
Juna memperhatikan Ningsih yang sedari tadi hanya diam semenjak ia menjemput gadis itu di Kampusnya. Juna merasa ada sesuatu yang terjadi, ingin rasanya bertanya namun ia urungkan karena melihat ekspresi Ningsih yang seperti khawatir akan sesuatu.
Bahkan sampai malam hari, Ningsih tetap diam tanpa berbicara sedikitpun pada Juna. Se-di-kit-pun. Saat Juna bertanya sesuatu, Ningsih hanya menggerakkan kepalanya menggeleng atau mengangguk. Hanya itu!
Juna yang merasa sedikit kesal karena sedari tadi Ningsih mendiami dan seolah menganggapnya tak ada, akhirnya ia memilih mencekal tangan Ningsih yang bermaksud melangkah ke Kamar mereka.
"Si, ada apa sebenarnya? Cerita sama Kakak! Kakak bosan tau nggak, sedari tadi kamu mendiami Kakak terus" Ningsih memejamkan matanya sejenak sebelum menghadap pada Juna.
Ningsih sebenarnya ragu bercerita pada Juna. Walau bagaimanapun, Juna dan Noval itu sepupu. Rasanya Sangatlah tidak mungkin Ningsih menceritakan pada Juna kalau Noval bermaksud tetap mempertahankan Ningsih dan memperjuangkannya padahal ia sudah menjadi Istri Juna. Ningsih tak ingin ada perselisihan di antara keduanya. Ia juga tak ingin menjadi penyebab rusaknya hubungan persaudaraan atara Noval dan Juna, meski itu bukan karena keinginannya.
"Si?! Ada apa Hmm? Dengan kamu diam gini, Kakak merasa kamu belum bisa menerima Kakak sepenuhnya. Kamu masih ragu terbuka pada Kakak" mendengar perkataan Juna, air matanya menetes.
Ningsih menggeleng "Bukan gitu, Kak! Aku cuma....."
"cuma apa? cuma ragu?" tanya Juna menusuk.
Tanpa menjawab pertanyaan Juna, Ningsih malah menghambur ke pelukan pria itu. Namun di luar dugaan, Juna tak membalas pelukannya, membuat Ningsih semakin mengencangkan tangisnya.
"Aku kecewa sama kamu!" ucap Juna sambil melepaskan pelukan Ningsih dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ningsih diam terpaku. Ia meremas rambutnya kasar, karena benar-benar merasa bingung. Jika ia bercerita pada Juna, Ningsih yakin Juna akan marah besar pada Noval. Tapi kalau memilih diam, Juna akan menganggapnya belum sepenuhnya menerima kehadirannya.
"Apa yang harus aku lakukan?" ujarnya sendu. Ningsih terduduk di lantai dengan air matanya yang masih mengalir deras. Sedangkan di tempat lain, Juna memilih menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Sebenarnya ia tak ingin melakukan hal tadi pada Ningsih. Hanya saja hatinya terlalu kecewa karena gadis itu bermain rahasia-rahasiaan dengannya. Ia tak tega melihat Ningsih menangis, namun Juna merasa benar melakukan hal itu untuk memberi Ningsih sedikit pelajaran, setidaknya sampai gadis itu mau jujur padanya.
Mendengar langkah kaki menuju kamarnya, Juna buru-buru membaringkan badannya dan menutup matanya berpura-pura tertidur. Juna merasa seseorang menaiki ranjang, lalu tak lama sebuah tangan mengelus rambutnya dengan lembut.
__ADS_1
.....................................................
Ningsih menghela nafasnya pelan melihat Juna sudah tertidur sambil membelakangi pintu. Ia mendekat, mengelus kepala Juna dengan lembut.
"Maafin Sisi, Kak! Sisi nggak punya pilihan lain selain ngerahasiain semuanya ke Kakak. Ningsih hanya nggak mau hubungan Kakak sama Kak Noval renggang. Sisi tahu kalian sedekat apa selama ini. Dia sering menceritakan ke Sisi, saat orang tuanya sibuk akan bisnis mereka, hanya Kakak yang selalu mendukung dan memberikan perhatian padanya. Dia juga dulu cerita, Kakaklah yang membantunya waktu pindah ke kosan karena malas selalu ditinggal sendirian di rumahnya yang besar. Dia selalu mengatakan bangga memiliki Kakak di dalam hidupnya. Itulah kenapa aku takut jika hubungan kalian menjauh hanya gara-gara aku" Ningsih bercerita sendirian, sesekali matanya membayangkan saat Noval yang dengan bangga bercerita tentang Juna.
"Aku takut Kakak akan bertengkar dengan Kak Noval. Terlebih kondisi Kak Noval yang lagi emosi, membuatnya terlihat seperti orang lain" Ningsih masih setia bercerita sambil mengelus-elus kepala Juna. Ia tak peduli Juna tak mendengarnya.
"Sisi sayang sama Kakak, dan Kakak seharusnya nggak ragu akan hal itu. Tapi di sisi lain, Sisi memikirkan hubungan Kakak dengan Kak Noval nanti" air matanya kembali menetes. Jujur Ningsih sedih melihat Noval, karena walau bagaimanapun pria itu pasti sangat terluka, meski Ningsih melakukannya bukan karena sengaja.
Ningsih terkejut saat seseorang menahan tangannya yang berada di kepala Juna. Matanya membulat saat Juna bangun dari posisi tidurnya. 'jangan bilang Kak Juna pura-pura tidur' batinnya.
Juna tersenyum, akhirnya ia tahu alasan Ningsih memilih diam. Jadi tentang Noval lagi? pantas saja. Walau tak tahu persisi seperti apa yang dikatakan Noval pada Ningsih, setidaknya Jina sudah tahu garis besar penyebab sikap aneh Ningsih.
"Kakak.....Kakak..nggak tidur?" tanya Ningsih terbata-bata. Ia takut Juna mendengar semuanya.
"Kakak...dengar semuanya?"
Juna mengangguk. "Kak, Sisi harap Kakak nggak akan marah pada Kak Noval. Sisi.....takut kalian bertengkar" pinta Ningsih memohon.
"kenapa? kamu takut Kakak menghajar pipi Cowok kesayangan kamu itu?" tanya Juna sarkatik.
Ningsih menggeleng pelan. "Bukan! Bukan itu" jawab Ningsih dengan jujur.
"terus?"
__ADS_1
"Aku.....aku takut hubungan kalian menjauh. Selama ini, Kakak adalah orang yang selalu dibangga-banggakan Kak Noval. Karena hanya Kakak yang selalu di sampingnya dan selalu membantunya. Dia sangat menyayangi Kakak, dan aku yakin Kakak juga sangat menyayanginya. Aku nggak mau gara-gara aku....kalian jadi bertengkar" ia mengutarakan semua apa yang ia takutkan.
"Tapi bukannya itu wajar? aku hanya ingin mempertahankan istriku. Apa itu salah?" sanggah Juna.
Ningsih menggeleng "enggak! memang nggak salah! hanya saja..... apa kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin?"
Juna menghela nafasnya kasar. Benar apa yang dikatakan Ningsih. Mereka bisa menyelesaikan masalah ini secara baik-baik. Lagipula, ia tak mungkin tega bertengkar dan saling adu kekerasan drngan Noval yang tak lain adalah sepupu kesayangannya sendiri.
Juna begitu menyayangi Noval. Ia sudah menganggap Noval bagai saudara kandungnya, begitupun dengan orang tuanya. Mereka tak pernah membeda-bedakan kasih sayang mereka pada Juna dan Noval, Karena mereka tahu kalau Noval kekurangan kasih sayang orang tua dari semenjak ia kecil. Noval selama ini hidup dengan orang tuanya yang gila kerja, tak sedikitpun waktu tersisihkan bersama keluarga. Itulah yang membuatnya lebih memilih tinggal di kosan daripada di rumahnya yang mewah bagai istana, namun namun tak sedikitpun kehangatan di sana.
"Baiklah. Kakak akan berusaha sebisa munjin menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Tapi kamu harus janji satu hal" Ningsih menghela nafas legah setelah Juna mengiyakan permintaannya. Namun, alisnya mengerut bingung karena kalimat lelaki itu yang selanjutnya.
"apa?" tanyanya penasaran.
"kamu nggak boleh kembali tergoda sama Noval"
Ningsih tertawa mendengarnya. "Hahahaha, Kakak itu apa-apaan sih! ya enggak mungkinlah" ujarnya.
Ia mengambil tangan Juna, membawa ke dalam genggaman tangan kecilnya.
"Kak, Ningsih sudah berjanji menerima kakak. Dan perlahan Ningsih mulai mencintai Kakak. Jujur perasaan aku sama Kak Noval mungkin sedikitnya masih tersisa, tapi aku yakin semuanya akan terhapus dalam waktu yang singkat" ujarnya meyakinkan.
"Bagiku, Kakak itu bukanlah tipe orang yang sulit dicintai. Kakak bisa dengan mudah membuat orang lain jatuh ke dalam pesona Kakak" ujarnya jujur.
Juna mendengus pelan mendengarnya "terus kenapa kamu nggak jatuh cinta ke kakak dari dulu?"
__ADS_1
"karena aku sadar posisi. Mana mungkin aku mencintai pacar sepupuku sendiri" jelasnya dengan sedikit menyelipkan nada sindiran.
Akhirnya, keduanya mengobrol banyak, saling melempar candaan, saling mengejek, bahkan saling menyindir satu sama lain. melupakan bahwa tadi mereka sempat bertengkar.