Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Enam Puluh Tiga


__ADS_3

Ningsih melangkah dengan lesu ke dalam kelas. Wita hari ini tak masuk Kampus karena gadis itu merasakan kepalanya sedikit pusing. Bahkan selesai Mata Kuliah nanti, ia mengajak Ningsih menemaninya ke Rumah Sakit untuk periksa karena Orang Tuanya lagi mengunjungi rumah Neneknya di Kampung.


Waktu terasa begitu lama bagi Ningsih, karena ketidakhadiran Wita di kelas. Setidaknya jika bersama Wita, mereka bisa saling bercanda atau begosip di sela-sela Dosen menjelaskan. Hal yang sangat patut untuk tidak ditiru!


Ningsih akhirnya bisa bernafas legah, karena Mata Kuliahnya sudah berakhir. Ia mengambil Ponselnya untuk menghubungi Juna, sekedar minta izin karena tadi pagi tak sempat ia lakukan. Ia juga menghubungi Wita agar menyuruh gadis itu bersiap-siap.


Ningsih menuruni Taksi yang membawanya ke rumah Wita. "ditunggu yah Pak!" pesannya pada Sopir Taksi online tersebut.


Rumah besar milik keluarga Wita terlihat sunyi. Maklum saja, di sana hanya ada Wita serta seorang ART juga satu orang Supir Pribadinya.


Ningsih mengetuk pintu pelan, tak lama suara langkah kaki terdengar mendekat dari balik pintu.


"Eh, ada Non Ningsih. Masuk Non!" ujar Si Bibi mempersilahkan. Ningsih mengangguk sopan dan tersenyum "Witanya di mana Bi?" tanya Ningsih.


"Di kamarnya Non. Katanya tadi kepalanya pusing, langsung ke kamarnya aja Non" ujar si Bibi, Ningsih kemudian berpamitan menuju ke kamar sahabatnya itu.


Ningsih memasuki kamar Wita tanpa mengetuk, kebetulan pintunya terbuka lebar. Ia melihat Wita yang tengah siap-siap, gadis itu terlihat sedikit pucat.

__ADS_1


"Masih pusing banget, Wit?" tanya Ningsih.


Wita menoleh ke arah tempat Ningsih berdiri. "Udah lumayan Kok" jawabnya.


"apa nggak sebaiknya kita panggil Dokternya aja ke sini?" tanya Ningsih khawatir.


"nggak usah. Ayo, aku bisa kok kalau cuma sekedar naik mobil ke sana" tolak Wita.


Keduanya akhirnya pergi dengan menggunakan Taksi yang memang sengaja di suruh Ningsih untuk menunggu tadi.


.....................................................


Saat akan kembali ke tempat Wita, Ningsih melihat seseorang yang terasa familiar baginya. Itu Adelia, Ibunya Tania. Siapa yang sakit? pikirnya.


Ningsih mendekat ke arah Adelia. "Tante!" sapa Ningsih saat sampai di depan Adelia. Wanita paruh bayah itu sepertinya baru selesai menelfon seseorang.


Adelia terkejut melihat sosok yang menyapanya. "Ah, kk...kamu..ngapain Si, di sini?" tanya Adelia gugup membuat Ningsih bingung.

__ADS_1


"Nemanin Wita periksa tante. Tante sendiri ngapain? Siapa yang sakit?" tanya Ningsih.


Adelia gelagapan tak tahu ingin menjawab apa. "anu.....itu..emm, anu...."


"Mama! ayok, aku udah selesai!" tiba-tiba suara tersebut mengalihkan tatapan keduanya.


Adelia menarik nafas tegang. Sedangkan Ningsih membulatkan matanya melihat siapa pemilik suara tadi.


Ningsih benar-benar dibuat terkejut dengan seseorang di depannya ini. Seorang perempuan dengan perut yang membesar. Sebenarnya Ningsih tak akan sampai seterkejut ini jika yang di hadapannya bukanlah Tania. Wanita yang hampir menikah dengan Suaminya namun kabur di hari pernikahan.


"kkkak Ttaniaa?!" gumamnya terbata.


Tania pun tak kalah terkejut dengan Ningsih. Wanita itu juga mematung karena tak menyangka akan kehadiran Ningsih.


Tania tersadar, secepat kilat ia menarik tangan Adelia dan berlari meninggalkan Ningsih. Sedangkan Ningsih hanya mampu terdiam di tempatnya karena syok, terlebih saat melihat perut Tania yang sudah membesar. Banyak pikiran buruk yang menari di otaknya. 'apa jangan-jangan....Kak Juna dan Kak Tania...' Akhirnya gadis itu terduduk di lantai Rumah Sakit. Air matanya sudah menetes. Entah kenapa, sekarang ia ketakutan. Takut jika yang dipikirkannya adalah kebenaran, dan itu berarti....Rumah Tangganya berada di ambang kehancuran.


**Jangan tegang dong😀

__ADS_1


like, vote dan komennya jangan lupa, oke**?


__ADS_2