Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tujuh Puluh Sembilan


__ADS_3

Bimo berlari memasuki Rumah sakit yang tadi diberi tahukan Ningsih. Wajah pria itu terlihat pucat, karena kekhawatirannya. Bahkan saking khawatirnya, Bimo lupa menanyakan di meja receptionis di mana keneradaan Ningsih. Bimo tetap berlari di koridor Rumah Sakit, ia tak peduli beberapa kali hampir menabrak orang, karena saat ini yanh di pikirannya hanya Ningsih dan Ningsih.


Bimo memperlambat laju larinya saat melihat segerombolan orang yang berada di depan sebuah ruangan. Di sana, tampak suami Ningsih dan juga keluarga gadis itu membuat kekhawatiran Bimi semakin memuncak.


Sesampainya di sana, semua mata tertuju padanya. Orang tua Tania juga Ningsih terlihat ingin membuka suara, namun Bimo lebih dulu memotong dengan menanyakan keadaan Ningsih.


"Di mana Sisi? gimana keadaan dia? dia baik-baik ajakan?" tanyanya beruntun.


"Sis..."


Bimo mendekati Juna dan menatap tajam pria itu. "Sisi kenapa? Kamu sebagai suaminya seharusnya mampu menjaga dia! Kenapa dia bisa berakhir di Rumah sakit kayak gini?" potongnya pada kalimat Juna.


Belum sempat Juna menjawab, pintu rungan di depan mereka di buka. "Kak Bimo, ayo masuk ke dalam!" Ajak Ningsih dengan santai. Ia sudah menduga keributan itu pasti gara-gara kedatangan Bimo.


Bimo mendekati Ningsih, ia memegang kedua pundak gadis itu "Kamu nggak apa-apakan Si? kamu nggak luka kan? kenapa bisa berada di sini? Kakak khawatir banget tau nggak!" desak pria itu. Juna mati-matian menahan rasa cemburunya saat melihat bagaimana Bimo mengungkapkan kekhawatirannya pada gadis itu.


Ningsih menyingkirkan tangan Bimo perlahan agar pria itu tak tersinggung. "nggak! Sisi nggak apa-apa! Tapi, saat ini seseorang membutuhkan Kak Bimo!" jelasnya.


"Si? apa maksud kamu?" Tanya Adelia bingung.

__ADS_1


"Nanti Sisi jelasin. Ceritanya panjang, yang terpenting sekarang adalah Kak Tania" ujar Ningsih. Bimo terkejut mendengar nama yang baru saja disebutkan Ningsih. Tania butuh dia? maksudnya apa? Apa yang berada di dalam sana adalah Tania? apa gadis itu sakit keras? semua pertanyaan itu bersarang di dalam otak Bimo.


Ningsih menarik tangan Bimo ke dalam ruangan itu. Lagi-lagi Bimo terkejut saat melihat di depan sana, ada seseorang yang mengisi ranjang di ruangan itu, sesekali perempuan itu meringis pelan sambil memegangi perutnya yang besar. Bahkan ia tak sadar akan kedatangan Ningsih dan Bimo.


"Maksud kamu apa Si?" tanya Bimo akhirnya. Pria itu bertanya sambil berbisik.


"Dia Kak Tania. Sedang hamil dan sebentar lagi akan melahirkan" ujar Ningsih berbisij juga.


"iya, aku tahu! Tapi apa hubungannya dengan Kakak? Bukannya harusnya suaminya di sini?"


"Kak Tania batal nikah! gara-gara mabuk-mabukkan di klub malam dan berakhir dengan tertidur bersama seorang pria. Sayangnya Kak Tania tak pernah mengatakan siapa pria itu. Sampai tadi.......ada yang mengatakan kalau laki-laki itu adalah Kakak. Sahabat sekaligus cinta monyetnya Kak Tania" jelas Ningsih.


"Kak, sekarang Kak Tania butuh Kakak. Sudah cukup sembilan bulan ini ia lalui sendirian! Sudah terlalu banyak penderitaan yang ia jalani selama ini! Sisi janji, setelah ini kita akan menemui seseorang. Biar dia yang menjelaskan tragedi malam itu yang sebenarnya!"


Bimo hanya menurut saat Ningsih menuntunnya mendekat ke arah Tania. Tania terkejut melihat siapa yang datang bersama Ningsih. Ia memandang keduanya tajam.


"kenapa kamu bawa dia Si?" tanya Tania.


"Dia berhak berada di sini. Kakak nggak usah ngelak apapun! Sisi udah nyimpulin semuanya apa yang terjadi. Jadi, Sisi harap Kakak biarin dia di sini dampingin Kakak. Ini demi anak kalian!" ujar Ningsih panjang lebar.

__ADS_1


"Tapi Si.."


"Demi anak Kakak! Setelah ini baru kita bicaran semuanya! yang terpenting saat ini, Kakak dan anak Kakak nanti akan selamat. Please, kali ini aja jangan egois" Pinta Ningsih memohon.


Tania tertegun, akhirnya wanita itu mengangguk. Ningsih beralih pada Bimo. "Tolong, yakin akan ucapan Sisi Kak! Dampingi Kak Tania!" Ningsih menghela nafas legah saat mendapat anggukan dari Bimo.


Ningsih membelai kepala Tania. "Sisi pamit ke luar! Dokter pasti bentar lagi akan datang ke mari. Kakak yang kuat, dan semangat!"


"Oh yah, Kakak juga bisa lampiasin kesakitan Kakak selama ini sama dia" sambung Ningsih berbisik dan tersenyum kecil. "Sisi pamit!" Kemudian gadis itu segera keluar dari ruangan tersebut.


"Saya mau ngecek kondisi pasien, apa pembukaannya sudah lengkap atau belum" ujar dokter yang menangani Tania pada Ningsih yang baru menutup pintu ruangan itu.


"Silahkan Dokter!" ucap Ningsih.


Kemudian gadis itu menatap seluruh anggota keluarganya yang menatapnya seolah meminta penjelasan.


Vote, like dan komennya jangan lupa.


part sebelumnya, likenya kurang. Apalagi vote sama komentarnya. Aku kan jadi sedih. Semangat nulis seketika langsung hilang, tapi aku berusaha melawan dan tetap up untuk hari ini. Jadi, jangan lupa yah tinggalkan jejaknya.

__ADS_1


__ADS_2