Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Lima Puluh Enam


__ADS_3

Ningsih sedari tadi memperhatikan keanehan Juna. Semenjak bangun dari tidurnya, pria itu terlihat lesu dan lemas padahal hari masih sangat pagi. Bahkan saat di meja makan, Juna memandang makanan dengan tak bersemangatnya. Padahal biasanya Juna sangat bersemangat mencicipi makanan buatannya.


"Kak, Kakak kenapa? Kakak sakit?" tanya Ningsih merasa khawatir. Ia mendekat ke arah Juna, lalu menempelkan punggung tangannya ke jidat Juna.


"Astaga! Badan Kakak panas banget!" pekik Ningsih saat menyadari suhu tubuh Juna yang panas.


"Kakak nggak apa-apa kok, Dek! Udah yah, sekarang kita duduk, makan! sebentar lagi kan kelas kamu mulai, entar kamu terlambat lagi" ujar Juna. Ia menarik tangan Ningsih untuk duduk di sampingnya.


"Kakak nggak usah masuk kerja deh hari ini. Aku juga bolos aja, badan Kakak panas banget"


Juna menggeleng pelan. "nggak bisa sayang. Kakak ada meeting penting hari ini dan enggak bisa diwakili" Ningsih menghela nafas kasar. "Kak...." ujarnya memohon, namun Juna tetap menggeleng.


"Kalau Kakak makan mungkin akan segera baikan. Entar Kakak minum obat juga" Juna berusaha menenangkan Ningsih, agar gadis itu tak terlalu menghawatirkannya.


Ningsih akhirnya hanya mampu mengangguk, mengikuti permintaan Juna. "Tapi aku akan tetap bolos"


Juna menatap Ningsih tak mengerti. "kenapa?" tanya Juna.


"Aku mau ikut Kakak ke kantor. Mastiin kalau kondisi Kakak baik-baik aja" katanya dengan tegas.


Juna tersenyum, ternyata Ningsih sangat menghawatirkannya.


"Makasih sayang! tapi kamu nggak perlu bolos, Kakak benaran nggak apa-apa kok. Lagipula, kamu mau ditinggal sendirian di ruangan Kakak? kan Kakak mau meeting" bujuk Juna.

__ADS_1


"Sisi tetap ikut! enggak pakai bantahan. Sisi nggak peduli biar ditinggal sendirian, yang jelas Sisi ikut!"mendengar kalimat tak terbantahkan dari Ningsih, akhirnya Juna hanya mengangguk pasrah.


.....................................................


"Udah dibilangin dari tadi, malah ngeyel! Jadinya gini kan?!" omel Ningsih pada sang suami. Saat ini mereka berada di ruangan meeting kantor milik Juna, pria itu baru saja sadar dari pingsannya.


Tadi saat meeting, kepalanya benar-benar terasa sakit namun berusaha ditahannya. Setelah klien Juna berpamitan, tanpa bisa dicegah badannya ambruk ke lantai membuat Tino terkejut sekaligus khawatir. Dengan susah payah, Tino membopong tubuh Juna dan membaringkannya di sofa. Tak lupa ia memanggil Dokter, dan memberitahukan Ningsih yang berada di ruangan Juna.


"gimana kondisinya, Dok?" tanya Ningsih. Juna sudah sadar sebelum Dokter tersebut datang, jadi si dokter baru saja memeriksa keadaannya.


"Pak Juna nggak apa-apa Kok, Bu. Ia hanya kecapekan. Untuk Pak Juna, saya sarankan jangan terlalu memforsir tenaga untuk bekerja dengan berlebihan. Terus makan yang teratur, soalnya sesuai pemeriksaan saya, Bapak kena Magh" jelas Dokter tersebut.


Juna meringis mendengarnya. Ia memang berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat di kantor, agar ia bisa punya waktu mengantar dan menjemput Ningsih ke kampus. Juga agar ia bisa menghabiskan waktunya di rumah saat malam, tanpa terganggu dengan pekerjaan. Masalah makan, ia hanya makan dua kali sehari. yaitu hanya pagi sekali dan malam sekali. Juna hanya ingin makan bersama Ningsih, jadi siang dia tak akan makan kecuali saat Ningsih tak kuliah siang, barulah mereka akan makan bersama.


Setelah kepergian Dokter tadi, Ningsih menatap Juna tajam. Kata Dokter Juna terlalu memforsir tenaganya untuk bekerja dan apa tadi....makan yang teratur? Ia harus meminta penjelasan pada pria itu.


"ada yang mau dijelaskan?" tanya Ningsih datar. Juna menatap Ningsih dengan takut. "kenapa Dokter tadi bilang kalau Kakak terlalu memforsir tenaga untuk bekerja? sedangkan setahu Ningsih, Kakak sering bilang kalau pekerjaan Kakak itu sangat santai. Bahkan Kakak bisa menyempatkan waktu untuk mengantar jemput aku"


Juna gelagapan. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya teralihkan pada Tino yang sejak tadi dia sadar hanya diam seolah patung. Ia menatap Tino meminta bantuan. Tino menyeringai, membuat Juna memelototinya.


"Begini, Buk. Biar saya jelaskan" Ningsih menatap Tino yang tiba-tiba bersuara.


Jina menatap Tino was-was. Pasti sekertaris kampretnya ini merencanakan sesuatu.

__ADS_1


"Pak Juna itu selalu memaksakan diri mengerjakan semuanya dengan cepat dan tepat. Biar dia bisa punya waktu untuk mengantar jemput Ibu ke manapun. Dan kalau makan, dia nggak mau makan siang pas saya ajak. Katanya dia nggak mau makan kalau nggak dengan ibu" ujarnya jujur.


Ningsih terdiam, tak tahu ingin mengatakan apa. Ia bingung. Ingin marah tapi ini semua bukan salah Juna. Setidaknya kalau ada yang perlu disalahkan, itu adalah Ningsih. Karena selama ini ia tak pernah peka dengan kondisi dan pengorbanan Juna untuknya.


"Tino, bisa kamu keluar sebentar?" Tino langsung menurut karena melihat ekspresi istri bosnya yang sulit ia artikan. Tak lupa ia menutup pintu ruangan tersebut. Benar-benar sekertaris yang pengertian.


Mendengar pintu yabg ditutup, Juna bangun dari posisi berbaringnya di Sofa. Bersiap mendengarkan omelan Ningsih. Namun tanpa di duga, gadis itu malah menghambur ke pelukan Juna dan menangis dengan kencang.


Juna terlihat kebingungan, kenapa istrinya menangis? ia bertanya-tanya dalam hati. Namun ia tetap membalas pelukan Ningsih, dan mengelus rambut panjang gadis itu.


"kenapa nangis?" tanya Juna lembut.


"maafin Sisi. Sisi nggak pernah hargai Kakak selama ini, padahal pengorbanan Kakak banyak ke Sisi. Kakak bahkan bela-belain memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan dengan cepat hanya demi mengantar jemput Sisi. Kakak juga bahkan nggak mau makan kalau nggak dengan Sisi. Padahal selama ini Sisi sering makan di luar dan bersenang-senang dengan Wita tanpa menghawatirkan apa Kakak sudah makan atau belum. Maafin Sisi" Juna tersenyum.


"Nggak perlu minta maaf. Lagian, kakak seharusnya yang minta maaf ke kamu, karena tadi nggak dengarin kamu" ujarnya menyesal. Ningsih menggeleng. "nggak apa-apa. Kalau Kakak juga nggak memaksakan diri, Sisi nggak bakal tahu juga selama ini perlakuan spesial Kakak ke Sisi seperti apa. Maafin Sisi. Seharusnya Sisi lebih peka"


"udah ah, maaf-maafan mulu. Entar aja yah, nanti lebaran baru disambung" canda Juna.


Ningsih mendengus. "tapi, mulai sekarang Kakak harus janji. nggak akan lakuin hal kayak gitu lagi! Sisi juga janji, mulai besok Sisi akan buatin Kakak bekal untuk makan siang. Jadi, walau nggak makan bareng sisi, setidaknya Kakak makan makanan buatan Sisi"


Juna tersenyum senang, lalu mengangguk. Keduanya lalu kembali berpelukan. Ningsih merasa hidupnya saat ini benar-benar bahagia karena menikah dengan seorang Arjuna Putra Wibowo.


gimana? meleleh enggak lihat kemesraan mereka?

__ADS_1


jangan lupa like, vote dan komentar sebanyak-banyaknya.


__ADS_2