecih sinis dan memandang Ardi juga orang tuanya dengan remeh.


"Kalian ini benar-benar keluarga yang memalukan yah? Lihat, bahkan dengan liciknya kalian menyerahkan kopian kartu keluarga Pak Andra Hikmawan, penanam saham terbesar di perusahaan keluarga saya. Saya jadi semakin yakin kalau ini benar-benar rencana Diana" wanita tua itu melirik sinis ke arah Diana.

__ADS_1


Ardi, Andra, Reka, Diana bahkan semua yang berada di ruangan itu terperangah. Ardi dan orang tuanya tidak tahu jika perusahaan mereka memiliki saham di perusahaan keluarga Diana. Karena selama ini, pertemuan dengan klien tidak semuanya Andra hadiri. Kadang ia hanya mengutus orang kepercayaannya saja. Ia tidak tahu kapan kerja sama mereka terjalin.


Sedangkan Diana, terdiam di tempat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada keluarganya ini selanjutnya. Rupanya Ardi adalah anak dari Andra Hikmawan. Pemilik perusahaan yang mengulurkan tangan siap membantu saat tiga tahun lalu perusahaan mereka mengalami krisis. Dan saat ini, sang Nenek sedang menghina keluarga orang tersebut.


"Oh, jadi perusahaan anda bekerja sama dengan perusahaan saya yah? bahkan saya pemilik saham terbesar di sana? Baiklah, sepertinya itu akan lebih mudah" kali ini, Andra tak dapat lagi menahan diri untuk bicara.


"Jangan sok, kamu. Saya yakin kamu bukanlah Pak Andra Hikmawan. Kamu itu hanya orang bayaran!" bantah Monica tak terima. Beno dan Sindi--orang tua Diana-- mendekat dan menenagkan wanita tua itu. Mereka takut jika yang berhadapan dengan mereka kali ini benar-benar Andra Hikmawan. Bisa-bisa keluarga mereka akan hancur dalam sekejab karena berani menghina keluarga berpengaruh itu.


"Baiklah, jika anda tak percaya. Kalau begitu, saya akan menelpon Bapak Dinata untuk mengurusnya. Jika anda tidak mengenali saya, setidaknya pasti anda mengenali Bapak Dinata bukan?" ujar Andra sambil memperlihatkan ponsel yang ada digenggamannya.


Wajah Monica memucat seketika. Dinata adalah orang utusan dan kepercayaan Andra Hikmawan. Orang yang sering menghadiri pertemuan dengan perusahaan mereka karena Andra tipe orang yang sibuk. Tubuh wanita tua itu seketika gemetar. Bahkan suaranya yang tadi terdengar keras dan berapi-api, seolah susah ia keluarkan. Ia ternyata salah memilih jalan. Dan......keluarganya ada di ambang kehancuran.

__ADS_1


Sabar, jangan tegang. lagi puasa😆


__ADS_2