Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Empat Puluh Lima


__ADS_3

Juna saat ini tengah bersantai di kursi kebesarannya setelah menyelesaikan Meeting yang memakan waktu berjam-jam. Ia menghele nafas lelah, bahkan tadi dia tak sempat menjemput Ningsih dari Kampus. Ia cuma mampu mengetikkan pesan permintaan maafnya dan meminta Ningsih untuk pulang bersama Wita saja. Untung saja Ningsih mengerti dan Wita juga setuju aja. Bagaimana tidak, Wita kan masih butuh penjelasan Ningsih tentang perasaan Juna yang sejak dulu itu, Juna saja yang nggak tahu.


Ponselnya yang berdering membuat Juna membuka matanya yang tadi terpejam karena lelah. Ia melihat si pemanggil yang ternyata berasal dari nomor Mamanya.


"Assalaamu'alaikum, Nak!" Salam wanita itu di seberang sana.


"Wa'alaikumsalaam, Ma. Ada apa?" tanya Juna basa-basi. Ia yakin penyebab Mamanya menelepon karena ingin menanyakan perihal kecekaannya itu. Mama dan Papanya saat ini lagi ke luar Kota, Papanya mengecek perusahaan cabang di sana dan Mamanya tentu saja ikut.


"Mama dengar kamu kecelakaan, Nak? kronologisnya gimana sih?" Tuh kan, bener pikiran Juna.


"Iya, Juna kecelakaan. Juna kemarin bawa mobilnya kurang fokus, jadi pas di jalan Mobilnya oleng. Tapi Mama tenang aja, Juna nggak apa-apa kok, bahkan Juna sekarang udah kerja" ujarnya menjelaskan. Juna dapat mendengar suara helaan nafas dari seberang telepon, pasti Mamanya itu sedang menghela nafas legah.


"Syukurlah sayang, Mama khawatir banget pas tadi Mertua kamu ngomong sama Mama. Mama nyesal kemarin nggak hubungi kamu, maafin Mama yah"


Juna menggeleng, namun ia sadar kalau Mamanya tak akan melihat. Buru-buru ia berucap "Mama nggak usah minta maaf, lagian Mama pasti kemarin sibuk nemanin Papa di Perusahaan. Apalagi kan Juna udah nikah, masa Mama tiap waktu juga nelponin Juna" candanya di akhir kalimat.

__ADS_1


Mamanya terkekeh pelan di seberang sana. Iya juga sih, masa Juna udah nikah Mamanya tiap saat nelpon mulu, kan nggak lucu. Emangnya Juna anak SD yang perlu dikhawatirkan?


"Kamu bisa aja. Ya udah sayang, Mama cuma mau nanya itu aja. Oh yah, gimana sama Sisi? Udah ada kemajuan belum?" wanita itu bertanya kepo, membuat Juna tersenyum.


"Alhamdulillah Ma, Sisi mulai menerima aku. Bahkan sikapnya sudah tak seketus di awal pernikahan kami" jawabnya jujur. "Bahkan, Sisi sekarang udah mulai manja ke Juna Ma" ceritanya.


"Alhamdulillah, Sayang! Mama ikut senang. Ya udah, Mama matiin dulu yah. Salam buat menantu Mama. Assalaamu'alaikum"


"Iya, Ma! nanti Juna sampein. Wa'alaikumsalaam" jawabnya.


Di sepanjang jalan, jantung Juna berdetak sangat kencang. Ia membayangkan bagaimana ekspresi Istrinya itu saat akan menyambutnya nanti, mengingat ini adalah hari pertama di mana dia dan Ningsih akan mulai berusaha membangun kebahagiaan seperti keluarga yang lainnya.


Juna menepikan mobilnya sebentar saat melewati sebuah Toko Bunga. Dengan senyum yang merekah lebar, ia memasuki Toko tersebut untuk mengambil bunga yang memang sengaja ia pesan sejak tadi pagi.


Setelah sampai di rumah, ia mengetuk pintu rumahnya. Jantung semakin berdebar kencang, lebih kencang daripada di perjalanan tadi. Memang terdengar lebay, tapi begitulah kenyataan yang sekarang sedang dialami Juna.

__ADS_1


Ningsih membuka pintu Rumahnya dengan senyum yang ia pasang semanis mungkin. Ia yakin itu suaminya, dan mulai hari ini Ningsih akan mulai membiasakan diri menyambut Juna dengan senyum manis setiap pulang bekerja. Seperti apa yang selalu dilakukan Mamanya setiap Papanya pulang.


Saat pintu terbuka, keduanya saling tatap dengan senyum yang merekah lebar. Belum ada yang bergerak, karena pandangan keduanya saling terkunci satu sama lain. Hampir tiga menit mereka bertatapan, barulah Juna mulai bergerak dengan memberikan bunga yang sedari tadi ia sembunyikan di belakangnya terlebih dahulu sambil berucap "Assalaamu'alaikum, Istrinya Arjuna" ucapnya. Ningsih tersenyum malu " Wa'alaikumsalaam, Suaminya Ningsih" ujarnya meniru ucapan Juna dengan wajah memerah. Dengan tangan gemetar, ia mengambil bunga yang diberikan Juna padanya. Juna terkekeh pelan melihat tingkah Ningsih. Andai saja Ningsih tahu, Juna sebenarnya sama gugupnya dengan Ningsih. Hanya saja ia mampu mengendalikan kegugupannya itu.


Juna menarik Ningsih ke dalam pelukannya, namun sebelumnya ia mengecup kening istrinya itu.


"Hari ini.....aku benar-benar bahagia sayang" ujarnya pelan di puncak kepala Ningsih. Bahkan, tanpa sadar matanya sudah berembun.


"Aku juga bahagia, Kak. Sisi....bahagia memiliki Kak Juna" balas Ningsih yang sudah terisak. Keduanya bahkan tak sadar kalai saat ini mereka masih berada di depan pintu.


Assalaamu'alaikum, semua!


Udah so sweet belum Junanya? kalian udah baper belum?


Yuk like, vote dan komennya. biar aku makin semangat up nya.

__ADS_1


__ADS_2