Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Enam Puluh Delapan


__ADS_3

"Si, selesai Mata Kuliah kita makan di Kafe depan yuk!" Ajak Wita penuh antusias membuat Ningsih mengernyit heran.


"Kok semangat amat ngajaknya? Emang di sana ada apa?"


"Aduh, peka amat deh Istrinya Kak Juna ini! Hehehe" kekeh Wita sambil memukul pelan pundak Ningsih.


Ningsih mendengus. Temannya satu ini memang rada-rada. "Di sana ada cogan tahu, Si! Pemilik Kafe itu" ujar Wita.


"Bukannya pemilik Kafe itu Ibu-ibu, Yah? Kamu halu?" Setahu Ningsih, pemilik Kafe itu adalah seorang Ibu-ibu. Dia janda satu anak, anaknya pun masih kecil sekitaran tujuh tahunan gitu.


"Issh, mana ada aku halu. Ini benaran tahu. Tuh pemilik Kafe sebelumnya, dia ngejual Kafenya untuk biaya pengobatan anaknya yang ternyata terkena penyakit Kanker Otak. Dan yang membeli itu si cogan yang aku bilang" jelas Wita antusias.


"Oooh! Terus Kak Noval mau kamu taruh di mana?" Tanya Ningsih meledek.


Wita memandang Ningsih aneh. "Kok jadi ke Kak Noval?" Tanya Wita heran.


"Yah, itu. Akhir-akhir ini kan kamu dekat sama Kak Noval. Aku pikir kalian ada something gitu"

__ADS_1


Wita memutar bola matanya saat mendengar perkataan Ningsih. "Mana ada? Lagian kita kelihatan dekatnya dari sisi mana coba? Orang aku kalau di samping dia sensi mulu" ujar Wita berapi-api.


"Tapi Kak Noval nurut loh, sama kamu Wit!" Ningsih masih tetap kekeh dengan pemikirannya, sementara Wita mendengus.


"Nurut apaan!" Gerutunya. "Udah, ah! Tadi perasaan kita bahas cogan Kafe deh. Gimana, mau kan ke sana?" Tanya Wita.


Ningsih akhirnya hanya mengangguk pasrah, membuat Wita terlonjak senang. Lagipula tak ada ruginya mereka ke sana, toh akhir-akhir ini mereka jarang pergi bersama.


Seperti kesepakatan mereka tadi, keduanya saat ini sudah berada di halaman Kafe yang bertuliskan 'Modern's Cafe' tersebut. Wita melangkah dengan antusiasnya, sedang Ningsih hanya menurut saat gadis itu menggeretnya masuk. Ningsih mendengus, emang seganteng apa sih? paling juga gantengan Juna, Pikirnya.


"Eh, eh, eh! Itu dia, Si!" Tunjuk Wita menggunakan dagunya ke arah tangga di pojok Kafe.


Ningsih mengikuti arah pandang Wita, walau dia sebenarnya tak terlalu penasaran.


Mata Ningsih berbinar melihat siapa pria itu sebenarnya. Bukan, bukan karena ketampanannya seperti perkataan Wita. Tapi.....Ningsih mengenal pria itu.


Wita tersadar saat mendengar bunyi gesekan kursi yang berasal dari sampingnya. Ia menatap Ningsih bingung karena perempuan itu mendekat ke arah si pemilik Kafe. Jangan bilang Ningsih terpesona, sampai nggak sadar kalau raganya ternyata tertarik ke arah cogan itu, pikir Wita ngaco.

__ADS_1


Sementara Ningsih, gadis itu melangkah cepat ke arah pria tadi. Dengan sengaja, ia menghalangi jalan pria tersebut.


"Nggak mengenali aku Tuan Bimo Arsena?" Tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.


Pria tadi mengerutkan alis bingung, sekaligus terkejut. Ia menatap Ningsih dengan intens, seolah berusaha menggali memori lamanya untuk menemukan wajah gadis itu yang terlihat familiar.


"Kamu......." ia tak melanjutkan ucapannya, namun membawa Ningsih ke dalam pelukannya seketika.


Ningsih mencubit lengan Bimo pelan. "Tega benget sih, lupain Sisi!" Ujarnya dengan manja. Bimo, cowok yang selalu bersama Tania dulu. Laki-laki pertama yang dekat dengannya selain Papanya, dan ayah Tania. dan tentu saja sebelum kehadiran Juna. Bimo, Cowok yang ia pikir akan berjodoh dengan Tania, tapi ternyata takdir berkata lain. Dan Bimo adalah sosok yang menjadi......cinta pertamanya.


Bimo adalah penyebab ia dulu membenci Juna, dan bersikap ketus pada pria itu. Bukan, bukan karena ia menyukai Juna. Tapi, dia merasa sakit hati karena Tania berpacaran dengan Juna, dan itu secara tak langsung berarti menyakiti Bimo yang mencintai Tania.


**Ayo, siapa yang dulu nebak kalau Sisi juga mencintai Juna sejak awal?


Double up, loh. jadi jangan lupa Like, Vote dan Komennya😊


oh ya, jangan lupa juga baca karyaku yang berjudul 'Miss Judes' tak kalah serunya loh, dari Juna dan Sisi**.

__ADS_1


__ADS_2